ILUSTRASI Cerpen Putih Abu-abu (FOTO : Pinterest.com)
Ini sudah hampir tahun keempat berlalu, namun belum kunjung ia hilang dari ingatanku. Badannya tegap, tingginya sekitar 173 cm, berkulit putih bersih dengan perawakan yang ramah. Rasa-rasanya aku hampir gila memikirkan satu orang rupawan ini, jarak yang membentang begitu jauh tak lantas membuat perasaan ini luntur ditelan jarak dan waktu.
Pekerjaan impiannya membawanya pergi ke pulau nan jauh dan hilang dari pandanganku selama empat tahun belakangan. Tak pernah sekalipun aku mendapatkan kesempatan barangkali bertemu dengannya di perempatan jalan. Pernah sekali kusampaikan pada seekor burung cantik bertengger di jendela kamar itu.
”Tolong, sampaikan sekali saja rasa rindu ini padanya”.
Waktu seakan membawaku kembali lagi ke masa putih abu-abu, masa dimana rasanya kupu-kupu menggelitik perut mungilku. Orang bilang namanya butterfly era.
”Barangkali bisa kau tunggu aku sebentar mengerjakan tugas berat ini,” rengek aku padanya.
Tak sekalipun ia pernah menepis tangan dan permohonanku kala sikap manjaku mulai menggerogotinya. Ia dengan sepenuh hati duduk disamping kursi tempatku bergelut dengan pekerjaan tanganku. Sambil merebahkan kepala nya diatas meja, senyum yang terukir di wajahnya membuat aku hilang arah. Sesekali kutengok wajahnya yang manis dan rupawan itu, kemudian bergelut kembali dengan pekerjaan yang ada di depanku.
Hari senin adalah hari yang paling kutunggu-tunggu. Kebanyakan siswa menganggap Senin adalah hari yang berbahaya, menakutkan dan melelahkan. Aku pun sebetulnya begitu, tapi siapa sangka, kini senin menjadi hari favorit ku. Dentingan besi yang terus berlaga, memaksa setiap orang untuk mengisi lapangan nan luas di sisi barat kelas X 1. lalu lalang orang-orang berhamburan ke satu tujuan, termasuk aku. Dengan sengaja kupilih langkah pendek-pendek untuk sampai ke tempat itu. Puas sekali rasanya mendapat bagian paling belakang dalam upacara kali ini. Pemandangan mengaitkan lipatan kain dasi dengan dua tangannya itu, menjadi pemandanganku di pagi ini.
Kelas-kelas yang dilewati dan sambutan lapangan luas kosong, menjadi penuntun hari-hari kami berjalan beriringan ke tempat pereda lapar semua orang. Entahlah, entah sudah berapa lama kami berdua menikmati perjalanan ini. Perjalan menjadi orang yang begitu dekat. Lain pula dengan dengan hari-hari yang akan datang. Media sosial yang menjadi salah satu hiburan sekaligus tempat menimba informasi, sepertinya belakangan ini sedang sibuk mengabarkan kedatangan virus baru. Awalnya dia datang dari negeri tirai bambu, tak butuh waktu lama baginya untuk menyelimuti kota ini.
Pekerjaan kantor, mencari nafkah, belajar dan semuanya dilakukan dari satu tempat, tak bepergian. Tenaga-tenaga pengajar kini mulai berlatih dengan penuh keringat menggunakan alat penghubung yang akan menjadi pengganti kelas nantinya. Tak jauh beda dengan pelaku putih abu-abu pun. Ikut berkutat dan sesekali bedengus kesal dengan jaringan ataupun aplikasi buatan yang tak stabil ini. Hari-hari ini seperti menyekap setiap orang dalam rumahnya sendiri.
Jalan-jalan yang biasanya dilalui kendaraan-kendaraan dengan kepulan asap dan decitan rem kemudi, seakan kini tiada peradaban. Mungkin kupu-kupu, belalang dan nyamuk lah yang mengisi kekosongan ruang itu. Dua bulan, enam bulan tak kunjung jalanan kembali ramai. Kehidupan daring masih menjadi rutinitas wajib yang tak bisa ditinggalkan, pernah sekali aku menarik diriku dari segala tugas dan tanggungjawab belajarku sebab ditelan kebosanan. Rupanya dirumah yang sana, seseorang telah menggantikan ku menyelesaikan akibat kemalasanku itu. Begitulah waktu-waktu terus berjalan, berputar hingga sampai aku lupa dengan dia.
Dua tahun menjadi perjalanan yang amat panjang, orang-orang seperti kehilangan masanya selama itu. Kehilangan kemampuan sekedar menyapa, meski sudah lama mengingat nama. Aku? Ya aku juga. Perasaan asing juga menyelimuti aku, seakan lupa pernah mengenal lelaki seumuran ku itu. Kini sedikit ingat aku tentang dia, tapi rasanya panas dari dalam, tak sampai ke pelupuk mata..hanya seperti tergores sisi yang tajam. Membekas, dia tertawa memandang gadis kecil, menyipitkan matanya seakan ikut tersenyum mendukung bibirnya yang membuat barisan giginya terlihat menawan, meniru aku.
(Oleh : Pradipa Insani Sitorus)
