ILUSTRASI Cerpen “Luka dan Maaf Kirana”. (FOTO : Pinterest.com)
Bab 1: Jakarta Malam Itu
Malam di Jakarta tidak pernah benar-benar menjanjikan istirahat. Di bawah langit yang pekat oleh jelaga pabrik dan uap aspal, suara klakson kendaraan di jalan layang bersahut-sahutan seperti jeritan binatang buas yang kelaparan. Bagi Kirana, kota ini adalah sebuah mesin penggiling besar, dan manusia hanyalah remah-remah yang siap digilas.
Di sudut sebuah gang sempit yang diapit dinding-dinding beton kusam, Kirana yang baru berusia dua belas tahun duduk bersila di atas selembar koran bekas. Tangannya yang dekil menembus tumpukan sisa dagangan hari itu. Malam telah larut, larut sekali hingga dinginnya mampu menembus baju kaus tipis yang sudah bolong di bagian bahu. Ia adalah anak panti asuhan, jenis manusia yang keberadaannya di dunia ini tidak pernah dicatat oleh siapa pun, kecuali oleh rasa lapar yang selalu datang tepat waktu.
Tiba-tiba, sunyinya malam pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Suara sepatu yang beradu kasar dengan kerikil, disusul napas yang memburu memotong hening.
“Tangkap dia! Jangan biarkan lolos! Utang bapaknya harus lunas malam ini!”
Teriakan-teriakan berat itu menggema, memantul di antara dinding gang. Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki tersungkur tepat di depan tempat Kirana duduk. Anak itu berumur sekitar lima belas tahun. Wajahnya lebam, sudut bibirnya pecah dan meneteskan darah segar yang langsung diserap oleh debu jalanan. Matanya liar oleh ketakutan yang teramat sangat—jenis ketakutan yang biasa dilihat Kirana pada tikus-tikus selokan yang terpojok.
Tanpa berpikir panjang, digerakkan oleh sejenis naluri purba sesama makhluk yang terbuang, Kirana menarik lengan anak laki-laki itu. “Ke sini! Cepat!” bisiknya setengah tertahan.
Kirana menuntunnya masuk ke celah sempit di antara dua bak sampah besar yang tertutup tumpukan terpal bekas. Di ruang yang pengap dan bau itu, mereka saling mengeratkan tubuh. Kirana bisa merasakan detak jantung anak laki-laki itu berhamburan, cepat dan keras seperti ketukan palu. Beberapa detik kemudian, empat pria berbadan tegap lewat dengan langkah berat, menyumpah-nyumpah seraya membawa balok kayu di tangan mereka.
Setelah langkah-langkah itu menjauh dan hilang ditelan bising jalan raya, anak laki-laki itu merosot ke tanah. Air matanya jatuh, bercampur dengan darah kering di pipinya.
“Nama… namaku Malik,” bisiknya dengan suara bergetar. “Mereka… mereka sudah membunuh ibuku. Ayahku kabur, meninggalkan utang yang tidak tahu berapa jumlahnya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”
Kirana menatap Malik. Di panti asuhan, Kirana belajar bahwa dunia ini adalah tempat yang egois. Namun malam itu, melihat kerapuhan Malik, sesuatu di dada Kirana melunak. Ia mengulurkan tangannya yang kecil, mengusap darah di pipi Malik dengan ujung bajunya yang kotor.
“Aku Kirana. Aku juga tidak punya siapa-siapa,” jawab Kirana dengan nada datar namun tegap. “Mulai malam ini, kita punya satu sama lain. Kau kakakku, dan aku adikmu. Kita akan hidup.”
Sejak malam yang berlumur darah dan keringat itu, nasib mereka berdua terikat. Mereka tidak kembali ke panti asuhan. Kamar sewaan berukuran tiga kali tiga meter di sebuah rumah susun pinggiran kota menjadi istana mereka. Dindingnya berjamur, atapnya bocor setiap kali hujan turun, namun di sanalah mereka meletakkan harapan.
Malik menjadi pelindung yang tangguh bagi Kirana di tahun-tahun awal. Ia bekerja apa saja; menjadi kuli angkut pasar, menyemir sepatu, hingga memilah sampah. Setiap kali Kirana diganggu oleh preman pasar, Malik akan berdiri paling depan, membiarkan tubuhnya sendiri yang menerima pukulan asal Kirana tetap aman. Bagi Kirana, Malik adalah tiang tengah rumahnya. Lelaki yang membuatnya percaya bahwa di dunia yang sekejam ini, Tuhan masih menyisakan sedikit kebaikan untuknya.
