ILUSTRASI Cerpen Sakit Gigi (FOTO : Surabayastory.com)
Sudah dua hari aku meraung karena gigi geraham bawah sebelah kiriku sakit. Aku berguling guling di Kasur dengan tangan yang merangkul bantal kesayanganku. Ayahnya yang baru tiba dari luar kota, langsung menghampiri aku ke kamar, bahkan barang bawaannya masih tergeletak di ruang tamu. Ayah melihat aku meraung kesakitan dan mengangkat aku ke pangkuannya dengan nada lembut ayah bertanya “kenapa nak” dengan raut wajah yang sangat khawatir. “Gigiku sakit sekali ayah, berdenyut denyut sampai ke kepala. Aku sudah minum obat tapi sakitnya tidak hilang-hilang Yah”
“Ayah siap-siap dulu ya, kita ke rumah sakit. Biar giginya diperiksa sama dokter” Ucap ayah sedikit buru-buru. Sebenarnya aku merasa sangat takut berurusan dengan dokter, dan ia ingin menolak untuk periksa ke dokter. Namun karena gigiku sudah sangat sakit dan berdenyut-denyut akhirnya aku ikut saja dan berharap sakitnya akan hilang.
Sesampainya di rumah sakit, ayah mendaftarkan namaku untuk diperiksa di bagian poli gigi. Aku semakin takut dan cemas, ketika melihat anak laki-laki yang menangis menjerit-jerit keluar dari ruangan itu. Tanganku gemetar takut dan menahan rasa sakit gigi yang sangat tidak tertahan. Tak berselang lama, namaku dipanggil oleh seorang perawat ke ruangan dokter. Ditemani ayah, aku masuk ke dalam ruangan dokter dan di arahkan untuk berbaring di kursi pasien khusus untuk periksa gigi kemudian gigiku di periksa oleh dokter.
“siapa nama kamu adik?” tanya dokter setelah selesai memeriksa gigiku dengan memasukkan beberapa alat kemudian senter ke dalam mulutku. “Eka dok, Eka Putra” jawabku sedikit lega karena gigiku sepertinya tidak harus dicabut. “Gigi kamu ini harus diberi obat biar tidak sakit, kamu pasti sering makan cokelat dan permen?” tanya dokter kepadaku. “Benar dok, dia sangat suka permen dan cokelat, hampir setiap saya pulang dari luar kota dia menitip cokelat kepada saya.”
“Mengonsumsi cokelat dan permen itu tidak salah, tapi jangan berlebih dan ingat untuk selalu menggosok gigi sebelum tidur!” jawab dokter memberi pengertian kepada ayah dan juga Eka. “iya dok, terkadang saya makan cokelat lalu kemudian tidur dan tidak menggosok gigi karena sudah mengantuk.” Aku sebenarnya selalu diingatkan oleh ayah untuk menggosok gigi sebelum tidur tetapi terkadang aku sangat malas melakukannya.
“Nah, itu sudah salah Eka. Kamu harus menggosok gigi sebelum tidur dan usahakan agar tidak memakan permen maupun cokelat di malam hari. Karena itu berpotensi membuat gigi kamu berlubang. Ini ada resep obat yang harus ditebus ya pak di apotek.”
“Baik dok, berarti giginya tidak harus di cabut ya dok?” Tanya ayah kepada dokter untuk memastikan. “Tidak harus dicabut kok pak, cukup diberikan obat saja.” “Baik dok, jawab ayah. Kalau begitu kami permisi dulu dok.” “silakan pak, jangan lupa ya eka untuk rajin menggosok gigi cokelat dan permennya juga dikurangi, semoga lekas sembuh.” “Iya dok, terima kasih” Jawab eka sembari beranjak keluar dari ruangan.
Selama perjalanan, aku merenung dan menyadari bahwa ternyata pergi ke dokter gigi tidak semenakutkan yang aku bayangkan. Di tengah perjalanan pulang, ayah menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang sudah tidak asing bagiku, yaitu sebuah apotek tempat kami biasanya membeli obat karena pemiliknya adalah kerabat jauh kami.
“Nak, kamu mau ikut keluar untuk membeli obatnya?” tanya ayah. “Iya ayah, aku mau ikut” Jawab Eka sembari membuka pintu mobil. Kemudian seorang pria paruh baya, yang biasa aku panggil paman keluar dengan wajah tersenyum menyapa ayah.
“Sehat mas, mau beli obat kah” Tanyanya sambil menjabat tangan ayah kemudian menjabat tanganku juga. “Kabar baik, iya mau membeli obat untuk eka, dia sedang sakit gigi.”
“Loh giginya kenapa Eka?” tanya paman eka sembari menerima selembar kertas dari ayah yang berisi resep dari dokter. “Iya paman, lagi sakit gigi” jawabku dengan malu karena aku merasa bahwa sakit gigiku ini terjadi atas kelalaianku. “Ini obatnya, sudah ada petunjuk dan aturan minumnya ya mas” kata paman sembari memberi obat kepada ayah. “Iya, terima kasih, kami pamit pulang dulu” jawab ayah dengan senyum sembari memberi uang tebusan obat tersebut.
Setelah pulang dari apotek, aku buru-buru ke kamar mandi untuk menggosok gigi, karena sebenarnya semenjak gigiku sakit aku belum pernah menyikatnya. Mulai saat ini aku berjanji untuk mengurangi makan permen atau cokelat dan yang paling penting untuk menjaga kebersihan gigi karena sakit gigi rasanya sungguh sangat tidak enak.
(Happy Simamora)
