Text Foto : Ilustrasi Puisi “Rintik-rintik Marah” (FOTO : Pinterest.com)
Batunya Melepuh
Kecewa membatu, terpatri dalam dada,
Marah membisu, terpendam di jiwa.
Sedih mengeras, tak mampu berkata,
Hati membeku, tak kuasa berdoa.
Air mata jatuh, setetes demi setetes,
Mengikis perlahan, dinding hati yang keras.
Kesabaran sirna, tergantikan oleh lelah,
Batu pun melepuh, terluka oleh deras.
Rasa terpendam, kini mulai merekah,
Luka menganga, tak mampu disembuhkan.
Hati yang rapuh, tercabik-cabik pedih,
Batunya melepuh, tak kuasa lagi teguh.
Enggan Menengadah
Kepala tertunduk, air mata membasahi pipi,
Kata-kata sirna, doa tertahan di lidah.
Hati kacau, pertanyaan membanjiri jiwa,
Kekacauan batin, mencengkeram erat kalbu.
Keraguan membayangi, langkah terasa berat,
Enggan menengadah, pada Sang Pengasih di atas sana.
Di kamar sunyi, hanya air mata yang bersuara,
Berharap Ia mengerti, tanpa kata yang terucap.
Berharap Sang Pengasih, membaca isak tangis,
Menenangkan jiwa, yang tengah dilanda badai.
Dalam sunyi ini, dipasrahkan segala duka,
Semoga Ia memberiku, kedamaian yang abadi.
Inikah? Benarkah? Haruskah?
Inikah jalan yang benar?
Langkah tertatih, penuh ragu dan pilu,
Benarkah segala usaha yang kulakukan?
Hati berteriak, jiwa ini terluka.
Pikiran dan hatiku, beradu setiap hari,
Pertanyaan membuncah, tak pernah berhenti,
Haruskah terus menanggung kesalahan ini?
Menjadi yang terburuk bagi mereka.
Inikah garis hidup?
Benarkah aku tak mampu berbuat lebih baik?
Haruskah aku menyerah pada keadaan ini?
Atau tetap tegar, walau hatiku penuh duka.
Suatu Hari Nanti
Di ufuk mentari, bahagia kan terbit,
Menyingkirkan duka, menghapus air mata,
Hati yang damai, rasa syukur terpancar,
Langkah teguh pasti, menuju hari yang lebih nyata.
Jawaban tersembunyi, kan terungkap perlahan,
Misteri jiwa terpecahkan, keraguan sirna,
Senyum hangat syukur, menghiasi wajah insan,
Ketenangan batin, menghilangkan beban yang selama ini tertahan.
Nafas lega terhembus, bebas dari belenggu,
Marah, sedih, kecewa, hilang tak berbekas,
Jiwa tenang tenteram, hati dipenuhi cahaya,
Hidup bermakna, jalan terang penuh asa.
(Cinthya Agatha Sinaga)
