ILUSTRASI Cerpen “Kamu dan Luka”. (FOTO : Pinterest.com)
Suara burung berkicau sangat merdu begitu juga matahari yang tidak mau kalah ia memancarkan sinarnya hingga menganggu tidurnya Bunga. Sebuah cerita Bunga, seorang anak rantau yang memiliki kesibukan di setiap harinya, sehingga tidurnya begitu berantakan.
Bunga terbangun, dengan suasana kamar kost yang begitu berantakan, buku dan pulpen berserakan dimana-mana, tetapi Bunga hanya menyiapkan keperluan untuk dia bawa ke kantornya tanpa memberesi kamar yang seperti kapal pecah.
Setelah bersiap-siap Bunga bergegas berangkat kekantor membawa kendaraan pribadinya dan kali ini dia kejebak macat akibat bangun kesiangan. Setelah satu jam diperjalanan, melewati macat yang begitu panjang dan hari yang begitu panas, Bunga sampai di kantor dan dia langsung ke ruangan dan melakukan pekerjaan seperti biasanya.
Sore pun tiba lalu Bunga bersiap-siap membereskan berkas-berkasnya untuk pulang, tidak lama kemudian Bunga pulang dan Bunga tidak langsung ke kost tapi ia singgah ke salah satu toko kue didekat kost nya karna Bunga sudah lama ingin kue itu, tapi terkadang dia kelelahan jadi tidak mampir. Kemudian Bunga membeli kue itu dan ternyata kue itu tinggal satu, dan ternyata ada juga orang yang ingin membeli kue itu “mbak saya mau kue yang mbak pegang ya” ucap salah satu lelaki ke pegawai toko tersebut.
“Maaf mas kue ini sudah ada yang punya,mbak ini (sambil menunjuk ke arah Bunga)” Kemudian Bunga menoleh ke arah lelaki itu dan lelaki itu menoleh ke arah Bung, tidak disangka ternyata itu masa lalunya Bunga, ya namanya Jackson. Mereka hanya saling menatap tanpa anda sepatah dua patah kata yang terucap dari bibir mereka.
Kemudian Bunga menuju ke arah kasir untuk membayar kuenya dan Jackson langsung keluar dari toko tersebut. Setelah membayar kue, Bunga bergegas pulang ke kostnya, setelah sesampainya dikost Bunga bersih-beraih setelah itu ia memotong kue yang dibeli tadi lalu di makan sambil menonton film. Tidak lama Bunga tidak memperhatikan filmnya lagi, Bunga melamun dan ingat dengan Jackson,
“bagaimana tadi bisa bertemu dengan Jackson lagi, yang sudah jelas-jelas tidak pernah bertemu atau berkomunikasi lagi” ucap Bunga dalam hati sambil memakan kuenya dikit demi sedikit.
Bunga tersadar “ternyata sudah larut, lebih baik istirahat ngapai si mikiri Jackson lagi” ucap Bunga lalu ia bergegas tidur.
Keesokan harinya Bunga terbangun dengan keadaan kost yang begitu berantakan bedanya hari ini Bunga libur, jadi bunga bisa menghabiskan waktunya dikost, untuk memberesi kost yang begitu berantakan.
Sesudahnya Bunga memberesi kost,hari sudah siang dan Bunga makan sambil melanjutkan film yang semalam ia tonton, sesudah itu Bunga bersiap-siap ingin menikmati liburnya jalan-jalan ke mall. Sesampainya di mall Bunga menuju ke arah toko eskrim dan lalu ia memesannya dan duduk di tempat itu.
Tidak lama kemudian salah satu pria datang menghampiri bunga dan ternyata itu Jackson, tanpa diduga-duga ternyata Jackson sudah memperhatikan Bunga dri jauh,kebetulan Jackson di mall itu.
“Hai Bunga apa kabar?” ucap Jackson.
“Baik” jawab Bunga dengan ketus.
“Kamu sekarang kerja dimana?” tanya Jackson
“Maaf jackson saya tidak bisa beritahu” ucap bunga lagi dengan sangat ketus.
Tanpa berlama-lama Bunga ijin pamit pulang. “Saya pulang duluan ya,permisi” ucap Bunga dan Jackson menjawab
“Baik Bunga hati-hati”
“Sepertinya Bunga sudah tidak nyaman dengan diriku” ucap Jackson didalam hati Dan jackson bergegas pulang ke apartemennya.
Selama dijalan Bunga hanya bisa melamun, dia bingung dengan pertemuan dirinya dengan Jackson, sudah lama Bunga menutup tentang Jackson, dan luka-luka yang diberi Jackson sudah sembuh kini luka itu kembali dirasakan oleh Bunga. Sesampainya di kost Bunga langsung beristirahat.
Pagi hari tiba, Bunga dibanguni oleh dering hp dan ternyata nomor itu sama sekali tidak dikenal Bunga dan Bunga membiarkannya dan melanjutkan tidurnya. Dimana ini hari ke2 Bunga libur kerja. Akhirnya Bungan bangun, dan melihat jam ternyata Bunga bangun kesiangan,dan Bunga mengecek Hpnya dan ternyata ada satu pesan whatsapp masuk. “Hai Bunga ini Jackson” pesan whatsapp masuk dari Jackson.
Lalu Bunga membiarkan pesan dari Jackson tersebut dan Bunga memberesi kostnya sambil mendengar musik kesukaannya. Setelah beberes kost, Bunga bersiap-siap untuk belanja bahan makanan dan sudah siang Bunga juga belum makan, jadi sekalian Bunga makan diluar. Sesampainya diSwalayan Bunga bergegas berbelanja untuk keperluannya.
Setelah itu Bunga menuju kesalah satu tempat yang biasa dia datangi.
“Permisi mbak saya mesan pecal seperti biasa ya dan teh manis dingin satu” ucap Bunga kepada pelayan disitu. Beberapa menit kemudian pesanan Bunga datang, lalu bunga menikmatinya dengan lahap. Jackson mendatangi Bunga, yang kebetulan Jackson sudah tau tempat kesukaan Bunga.
“Hai Bunga” ucap Jackson.
Seketika Bunga hanya bisa terdiam, Bunga heran bagaimana lagi dan lagi Jackson belakangan ini mengikuti dirinya.
“Maaf sebelumnya Bunga, beberapa hari ini aku mengikuti kamu, karena ada hal penting yang ingin aku bahas” ucap Jackson. Lalu Bunga menjawab “Bahas hal penting apa lagi, bukannya dua tahun lalu semuanya sudah selesai?”
“Maaf Bunga, mungkin luka di dua tahun lalu begitu menyakiti kamu, aku terlalu egois dan jahat” Jackson menjawabnya dengan rasa bersalah.
“Ya sudah tidak apa, aku sudah mengubur luka itu dalam-dalam, walaupun sekarang kamu mencoba menggali luka itu” ucap Bunga dengan senyum terpaksa.
“Mungkin harapanku untuk membangun hubungan ini kembali sudah tidak ada, karena luka yang aku beri kamu sudah membenciku, maafin aku Bunga. Setelah ini aku akan menghilang dari kehidupan kamu, karena kamu berhak bahagia” ucap Jackson kepada Bunga.
“Diri ini sudah tidak membenci hanya saja diri ini sudah tidak ingin menggali luka yang sudah dikubur, sekarang kita lanjutkan saja kehidupan kita masing-masing” jawab Bunga
“Saya duluan ya Bunga” ucap Jackson, “Baik lah” jawab Bunga. Setelah itu Jackson dan Bunga tidak pernah bertemu lagi.
Bunga melanjutkan kehidupannya dan berhak memilih kebahagiannya sendiri dan Jackson tidak perlu berlarut-larut dalam penyesalan, cukup sadar akan kesalahan dan tidak mengulanginya dicerita yang berikutnya.
(Ditha Lase)
