ILUSTRASI penjual bakso. (FOTO: PACEKO.COM)
SUDAH dua minggu ini Davi dan adiknya Retno tidak menikmati bakso mini Pak Manto yang setiap sore lewat dari kompleks perumahan mereka. Biasanya dalam seminggu, Davi dan Retno bisa menikmati bakso mini Pak Manto tiga hingga empat kali.
Tapi entah apa penyebabnya, sudah dua minggu lamanya Pak Manto tak terlihat mendorong gerobak bakso mininya. Saban sore, Davi dan Retno sudah bersiap-siap duduk di teras rumah sambil memegangi mangkok dan sendok. Tapi hingga maghrib tiba, Pak Manto tak kunjung lewat. Dengan langkah tak bersemangat, keduanya pun masuk kembali ke dalam rumah.
Davi menghempaskan badannya di sofa ruang tamu dan menyandarkan kepalanya di atasan sofa. Retno mengikuti tingkah Davi. “Ini sudah hari ke-15 Pak Manto tidak lewat dari depan rumah kita,” kata Davi.
”Iya, kak. Ada apa dengan pak Manto, ya,” tanya Retno.
Davi menggelengkan kepalanya. ”Semoga Pak Manto sehat-sehat saja, ya. Kalau besok Pak Manto tak datang juga, kita beli baksonya di warung bakso yang di luar kompleks saja ya,” ujarnya.
Retno tersenyum dan mengiyakan saran Davi.
***
PAK Manto sudah berjualan bakso mini di kompleks perumahan tempat Davi dan Retno tinggal tiga tahun terakhir. Pak Manto berjualan dengan menggunakan sebuah gerobak berwana biru. Di salah satu dinding gerobak baksonya, ada tulisan ”Bakso Mini Pak Manto”.
Sesuai dengan namanya, bakso yang dijual Pak Manto memang berukuran mini. Ukurannya hanya setengah dari besar bakso yang umum dijual. Itulah kekhasan dagangan bakso milik Pak Manto. Tak hanya ukurannya yang mini, harga bakso mini Pak Manto juga tergolong murah. Per mangkoknya Rp 3.000. Setiap mangkok sudah berisi sedikit mi kuning, bakso lima butir, kuah dan bumbu-bumbu.
Selain harganya yang murah, Davi dan Retno suka bakso mini Pak Manto karena rasa baksonya yang enak, dagingnya masih terasa meski hanya sedikit, kuahnya apalagi. Saat membeli, Davi dan Retno selalu meminta agar Pak Manto memberi kuah yang banyak, dan cabainya sedikit.
Tapi, kelezatan bakso mini Pak Manto hanya bisa dinikmati Davi dan Retno terakhir kali dua minggu lalu. Entah karena alasan apa, Pak Manto tak datang lagi ke keompleks.
***
Seperti biasa, sore ini Davi dan Retno sudah bersiap-siap dengan mangkok dan sendok di teras rumah. Mereka masih setia menunggui Pak Manto menjajakan dagangannya di kompleks rumah.
Tetapi hingga satu jam berlalu, Pak Manto tak kunjung lewat. Davi dan Retno tetap besabar dan menunggu hingga sejam lagi. Tapi sama saja, Pak Manto tak datang juga.
Davi dan Retno menyudahi penantian tersebut. Karena yakin Pak Manto tak akan datang, Davi mengajak adiknya membeli bakso ke luar kompleks. Retno mengiyakan. Keduanya beranjak dari tempat duduknya. Tetapi baru saja memakai sandal, tatapan mata keduanya bertemu seakan terkejut saat mendengar bunyi mangkok yang dipukul dengan sendok dan suara penjual bakso yang mengucapkan ”bakso mini, bakso mini”.
”Pak Manto,” kata Davi dan Retno bersamaan.
Keduanya berbalik, membuka gerbang rumah dan melihat ke arah suara. Davi dan Retno tersenyum karena melihat sebuah gerobak bakso bertuliskan ”Bakso Mini Pak Manto”.
”Iya benar kak, itu bakso Pak Manto,” kata Retno.
Keduanya berlari mendekati gerobak. Tapi, alangkah terkejutnya Davi dan Retno saat memanggil nama Pak Manto, tetapi wajah yang melihat mereka bukanlah Pak Manto, tapi bapak yang lain.
”Lho…kok,” kata Retno.
”Iya, kok bukan Pak Manto yang jual bakso ya,” sambung Davi.
”Bapak siapa? Kenapa bukan Pak Manto yang jualan? Ini gerobaknya kan?” tanya Retno.
Bapak penjual bakso hanya tersenyum melihat Davi dan Retno. Si Bapak berjongkok dan memegangi pundak keduanya. ”Kalian sering beli baksonya Pak Manto,” tanyanya.
Davi dan Retno mengangguk.
Bapak penjual bakso menyeka kedua matanya. Tiba-tiba air matanya keluar. Davi dan Retno saling bertatapan seperti tak mengerti. ”Panggil saya Pak Rinto. Pak Manto abang saya. Seminggu lalu, dia meninggal,” katanya.
“Meninggal?” kata Davi dan Retno bersamaan.
Pak Rinto mengangguk. ”Iya. Dua minggu lalu, Pak Manto jatuh di kamarnya, sakit jantung. Seminggu lalu dikebumikan. Sekarang saya yang jualan,” katanya.
Davi dan Retno kembali berpandangan. Keduanya seolah tak percaya kalau Pak Manto sudah meninggal. ”Kami ikut sedih Pak,” kata Davi.
Pak Rinto mengangguk. ”Sebelum meninggal, Pak Rinto cerita kemana saja dia berjualan. Salah satunya ke kompleks ini. Pak Manto cerita ada kalian berdua yang selalu membeli baksonya,” ujarnya.
Pak Rinto kembali memegang pundak Davi dan Retno. “Pokoknya, kalian jangan khawatir lagi. Bapak akan setiap hari lewat dari sini. Sekarang, kalian mau pesan bakso, kan? Kuahnya yang banyak kan?,” katanya.
Davi dan Retno tersenyum. “Dan cabainya sedikit,” kata keduanya.
Pak Rinto membalas senyuman Davi dan Retno. Ketiganya lalu tertawa. (Truly Okto Purba)