Namun, kota ini punya cara sendiri untuk meracuni manusia. Kota tidak hanya merenggut tenaga, ia juga merenggut jiwa.
Waktu bergulir dengan angkuh. Sebelas tahun berlalu, membawa mereka pada usia dewasa yang melelahkan. Kirana tumbuh menjadi wanita berusia dua puluh tiga tahun dengan gurat ketabahan yang terlalu dini di wajahnya. Sementara Malik, di usianya yang kedua puluh enam, mulai kehilangan binar matanya. Beban hidup yang bertumpuk, keputusasaan yang merayap lambat, dan pergaulan malam yang kelam perlahan-lahan mengubah Malik menjadi orang asing.
Malam itu, angin berembus lebih dingin dari biasanya di koridor rumah susun. Kirana baru saja pulang dari pabrik garmen, bahunya pegal dan kepalanya berdenyut-denyut karena kelelahan. Saat ia melangkah di lorong sunyi menuju kamar mereka, langkahnya terhenti. Pintu kamar sengaja dibiarkan sedikit terbuka, menyisakan seberkas cahaya temaram dan suara-suara berat dari dalam.
Kirana mendekat perlahan, menahan napasnya.
“Jadi, kesepakatannya sah? Si Malik menyerahkan adiknya malam ini?” suara seorang pria terdengar kasar, disusul tawa renyah yang membuat bulu kuduk Kirana berdiri.
“Ya. Si keparat itu bilang adiknya akan pulang jam segini. Dia sudah ambil uang mukanya untuk bayar utang judi, lalu kabur entah ke mana. Sialan, dia benar-benar menjual adiknya sendiri demi selamat.”
Mendengar kalimat itu, jantung Kirana seperti dihantam godam raksasa. Kak Malik… menjualku? Seluruh badannya gemetar hebat. Rasa percaya yang ia tenun selama belasan tahun putus dalam satu embusan napas. Kamar itu kosong, tidak ada Malik di dalam. Yang ada hanyalah empat pria asing yang siap menerkamnya.
Sebelum Kirana sempat membalikkan badan untuk lari, pintu terbuka lebar. Salah satu pria melihatnya.
“Ini dia orangnya!”
Cengkeraman kasar mendarat di pergelangan tangan Kirana. Ia diseret paksa masuk ke dalam kamar. Di tengah keputusasaan yang mencekik, Kirana tidak tahu bahwa di ujung lorong rumah susun yang gelap, di balik bayang-bayang pilar beton, Malik sebenarnya berdiri di sana.
Malik melihat adiknya disergap. Ia mendengar jeritan Kirana yang memanggil namanya. Namun ketakutan menguasai hatinya. Pria yang belasan tahun lalu bersumpah akan melindungi Kirana itu kini justru membalikkan badan. Dengan langkah gemetar dan kepala tertunduk, Malik melangkah pergi meninggalkan lorong, berpura-pura tidak pernah melihat apa pun, membiarkan adiknya menghadapi neraka sendirian.
Di dalam kamar, Kirana bertarung seperti binatang buru-buru yang terdesak. Ia menggigit lengan pria yang memegangnya, menendang, dan mencakar dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja.
“Keparat! Perempuan ini melawan!”
Sebuah hantaman brutal mendarat tepat di perut Kirana. Rasa sakit yang teramat sangat membuat seluruh organ dalamnya seolah remuk, membuatnya tertekuk. Tak cukup sampai di situ, seorang pria lain mencengkeram rambutnya dengan kasar dan membanting kepala Kirana ke sudut lemari kayu yang tajam.
BRAK!
Dunia di mata Kirana mendadak berputar ganjil. Suara jeritannya sendiri surut menjadi dengungan panjang yang memekakkan telinga. Pandangannya perlahan menggelap, menyisakan kebingungan dan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya. Darah hangat mulai mengalir dari pelipis, membasahi lantai semen yang dingin, sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar direnggut oleh kegelapan yang sunyi.
Bab 2: Surga Kecil dari Rahim yang Senyap
Putih. Warna pertama yang menyambut kesadaran Kirana berbulan-bulan setelah malam jahanam itu adalah warna putih langit-langit rumah sakit yang steril. Namun, warna putih itu tidak membawa kedamaian, melainkan kekosongan yang absolut.
