Sumber: PINTEREST
Mimpi
Pada setajuk mimpi yang aku punya
Ku kejar hingga semua nyata
Tak urung niat juga untuk berhenti
Karena terjal yang tak bertepi
Namun demi apa aku berdiri
Kalau tak jua sampai
Sarjana
Aku tidak menyukainya
Tapi aku tetap berdiri mendampinginya
Aku tidak menyukainya
Tapi aku tetap mengusahakan yang terbaik untuknya
Aku membencinya
Tetapi aku tetap menyelesaikannya
Hingga gelar sarjana bersanding di samping namaku
Ayah
Rasanya beribu lagu sudah diciptakan untukmu
Berjuta syair puisi dibuat untukmu
Tak jua puisi sederhana ini
Ku tulis dengan jemari kecilku
Ku baca ditemani simpul tangis di wajahku
Membayangkan wajah keriputmu
Tangan kasar dan menghitam
Beralaskan telapak kaki yang pecah,
Menatap gambarmu yang telah tiada
Kehilangan
Saat itu telah tiba
Dunia hancur berkebing sudah
Rasanya panas tak lagi menyengat
Dingin tak lagi menusuk
Karna Ibu yang telah hilang sirna
Ditelan sepertiga malam bagai mimpi kurasa
Namu apa daya..
Semua sudah takdir nya
Bencana
Tidak adil rasanya
Melihat senyum tawa bersimpul di wajah mereka
Merekah indah bagai bunga mekar
Canda tawa dan hangat terlihat di matanya
Namun lihat aku…
Tak lagi bersama dengan tuanku
Hilang, sirna sudah tawaku
Siapa yang merebut ayahku
Siapa yang mengambil ibuku
Tapi apalah daya, bencana tak terduga
Semua sudah takdir Sang Pencipta
(Happy Simamora)
