ILUSTRASI. Gambaran seseorang yang melihat dirinya bersinar ketika ia menuruti kata “Jika belum indah, maka hidupmu belum berakhir”. (FOTO: HO).
Hati yang Membeku
Di dalam hati sunyi ini, bunga pun enggan mekar,
Tertianggal hanya bayang luka yang menari dalam samar.
Lelah mengandung isak tangis, tak lagi sanggup bicara,
Jiwa layaknya telah berhenti bagai bara.
Diriku berjalan berjalan menapak tanpa cahaya,
Menggenggam kosong, menggenggam hampa.
Tak ada lagi rumah bagi rasa dan harapan,
Hanya bisikan lirih: harus terus berjalan.
Kehilangan yang Abadi
Sekeping hati pernah hidup dalam hangat,
Yang terjadi kini hanya abu dihembus angin penat.
Kesedihan tak lagi pedih, ia hanyalah sunyi,
Menjadi gurun yang tak mengenal lagi hari.
Aku diam dalam langkah yang berat,
Menutup pintu pada cinta yang pernah hangat.
Tak ada lagi arti dalam setiap ingatan,
Kecuali mantra: harus terus berjalan.
Kosong di Balik Senyuman
Wajah tersenyum, tapi jiwa telah padam,
Seperti lilin yang kehabisan nyala malam.
Orang melihat cahaya, tapi tak tahu luka,
Yang tinggal hanyalah cangkang tanpa jiwa.
Aku berdiri di antara riuh kehidupan,
Namun hati tertinggal di lorong kehilangan.
Yang kupeluk kini hanyalah kehampaan,
Diseret kata asing: harus terus berjalan.
Luka yang Tak Bernama
Tak ada lagi darah di luka lama,
Ia hanya membeku, kaku tanpa nama.
Rasa pun berhenti, mati tanpa salam,
Meninggalkan ruang hampa yang kelam.
Aku berdiri di ujung kesedihan,
Menghirup kosong tanpa tujuan.
Yang tersisa hanya langkah yang dipaksakan,
Tersayat kata dingin: harus terus berjalan.
Langkah Tanpa Jiwa
Jalan panjang ini terasa asing dan dingin,
Hati terlelap, tak lagi ingin bersanding.
Semua cinta hanyalah bayangan semu,
Yang pernah ada kini membeku tanpa rindu.
Namun kakiku tetap memaksa berlari,
Meski jiwa telah lama mati.
Karena hidup tak pernah memberi pilihan,
Kecuali kalimat pahit: harus terus berjalan.
(Maya Aristia Janett Manullang)