Ketika ia terbangun dengan perban membungkus kepalanya, Malik ada di sana, menangis tersedu-sedu di tepi ranjang. Kakaknya merajut sebuah cerita bohong yang rapi: malam itu rumah susun mereka dirampok, dan Malik terlambat pulang untuk menyelamatkannya. Kirana hanya diam, menatap wajah Malik dengan sepasang mata yang kehilangan sinarnya. Ia tidak membantah. Ia membiarkan kebohongan itu hidup di antara mereka, seperti membiarkan bangkai membusuk di bawah karpet. Ia terlalu lelah untuk berteriak bahwa ia telah mendengar segalanya di balik pintu malam itu.
Kerusakan fisik yang diderita Kirana teramat parah. Benturan di kepalanya menyisakan penyumbatan saraf otak yang laten—sebuah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak berupa sakit kepala hebat yang melumpuhkan. Namun, luka paling mematikan berada di bagian bawah perutnya. Dokter terpaksa mengangkat rahimnya yang hancur akibat hantaman brutal malam itu. Di usianya yang baru dua puluh tiga tahun, Kirana divonis menjadi pohon yang mandul. Ia tidak akan pernah bisa melahirkan kehidupan. Rumah di dalam tubuhnya telah runtuh sebelum sempat dihuni.
Rasa bersalah yang teramat besar membuat Malik tidak sanggup lagi menatap sepasang mata Kirana yang sedingin es. Tak lama setelah Kirana keluar dari rumah sakit, dengan alasan tuntutan pekerjaan yang berjauhan, mereka memutuskan untuk tidak lagi tinggal bersama. Malik pindah ke pinggiran kota yang lain, sementara Kirana tetap bertahan di jantung kota, menyewa sebuah kamar kecil yang sepi, menanggung seluruh kepahitan hidupnya seorang diri.
Tujuh tahun berlalu seperti air yang merayap di atas batu kusam. Kirana kini berusia tiga puluh tahun. Ia bekerja sebagai pelipat kantong semen di sebuah pabrik pengolahan kertas—pekerjaan kasar yang menguras tenaga dari matahari terbit hingga malam runtuh. Tubuhnya semakin kurus, jalannya sedikit lambat karena sisa cedera masa lalu, dan di dalam tas kainnya selalu tersimpan obat pereda nyeri berdosis tinggi untuk meredam denyut di kepalanya.
Namun, di tengah hidupnya yang gersang dan sunyi, ada satu alasan yang membuat Kirana menolak untuk menyerah pada takdir. Alasan itu bernama Alifa.
Alifa adalah anak perempuan Malik yang kini berusia empat tahun. Malik telah menikah dengan seorang wanita sederhana, dan entah karena dorongan mistis apa, anak itu lahir dengan mata yang teramat mirip dengan mata Kirana waktu kecil: bulat, jernih, dan penuh rasa ingin tahu.
Sejak pertama kali Malik membawa bayi itu ke hadapannya, sesuatu yang beku di dada Kirana mencair. Naluri keibuannya yang sempat diamputasi paksa, mendadak bangkit dan menumpah seluruh kuasanya kepada Alifa.
Setiap akhir pekan, Kirana akan menempuh perjalanan dua jam menaiki bus kota yang pengap hanya untuk mengunjungi keponakannya. Di rumah kecil Malik, Kirana melupakan statusnya sebagai buruh pabrik yang malang. Ia menjelma menjadi sosok lain.
“Ami! Ami Kirana datang!”
Suara cempreng Alifa menyambutnya di pintu pagar yang berkarat. Anak kecil itu berlari kecil dan langsung menghambur ke pelukan Kirana. Panggilan “Ami”—sebuah singkatan manis untuk Aunty Mami yang diajarkan oleh istri Malik—adalah kata paling indah yang pernah didengar Kirana sepanjang hidupnya. Kata itu adalah pengganti dari kata “Ibu” yang telah dirampok darinya.
“Lihat Ami bawa apa untuk Alifa,” Kirana tersenyum, senyuman paling tulus yang hanya ia simpan untuk anak ini. Dari dalam tasnya yang usang, ia mengeluarkan sebuah boneka rajut kecil berbentuk kelinci dan sekotak susu manis.
Kirana membelinya dengan cara memotong jatah makannya sendiri selama satu minggu. Baginya, rasa lapar di perut tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa lapar di jiwanya akan kehadiran seorang anak. Ia memeluk Alifa erat-erat, menghirup aroma bedak bayi dari leher anak itu, seolah-olah dengan cara itulah ia mengasuh kesunyian yang selama ini mengerak di dadanya.
