ILUSTRASI Puisi Kelopak Warna Warni. (FOTO : Pinterest.com)
Geranium di Meja Kayu
Pada meja kayu kau titip geranium,
Kelopak ungu berbisik sunyi senja.
Katamu cinta tak tunduk pada jarak,
Hanya tertidur, menanti masa tiba.
Dalam bening toples ia terjaga,
Merekah bagai rahasia rindu yang suci.
Menjadi penjaga sunyi kamar,
Menyulam doa di tiap detik sepi.
Hari-hari menua tanpa berita,
Dan waktu tak pernah cukup mengobati.
Geranium itu masih ada di sana—
Lebih hidup dari hatiku yang sunyi.
Dalam Sorot Kuning Daffodil
Kau pergi, meninggalkan musim yang masih beku,
Namun menanam daffodil di relungku.
Kelopaknya kuning, seterang janji,
Namun di mataku, kuningnya bagai luka yang berkilau.
Aku menatap daffodil di tepi jendela,
Bunga kecil yang menolak layu meski diterpa dingin.
Seperti hatiku yang terus menanti,
Meski jarakmu membentang lebih sunyi dari salju.
Ada cinta yang tumbuh di antara rapuh kelopaknya,
Ada rindu yang tak sempat pulang.
Dan aku bertahan, hanya berbekal sorot kuning daffodil,
Yang kau titipkan sebagai sisa kehangatanmu.
Azalea, Penanda Cinta yang Beruntung
Kita tidak datang tergesa,
seperti musim yang tahu kapan mekar adalah waktunya.
Kau hadir perlahan, tak mengguncang,
tapi cukup membuat hatiku tenang.
Azalea itu tumbuh di antara langkah kita,
merah muda bagai fajar yang perlahan menyingkap cahaya.
“Aku ingin kisah ini panjang,” katamu,
“tak sekadar singgah di musim terang.”
Dan lihatlah kita kini,
dua hati yang tak pernah saling lepas dari pelukan hari.
Azalea tetap mekar di jendela yang sama,
seperti kita yang diberkati waktu dan doa.
Saat Magnolia Membuka Diri
Kau dan aku berdiri di bawah magnolia,
ranting sunyi merenda bayang cahaya.
Lalu ia mekar, perlahan, tanpa suara—
seperti cinta kita, tak gaduh namun merayu.
Magnolia putih menyingkap kelopaknya hening,
menyimpan rahasia di tiap lapisnya.
Kau genggam tanganku seolah bertanya:
murnikah rasa ini selamanya?
(Cinthya Agatha Sinaga)
