Categories Opini

Belajar dari Kisah Aurelie Moeremas,Refleksi Relasi Sehat bagi Remaja

ILUSTRASI OPINI: Relasi yang sehat tumbuh dari kesadaran diri, komunikasi, dan dukungan emosional yang saling menguatkan. (FOTO: pinterest.com)

 

        Di tengah arus media sosial yang kian cepat, relasi personal terutama yang dialami remaja sering kali dipersepsikan secara sederhana selama ada perhatian, berarti ada cinta dan kasih sayang. Namun, tidak sesimpel itu banyak remaja salah mengartikanya, kisah nyata yang ditulis aktris Aurelie Moeremans dalam memoarnya justru menunjukkan sebaliknya. Perhatian yang tampak tulus dan baik bisa berubah menjadi jerat dan masalah yang perlahan mencuri ruang aman, suara, hak, kebebasan bahkan masa depan seorang remaja.

        Remaja berada pada fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, validasi emosional dan rasa penasaran yang tinggi menjadi kebutuhan yang wajar. Namun, kebutuhan ini pula yang kerap dimanfaatkan oleh pihak yang lebih dewasa atau segelintir orang untuk membangun relasi yang tidak setara. Pola manipulasi emosional atau grooming sering dimulai dengan pendekatan yang tampak protektif, penuh empati, dan seolah menjadi satu-satunya tempat bersandar. Perlahan, batasan dikaburkan, kritik dari lingkungan dianggap ancaman, dan korban diarahkan untuk bergantung sepenuhnya.

        Yang sering tidak luput disadari, relasi tidak sehat jarang hadir dalam bentuk kekerasan yang kasat mata sejak awal. Ia tumbuh dari ketimpangan kuasa usia, pengalaman, dan kendali emosional yang membuat korban sulit membedakan antara kasih sayang dan kontrol serta mencuci otak atau mendoktrin. Dalam kondisi ini, menyalahkan korban bukan hanya keliru, tetapi juga memperparah dampak Kesehatan dan psikologis yang ditanggungnya.

        Sayangnya, respons sosial terhadap kasus-kasus semacam ini masih problematis. Ketika korban bersuara, pertanyaan yang muncul sering kali bukan “apa yang salah dalam relasi itu?”, melainkan “mengapa ia tidak menolak sejak awal?”. Perspective ini menunjukkan minimnya literasi relasi sehat di kalangan masyarakat kita. Padahal, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pihak yang menyalahgunakan kuasa dan kepercayaan.

       Kisah yang dibagikan Aurelie seharusnya dibaca sebagai pengingat kolektif. Remaja perlu dibekali pemahaman bahwa relasi sehat tidak menuntut isolasi, tidak mengharuskan rahasia yang menekan, dan tidak membuat seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Di sisi lain, sekolah dan keluarga memegang peran penting dalam menyediakan ruang dialog yang aman, tanpa stigma, agar remaja berani bercerita ketika merasakan ketidaknyamanan.

        Di era digital, literasi emosional dan pendidikan tentang relasi sehat sama pentingnya dengan prestasi akademik. Remaja berhak merasa aman dalam proses tumbuhnya. Mereka berhak mengatakan tidak, berhak ragu, dan berhak pergi dari relasi yang melukai meski dibungkus dengan kata cinta.

        Pada akhirnya, perhatian yang sejati tidak pernah menghilangkan kebebasan. Jika sebuah relasi membuat seseorang kehilangan suara, harga diri, dan rasa aman, maka di sanalah kita perlu berhenti dan bertanya: apakah itu benar-benar cinta, atau justru bentuk lain dari kekuasaan?

(Lena Manurung)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *