ILUSTRASI Puisi “Hanya Bersendu”. (FOTO : Pinterest.com)
Benci
Berkali-kali aku melontarkan kata benci pada diriku yang elusif ini,
Hingga aku tak sanggup mencerminkan wajahku pada kaca yang kasihan pada diriku,
Aku tak tahu apa sebabnya semua ini,
Mungkin aku ditakdirkan selalu sendu pada kehidupan buana pada diriku
Pilu Pada Rautan Luka
Menatap langit dengan alis yang miring keatas mengerutkan dahi pada wajahku,
Menatap sayu bintang-bintang gemerlap hingga kantung mata lelah tak mampu tidur tanpa dipaksa,
Air mata yang kini telah membasahi wajahku,
Sampai-sampai aku bermimpi akukan bersama Sang kuasa di langit angkasa sana,
Kasihan Pada Jiwa Diri
Bintang kerlap-kerlip menyaksikan aku terpojok pada jendela kamarku,
Pecahan kaca disekelilingku merayuku tuk aku jadikan polesan garis tipis pada pergelangan tanganku,
Bingkai foto kecilku yang memancarkan senyum yang indah buatku melerai bahwa aku dulu pernah sebagahagia itu,
Problematika melahap psikisku hingga melahap waktu-waktuku
Menunggu Kilau Hati
Aku berdiam diri sebatangkara menikmati masa yang telah habis perjalanannya,
Pernah melewati masa sulit dan indah bersama dengan penenang hati,
Kini ia telah pergi jauh sampai aku tidak tahu lagi sudah dimana keberadaannya,
Mengungat masa dengan tuan yang manis buat aku jatuh hati kembali
Merindukan Sang Luka
Meratapi hingga tersedu-sedu memandang tawa kita pada video yang lusuh resolusi yang masih aku simpan dengan aman dalam drive teleponku,
Dulu kita pernah sebahagia itu ya wahai tuan?
Aku masih belum paham apa kurangku hingga kamu pergi semena-mena jadikan aku singgahan saja
Kembali denganmu pasti aku takkan mau, namun terimakasih tuan untuk segala rasa dan cinta yang telah kamu beri padaku wahai tuan yang manis
(Maya Janet)