Di ambang pintu dapur, Malik berdiri menyaksikan pemandangan itu. Alih-alih merasa bahagia, dada Malik justru seperti dihunjam ribuan jarum. Setiap kali ia melihat Kirana tertawa bersama Alifa, setiap kali ia mendengar anaknya memanggil Kirana dengan sebutan “Ami”, rasa bersalah dari masa lalu menguliti harga dirinya hidup-hidup.
Malik tahu, wanita yang sedang memeluk anaknya dengan begitu tulus itu adalah wanita yang sama yang ia biarkan hancur di lantai semen tujuh tahun lalu. Rahim yang seharusnya melahirkan sepupu untuk Alifa telah tiada karena kebiadahnnya. Kebaikan dan ketulusan Kirana kepada anaknya justru menjadi siksaan batin yang paling kejam bagi Malik. Itu adalah hukuman yang berjalan lambat, yang membuat Malik selalu mengalihkan pandangan setiap kali sepasang mata adiknya tak sengaja menatapnya.
“Kau terlalu memanjakannya, Kirana. Uangmu lebih baik kau simpan untuk berobat kepalamu,” ujar Malik dengan suara parau, mencoba memecah keheningan di ruang tamu.
Kirana tidak menoleh pada Malik. Ia tetap merapikan rambut Alifa yang berantakan dengan jemarinya yang kasar.
“Uang bisa dicari, Kak,” jawab Kirana, datar namun dingin. “Tapi kebahagiaan Ami tidak bisa dibeli.”
Ada penekanan yang ganjil pada kata “Ami” yang diucapkannya. Kirana tahu, dan Malik tahu, bahwa ada dinding kaca yang tebal dan tak kasat mata di antara mereka berdua. Mereka berbicara seperti kakak dan adik, namun di balik itu, ada rahasia berdarah yang menolak untuk mati, menunggu giliran untuk menagih janji.
Sangat menyakitkan. Kontras antara ketulusan Kirana dan rasa bersalah Malik yang membusuk di dalam dada adalah inti dari kepahitan cerita ini. Mari kita selesaikan kisah ini dengan bab terakhir yang paling emosional.
Bab 3: Surat dari Masa Lalu yang Terang
Waktu tidak pernah ramah pada tubuh yang lelah. Memasuki usia tiga puluh tiga tahun, tubuh Kirana menyerah pada ritme mesin pabrik garmen dan beban batin yang dipikulnya sendiri. Sakit di kepalanya, yang selama sepuluh tahun ini hanya berupa denyutan laten, tiba-tiba datang seperti badai.
Sore itu, di tengah riuh mesin jahit, Kirana ambruk. Pandangannya menggelap seketika, dan tubuh kurusnya terhempas ke lantai pabrik yang berdebu. Ketika ia membuka mata kembali, dunia di sekitarnya telah berubah menjadi dinding-dinding putih rumah sakit kota yang dingin. Aroma obat-obatan yang menyengat langsung menusuk hidungnya, membangkitkan memori jahanam sepuluh tahun silam.
Dokter paruh baya yang menanganinya menatap Malik dengan gurat wajah yang berat. Penyumbatan saraf di otak Kirana sudah mencapai titik kritis akibat kelelahan kronis dan tekanan darah yang tak terkontrol.
“Satu-satunya jalan adalah operasi darurat,” ujar dokter itu pelan. “Namun, peluangnya sangat kecil. Fisik pasien terlalu lemah.”
Malik terduduk di kursi koridor, menjambret rambutnya sendiri dengan frustrasi. Sementara itu, di dalam bangsal yang sunyi, Kirana berbaring dengan berbagai selang menancap di tubuhnya. Napasnya pendek-pendek. Sepasang matanya yang biasa tegar kini meredup, seperti lilin yang kehabisan sumbu.
Dua jam sebelum jadwal operasi dimulai, Kirana menggerakkan jarinya yang pucat, memberi isyarat agar Malik mendekat. Istri Malik sedang pulang untuk menjaga Alifa, meninggalkan kedua kakak beradik itu dalam kesunyian yang mencekik.
Malik melangkah mendekat, lututnya gemetar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap adiknya yang tampak begitu rapuh.
“Kak Malik…” bisik Kirana. Suaranya serak, nyaris hilang di antara deru mesin pendeteksi jantung.
“Ya, Dek? Kakak di sini. Kau harus kuat, ya? Setelah operasi ini, kita akan pulang. Alifa menunggumu. Dia merindukan Aminya,” air mata Malik mulai berlinang, rasa takut kehilangan mencengkeram dadanya.
Kirana tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang teramat tenang, namun menyimpan kesedihan yang mampu meruntuhkan langit. Dari bawah bantalnya yang keras, dengan sisa tenaga yang ada, Kirana mengeluarkan selembar amplop kusam yang sudut-sudutnya sudah menguning. Ia meletakkannya di atas telapak tangan Malik.
