Categories Opini

Ketika Hiburan Menjadi Gaya Hidup

 Ilustrasi anak muda yang menikmati hiburan di tengah maraknya budaya konser dan gaya hidup di media sosial. (FOTO: Gemini AI)

Dulu, hiburan adalah cara untuk melepas penat. Setelah kuliah, bekerja, atau menjalani rutinitas sehari-hari, seseorang mencari hiburan untuk sekadar bersantai. Namun, sekarang hiburan perlahan berubah menjadi bagian dari gaya hidup. Konser yang sedang ramai, tempat nongkrong yang viral, perjalanan ke luar kota, hingga berbagai acara hiburan tidak lagi hanya dilakukan untuk bersenang-senang. Semua itu juga menjadi pengalaman yang ingin dimiliki, dibagikan, bahkan ditunjukkan kepada orang lain.

Fenomena tersebut paling mudah dilihat dari maraknya konser musik dan budaya war tiket. Banyak orang rela menabung, mengantre secara daring, bahkan bepergian ke luar kota demi melihat artis kesayangan. Tidak sedikit pula yang merasa takut tertinggal ketika teman-temannya sudah memiliki tiket atau mengikuti tren hiburan tertentu.

Di sinilah hiburan mulai mengalami perubahan makna. Hiburan yang seharusnya menjadi pelengkap kehidupan perlahan dapat berubah menjadi bagian yang menentukan gaya hidup seseorang.

Bukan berarti menikmati hiburan adalah sesuatu yang salah. Justru manusia membutuhkan hiburan. Di tengah tugas kuliah, pekerjaan, tuntutan keluarga, dan berbagai persoalan kehidupan, seseorang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melakukan sesuatu yang menyenangkan. Persoalannya muncul ketika hiburan tidak lagi dinikmati sesuai kemampuan, tetapi diikuti karena tekanan sosial dan rasa takut tertinggal.

Data survei Jakpat dalam Music Concert Trends & Fan Behaviors 2026 menunjukkan bahwa 54 persen responden Gen Z menyebut mencari hiburan sebagai alasan menghadiri konser. Data tersebut memperlihatkan bahwa konser memang memiliki tempat penting sebagai sarana rekreasi bagi generasi muda.

Namun, konser saat ini tidak hanya berbicara mengenai musik. Ada pengalaman yang ingin dirasakan, kenangan yang ingin dibuat, serta momen yang ingin dibagikan. Seseorang tidak hanya membeli tiket untuk mendengarkan lagu, tetapi juga membeli sebuah pengalaman.

Hal tersebut semakin terlihat dari besarnya antusiasme terhadap konser artis internasional. Dalam penjualan tiket konser BTS di Jakarta pada 2026, misalnya, lebih dari 960 ribu orang tercatat berada dalam antrean daring untuk penjualan tiket salah satu hari pertunjukan.

Angka tersebut tentu tidak berarti semua orang yang mengantre akan membeli tiket. Namun, besarnya antrean menunjukkan bahwa pengalaman hiburan tertentu memiliki daya tarik yang sangat kuat.

Masalahnya, harga sebuah hiburan tidak berhenti pada harga tiket.

Bagi mereka yang berasal dari luar kota, ada biaya transportasi, penginapan, makanan, hingga kebutuhan lain selama perjalanan. Belum lagi merchandise yang sering kali menjadi bagian dari pengalaman penggemar. Jika tidak diperhitungkan dengan baik, hiburan yang awalnya hanya ingin dinikmati beberapa jam dapat menghasilkan pengeluaran yang cukup besar.

Di sinilah kemampuan mengatur prioritas menjadi penting.

Seseorang boleh saja menabung untuk membeli tiket konser. Bahkan, mengalokasikan uang untuk hiburan merupakan hal yang wajar. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang memaksakan diri hanya karena tidak ingin tertinggal dari orang lain.

