Sumber: PINTEREST
Sendu Yang Tak Berkesudahan
Aku sudah lama berdiam diri disini
Mataku lebam telah lama menangisi yang terjadi
Wajahku telah basah berkucur air mata
Senyumku hanya sia-sia
Dari langit sampai ujung bumi
Aku tidak mengetahui sampai kapan pilukuini usai lagi
Malam Temaram
Jam sudah menunjuk jam tidur
Jam ketakutan sudah menantiku saat ini
Mataku hanya sekedar terpejam menikmati luka
Telingaku berisik mendengar kesunyian yang membunuhku
Aku sendiri disini
Kepalaku sakit memikirkan scenario hebat yang tak junjung datang
Aku Lelah, sangat Lelah
Melankolis
Diri ini telah lama tersandung
Disiksa buana tak kunjung surut
Bahagia ini sudah kelam
Amarah daku telah panas membara-bara
Nestapa pada cerminan diri sendiri
Harapan juga sudah hamper hirap
Warna juga sudah temaram
Namun ini sudah jadi ajaran
Runtuh Luruh
Hatiku telah lebur dimakan luka
Hatiku hancur tak sanggup lagi menahan luka
Kakiku tertatih melangkah kemana-mana
Badanku lesu tak sanggup lagi kemana-mana
Wajahku pucat luntur juga senyumku
Saat ini aku begitu runtuh luruh
Sunyi Sang Penghancur Hati
Malam ini sunyi
Aku hanya ditemani kesunyian
Sunyi ini menghancurkan hati buana ini
Tiap malam sunyi aku hanya menangis
Jiwaku meronta-ronta lemas dengan sakitnya ini
(Maya Arista Janett Manullang)
