Categories Opini

Mengakhiri Budaya Titip Terima Beres dalam Pendidikan di Sekolah Dasar

Dokumentasi wawancara dengan wali kelas di SD Swasta HKBP Padang Bulan Medan pada Jumat (13/03/2026)(FOTO: Dokumentasi Penulis)

            Sekolah bukanlah bengkel tempat orang tua menitipkan anak untuk “diperbaiki”, lalu berharap anak kembali dalam kondisi yang dianggap sudah sempurna. Namun, dalam kenyataan pendidikan sehari-hari, masih ditemukan kecenderungan sebagian orang tua menyerahkan sebagian besar tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah. Padahal, pendidikan anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui proses pengasuhan, pembiasaan, dan keteladanan yang berlangsung di lingkungan keluarga. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki hubungan penting dengan perkembangan pendidikan anak. Penelitian yang dilakukan oleh (Sudarni, 2022) tentang keterlibatan orang tua dalam pembentukan karakter siswa sekolah dasar yang menunjukkan pentingnya peran orang tua dan kolaborasi dengan guru dalam menanamkan karakter disiplin dan tanggung jawab. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berkaitan positif dengan prestasi dan hasil belajar siswa sekolah dasar.

Menurut saya, pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah memang memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, serta menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Namun, sekolah tidak dapat bekerja sendirian. Pendidikan karakter membutuhkan kesinambungan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang dibiasakan di rumah. Penelitian mengenai keterlibatan orang tua dalam pendidikan karakter juga menunjukkan bahwa pembentukan nilai-nilai karakter anak membutuhkan keterlibatan keluarga, sementara penelitian terbaru mengenai pembentukan karakter tanggung jawab dan disiplin menegaskan pentingnya konsistensi pembiasaan dan komunikasi antara rumah dan sekolah. Karena itu, orang tua tidak seharusnya hanya menyerahkan anak kepada guru dengan harapan seluruh persoalan pendidikan dapat diselesaikan oleh sekolah. Sebaliknya, orang tua perlu hadir sebagai mitra yang berjalan bersama guru dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

            Pola pikir “titip terima beres” dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap proses pendidikan anak. Ketika orang tua menganggap sekolah sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap perilaku dan karakter anak, pembinaan yang dilakukan guru menjadi tidak berkelanjutan. Anak mungkin mendapatkan arahan dan pembiasaan positif selama berada di sekolah, tetapi ketika kembali ke rumah tidak mendapatkan penguatan yang sama. Akibatnya, perubahan perilaku yang diharapkan menjadi sulit bertahan. Pendidikan karakter pada dasarnya tidak mungkin hanya dilakukan di sekolah karena karakter anak dibentuk melalui kebiasaan yang berlangsung terus-menerus dalam berbagai lingkungan. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak untuk belajar mengenal nilai, aturan, tanggung jawab, serta cara berinteraksi dengan orang lain. Apa yang dilihat, didengar, dan dibiasakan anak di rumah akan turut membentuk kepribadian dan perilakunya ketika berada di sekolah.

Dampak lain dari pola pikir tersebut juga dirasakan langsung oleh guru di sekolah. Guru memang memiliki tanggung jawab untuk mengajar dan mendampingi perkembangan peserta didik, tetapi waktu guru bersama siswa sangat terbatas. Dalam satu hari, guru hanya memiliki beberapa jam untuk melaksanakan pembelajaran dan mendampingi siswa di sekolah. Di luar tugas mengajar, guru juga harus menyelesaikan berbagai pekerjaan administrasi, melakukan penilaian, mempersiapkan perangkat pembelajaran, serta memenuhi tuntutan profesional lainnya. Pada saat yang sama, guru juga dihadapkan pada berbagai persoalan perilaku siswa, mulai dari kurang disiplin, konflik antarteman, kesulitan mengendalikan emosi, hingga masalah sosial dan keluarga yang terbawa ke lingkungan sekolah. Ketika seluruh persoalan tersebut seolah-olah menjadi tanggung jawab guru seorang diri, beban yang dihadapi guru menjadi semakin berat. Guru akhirnya tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga dituntut menjadi pengasuh, pembimbing, bahkan konselor bagi siswa.