Media sosial turut memperkuat keadaan tersebut. Ketika seseorang melihat temannya mengunggah foto dari konser, ia tidak hanya melihat sebuah pertunjukan. Ia melihat pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Ketika melihat banyak orang membicarakan sebuah acara, muncul keinginan untuk ikut menjadi bagian dari pengalaman tersebut.

Akhirnya, muncul pertanyaan yang sederhana: apakah kita benar-benar ingin mengikutinya, atau hanya takut ketinggalan?

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi cukup penting.

Jika seseorang membeli tiket karena memang menyukai artis tersebut dan sudah mempersiapkan uangnya, keputusan itu merupakan bagian dari pilihan pribadi. Namun, jika tiket dibeli karena semua teman memilikinya, takut dianggap tidak mengikuti tren, atau khawatir tidak bisa ikut dalam percakapan, keputusan tersebut perlu dipikirkan kembali.

Fenomena ini juga berkaitan dengan fear of missing out atau FoMO, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Media sosial membuat perasaan tersebut semakin mudah muncul karena seseorang terus melihat aktivitas orang lain.

Masalahnya, media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil kehidupan.

Kita melihat teman pergi ke konser, tetapi tidak tahu berapa lama ia menabung. Kita melihat seseorang berlibur, tetapi tidak tahu bagaimana kondisi keuangannya setelah perjalanan. Kita melihat orang membeli merchandise, tetapi tidak tahu apakah pembelian tersebut sudah masuk dalam anggaran atau justru mengorbankan kebutuhan lain.

Karena itu, membandingkan kehidupan kita dengan apa yang terlihat di media sosial adalah sesuatu yang tidak selalu adil.

Hiburan juga tidak seharusnya berubah menjadi perlombaan. Dalam komunitas penggemar, misalnya, seseorang tidak perlu membuktikan kecintaannya dengan membeli semua album, menghadiri semua konser, atau mengoleksi seluruh merchandise. Menjadi penggemar seharusnya tetap bisa dilakukan sesuai kemampuan.

Hal yang sama berlaku untuk gaya hidup secara umum.

Tidak semua tempat yang sedang viral harus didatangi. Tidak semua konser harus ditonton. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua pengalaman harus dibagikan ke media sosial.

Kita perlu memiliki kemampuan untuk menentukan mana yang memang kita inginkan dan mana yang hanya muncul karena lingkungan.

Pada akhirnya, hiburan memang dibutuhkan. Hidup yang hanya diisi pekerjaan, tugas, dan kewajiban tentu akan melelahkan. Konser, film, musik, perjalanan, gim, olahraga, maupun sekadar berkumpul bersama teman dapat menjadi cara untuk mengembalikan energi.

Namun, hiburan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan, bukan menguasai kehidupan.

Kita boleh mengeluarkan uang untuk sesuatu yang membuat bahagia. Kita boleh menonton konser artis kesayangan. Kita boleh mengikuti komunitas dan menikmati tren yang sedang berlangsung. Akan tetapi, semua itu perlu disesuaikan dengan kemampuan dan prioritas.

Jangan sampai demi menikmati beberapa jam hiburan, kebutuhan penting justru dikorbankan.

Lebih jauh lagi, kebahagiaan tidak seharusnya selalu diukur dari pengalaman yang mahal atau sedang populer. Berkumpul bersama keluarga, berbicara dengan teman, membaca buku, menonton film di rumah, atau menikmati waktu sendiri juga merupakan bentuk hiburan yang tidak kalah berarti.

Yang terpenting bukan seberapa mahal hiburan yang kita nikmati, melainkan apakah kita menikmatinya tanpa kehilangan kendali.

Pada akhirnya, hiburan memang boleh menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi jangan sampai gaya hidup membuat kita terus mengejar hiburan. Tidak semua yang viral harus dimiliki dan tidak semua yang dilakukan orang lain harus kita ikuti. Kita perlu belajar menikmati sesuatu karena memang kita menginginkannya, bukan karena takut dianggap tertinggal.

Sebab, tujuan hiburan seharusnya sederhana: membuat kita menikmati hidup, bukan membuat hidup kita semakin terbebani.

(Artha Manik)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *