ILUSTRASI Puisi Surat dari Manusia Kangen (FOTO: Pinterest.com)
Pada akhirnya…
Tak ada yang benar-benar hilang.
Lagu itu…
ya, lagu itu datang lagi. Bersama rasanya.
Seolah waktu tak pernah benar-benar membawa pergi semuanya.
Aku duduk di sudut kamar, playlist lama kembali bergema.
Setiap baitnya seperti mengetuk pintu hati yang lama kukunci rapat.
Apakah aku akan terbiasa dengan ini semua?
Dengan rasa yang datang tanpa izin, seperti sediakala?
Kurasa… iya. Aku harus.
Mau tak mau, aku harus belajar menerima bahwa waktu tak hanya menyembuhkan,
tapi juga mengulang.
Mengulang perasaan yang dulu sempat kurasa sudah selesai.
Ternyata belum.
Sekarang, hanya soal waktu
Waktu yang akan datang dan merenggut seluruh “kupu-kupu”
yang pernah menari lembut dalam perut mungilku.
Dan saat itu terjadi,
aku akan tersenyum,
karena pernah begitu hidup oleh rindu.
Tapi, di antara denting melodi yang lembut dan lirik yang menyayat,
aku bertanya pada diri sendiri
Apakah ini tentangmu?
Atau ada orang lain yang diam-diam mulai kuizinkan masuk ke dalam cerita ini?
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu,
hatiku sedang menulis,
menyalin semua resah
ke dalam alunan melodi yang terus berputar di kepala ini.
Lagu ini…
mungkin tak pernah benar-benar selesai.
“Aku akan datang, aku akan pulang…
melepas semua kerinduan yang terpendam.”
Katanya begitu.
Dan aku?
Aku hanya bisa duduk di sini,
menikmati lagunya,
menyimpan artinya,
tanpa perlu memaksakan kenyataan untuk jadi sama seperti liriknya.
Karena kadang, lagu memang hanya lagu.
Dan rindu… ya, biarlah dia tetap jadi milik manusia kangen seperti aku.