“Untuk Alifa… jika nanti aku tidak bangun lagi,” kata Kirana lirih. Ia menatap langit-langit kamar, lalu pandangannya beralih, mengunci sepasang mata Malik dengan tatapan yang teramat dalam. “Dan untukmu, Kak.”
Malik meremas amplop itu. “Apa ini, Kirana?”
“Sepuluh tahun lalu…” Kirana menjeda kalimatnya, mengambil napas yang terasa begitu berat di dadanya. “Di lorong rusun nomor empat. Aku tidak pingsan secepat yang kau kira, Kak.”
Jantung Malik berhenti berdetak sesaat. Seluruh darah di tubuhnya rasanya mendadak surut.
“Malam itu, saat mereka memukulku… aku melihat bayanganmu di ujung lorong. Aku melihat jaket jansport tua yang biasa kau pakai. Aku mendengar langkah sepatumu yang berlari menjauh, meninggalkan aku yang berdarah di dalam kamar,” Kirana berbicara tanpa nada amarah. Suaranya datar, dingin, namun penuh dengan kepasrahan yang absolut. “Aku tahu semuanya, Kak. Aku tahu kau yang menjualku malam itu untuk membayar judi.”
DEGG!
Dunia Malik runtuh seketika. Kebohongan yang ia rawat dengan rapi selama sepuluh tahun hancur berkeping-keping di lantai rumah sakit. Wajahnya memucat, napasnya memburu, dan tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Kirana dengan tatapan tidak percaya sekaligus ketakutan yang teramat sangat.
“Ki… Kirana… tidak, Dek… Kakak…” Malik terbata-bata, lidahnya kelu.
“Aku bertahan hidup selama sepuluh tahun ini bukan karena aku memercayai kebohonganmu,” lanjut Kirana, sebutir air mata akhirnya lolos dari sudut matanya, membasahi bantal putih. “Aku bertahan karena aku menyayangi Alifa. Anakmu adalah surga kecil untuk rahimku yang senyap. Aku sudah memaafkanmu, Kak… sejak hari pertama Alifa lahir dan memanggilku Ami. Aku melepaskan segalanya hari ini.”
“Nggaaak, Kirana! Maafkan Kakak! Maaf!!!”
Tangis Malik pecah seketika. Lelaki dewasa itu merosot dari kursi, berlutut di lantai semen rumah sakit, dan menggenggam kaki Kirana yang dingin. Ia menangis meraung-raung, meluapkan seluruh rasa bersalah, kehinaan, dan dosa besar yang selama ini menggerogoti jiwanya. Topeng kakaknya yang tegar hancur total. Ia bersujud, mencium kaki adiknya yang telah ia hancurkan masa depannya.
“Kakak egois, Kakak bajingan! Tolong jangan pergi, Kirana! Hukum Kakak, maki Kakak, tapi jangan tinggalkan Kakak seperti ini! Jangan beri Kakak pengampunan ini, ini terlalu sakit!” Malik memohon dengan suara serak, air matanya membasahi kain seprai rumah sakit.
Namun, Kirana tidak membalas lagi. Ia hanya menatap Malik yang menangis di kakinya dengan pandangan yang perlahan mengabur. Beban yang selama sepuluh tahun ini mengikat pundaknya, malam itu resmi ia lepaskan. Napas Kirana mengalun semakin lambat, semakin tipis, hingga akhirnya…
TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP…
Suara panjang dari mesin monitor jantung memotong kalimat memohon Malik. Grafis di layar berubah menjadi garis lurus yang kaku.
Tangan Kirana yang berada di genggaman Malik mendadak lemas dan kehilangan kehangatannya. Wanita itu pergi sebelum sempat menyentuh meja operasi. Ia pergi dengan membawa seluruh kesunyian hidupnya, meninggalkan dunia yang terlalu kejam untuk hatinya yang teramat tulus.
Di ruang putih yang dingin itu, Malik meraung, memeluk tubuh adiknya yang sudah kaku, memohon maaf pada telinga yang tak lagi bisa mendengar. Pengampunan dari Kirana tidak membebaskannya, melainkan menjelma menjadi penjara seumur hidup yang akan terus menghukum batinnya hingga akhir hayat.
Di luar, kota Jakarta tetap bising, tidak peduli pada satu lagi jiwa suci yang baru saja selesai digilas oleh kerasnya kehidupan.
SELESAI
(Cinthya Sinaga)