Namun, tidak semua wali kelas memiliki kompetensi khusus dalam bidang konseling. Guru kelas memang mengenal siswa secara dekat karena berinteraksi dengan mereka setiap hari, tetapi hal tersebut tidak berarti bahwa setiap guru memiliki kemampuan profesional untuk menangani seluruh persoalan psikologis dan perilaku siswa. Di sinilah layanan Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki peran penting. Layanan BK dapat membantu sekolah melakukan deteksi dini terhadap berbagai permasalahan perilaku dan perkembangan siswa, memberikan pendampingan, serta membantu menentukan langkah penanganan yang sesuai. Guru BK seharusnya menjadi mitra bagi guru kelas dalam mendampingi siswa, bukan menjadi pengganti peran orang tua. Kehadiran tenaga BK dapat membantu guru dalam memahami permasalahan siswa secara lebih sistematis sehingga guru tidak harus menghadapi seluruh persoalan seorang diri.

Hal tersebut juga penulis temukan melalui pengalaman observasi dan wawancara yang dilakukan di SD Swasta HKBP Padang Bulan Medan. Dalam pengamatan tersebut, penulis menemukan bahwa guru menghadapi berbagai persoalan perilaku siswa yang cukup kompleks. Setiap siswa memiliki karakter, latar belakang keluarga, dan kebutuhan yang berbeda sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama. Guru juga mengakui bahwa proses penanganan masalah siswa sering kali terlambat karena minimnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi perkembangan anak. Selain itu, belum adanya tenaga BK khusus di sekolah membuat guru kelas harus berupaya menangani berbagai persoalan siswa di tengah tanggung jawab utama mereka sebagai pendidik dan pengajar. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan “titip terima beres” bukan sekadar wacana, tetapi merupakan tantangan nyata yang dapat memengaruhi efektivitas pendidikan dan kesejahteraan guru maupun siswa.

Karena itu, penyelesaian masalah ini membutuhkan solusi yang dilakukan secara bersama-sama dan dimulai dari tingkat keluarga hingga pemerintah. Dari sisi keluarga, orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dan rutin dengan guru untuk mengetahui perkembangan akademik maupun perilaku anak. Pembinaan karakter yang telah dilakukan di sekolah juga perlu dilanjutkan dan diperkuat di rumah melalui keteladanan dan pembiasaan sehari-hari. Dari sisi sekolah, perlu dibangun komunikasi yang lebih terstruktur melalui forum parenting, buku penghubung, pertemuan berkala, maupun media komunikasi lainnya agar orang tua dan guru dapat saling bertukar informasi mengenai perkembangan anak. Dari sisi guru, diperlukan pelatihan dasar konseling dan keterampilan deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa agar guru mampu mengenali permasalahan sejak awal dan mengambil langkah yang tepat. Sementara itu, dari sisi pemerintah, diperlukan kebijakan yang lebih kuat untuk memperluas dan memperjelas layanan Bimbingan dan Konseling di jenjang Sekolah Dasar, termasuk membuka formasi guru BK yang dapat menjadi mitra profesional bagi guru kelas dalam menangani permasalahan siswa. Dengan demikian, tanggung jawab pendidikan tidak dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan dibangun melalui kemitraan yang saling mendukung.

Pada akhirnya, sekolah bukanlah bengkel dan guru bukanlah pihak yang bertugas “memperbaiki” anak seorang diri. Orang tua tidak boleh menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada guru hanya karena anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah. Sebaliknya, guru juga membutuhkan dukungan dari keluarga dan sistem pendidikan yang memungkinkan mereka menjalankan tugas secara optimal. Anak membutuhkan kesinambungan pendidikan antara rumah dan sekolah agar nilai-nilai yang diajarkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama yang membutuhkan kehadiran, komunikasi, dan kolaborasi dari semua pihak. Selama rumah dan sekolah saling melempar tanggung jawab, maka anak adalah pihak yang dirugikan. Saatnya kita berhenti melihat sekolah sebagai bengkel dan mulai membangun kemitraan yang setara demi masa depan anak.

(Hetty Sihombing)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *