ILUSTRASI Puisi “Emas di Tengah Arang – Dari Perspektif Aku”. (FOTO : Pinterest.com)
Emas di Tengah Arang – Dari Perspektif Aku (1)
Di bawah sana, ada goresan hitam yang merunduk,
Bayang tebal yang mematung, aku pernah terperangkap dan dipeluk.
Lalu aku datang, satu semburan kuning yang murni,
Melepaskan diri dari ranting yang sunyi.
Bukan lagi debu, bukan lagi abu yang sama,
Sayapku membelah kabut, aku merobek drama,
Setiap helai, sapuan kuas yang tegas dan cerah,
Meninggalkan jejak emas di udara yang lelah.
Emas di Tengah Arang – Dari Perspektif Aku (2)
Mereka adalah masa lalu, yang kelam dan tak berbentuk,
Mencoba menggenggam tanpa raga, menarik, namun tak terhantuk.
Aku tahu beratnya, cara kegelapan memanggil,
Namun aku pilih terbang, bukan memilih tinggal.
Lihatlah, ada serpihan emas yang tertinggal,
Bukan karena aku gagal, tapi sisa api yang menyala, kekal.
Itu adalah memori yang menguatkan pijakanku,
Kekuatan untuk melihat cahaya sebagai tujuanku.
Emas di Tengah Arang – Dari Perspektif Aku (3)
Aku melesat ke atas, ke ruang yang tanpa batas,
Aku menjadi simbol dari harapan yang takkan terputus,
Satu nada murni yang melawan sunyi,
Bahwa kebebasan selalu menungguku, di atas gelapnya hari.
Aku kini menari di heningnya langit yang putih, tak terjamah.
Kecepatan ini bukan pelarian, melainkan percepatan menuju esensi.
Aku bisa merasakan embusan angin yang mengikis sisa pigmen kelam dari buluku,
Membersihkan beban yang dulu kuanggap identitas.
Emas di Tengah Arang – Dari Perspektif Aku (4)
Di sini, aku tidak perlu berjuang melawan;
aku hanya perlu menjadi….
Menjadi sesuatu yang ringan, yang bernyanyi,
Yang tidak terdefinisi oleh apa yang pernah mencoba menahanku.
Aku kini menanggalkan nama-nama lama yang beku,
Merasakan setiap hembusan angin memeluk sayapku yang baru.
Di atas sini, hukum gravitasi hanya berlaku untuk batu,
Sedangkan jiwaku telah menemukan frekuensi tertinggi untuk melaju.
(Cinthya Sinaga)
