Categories Puisi Rehat

Surat yang Tak Pernah Kukirimkan

Hai,

Entah kamu sedang apa sekarang.

Mungkin sedang sibuk, atau justru sedang tenang tanpa gangguan seperti ini.

Tapi hari ini, aku menulis surat ini…
bukan karena ingin kamu membacanya,
tapi karena aku butuh menuliskannya.

Aneh, ya?
Kita pernah bicara begitu banyak hal—tentang mimpi, hujan, bahkan tentang makanan favorit.
Tapi untuk satu hal yang paling ingin kubagi,
aku justru memilih diam.

Seandainya kamu tahu,
aku pernah menahan napas setiap kali kamu menyebut nama orang lain.
Pernah menunduk ketika senyummu bukan untukku.
Pernah berharap, diam-diam,
bahwa kamu juga menyimpan sesuatu untukku…

Tapi kamu tak tahu.
Dan aku tak sanggup membuatmu tahu.

Jadi, surat ini lahir.
Sebagai ruang untuk rasa yang tak sempat jadi nyata.
Sebagai rumah kecil bagi harapan yang terlalu ringan untuk dibawa terbang.

Aku ingin bilang bahwa kamu pernah membuatku percaya,
bahwa luka bisa sembuh, dan hati bisa kembali hangat.
Tapi aku juga tahu,
tidak semua yang menyembuhkan harus dimiliki.

Mungkin memang bukan kamu.
Mungkin memang bukan sekarang.

Dan karena itu,
surat ini tidak akan pernah sampai padamu.

Biar aku saja yang tahu,
bahwa pernah ada rindu yang kutulis,
tanpa pernah kukirimkan.

 💌Tertanda,
Manusia Kangen yang Belajar Merelakan

(Pradipa Insani Sitorus)

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *