Categories Cerpen Rehat

Januari hingga Desember 2021

Mama (Foto: HO)

Namaku Welindah. Aku lahir di keluarga yang sangat sederhana. Aku anak perempuan pertama setelah kedua saudara laki-lakiku, yang mana pula menjadi kesayangan keluarga. Sewaktu aku duduk di bangku sekolah dasar ayahku selalu mengahatar ke sekolah yang mana jarak sekolah saat itu sangat dekat dengan rumahku, ibu selalu memasakkan berbagai makanan lezat buat ku dan keluarga. Aku sangat menyayangi ayah ibuku, mereka selalu ada buat ku.

Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kian telah berlalu, suatu ketika ayah pergi selamanya karena penyakit yang dideritanya saat aku berada di bangku sekolah dasar kelas empat. Memebuat ibuku harus menjadi tulang punggung keluarga. Ibu banting tulang dari pagi ke malam, merintis usaha dari nol. Luar biasa, ibu bisa menyanggupi kami lima orang buah hatinya.

Hari-hari kujalani dengan sangat bahagia, tak pernah luput dari rasa bersyukur dengan kehidupan, walau ayah pergi di saat aku sangat membutuhkannya, namun ibu selalu bisa menjadi sosok ibu sekaligus ayah yang luar biasa buat keluarga. Tak sekalipun aku kekurangan kasih sayang bahkan materi, semua terpenuhi. Ibuku mengajarkanku apa itu nilai kehidupan, apa itu kasih sayang, apa itu cinta, serta segala hal yang mencakup apa yang harus dan tidak boleh aku lakukan.

Januari 2021. Ibu merasa ada kejanggalan pada tubuhnya, hingga kami memutuskan untuk memeriksa ke rumah sakit, beberapa kali cek, ternyata ibuku mengidap penyakit kanker payudara, hingga dokter di rumah sakit tersebut mengusulkan untuk dilakukan operasi. Hancur hati saat mendengar hal tersebut. Aku heran, kenapa ibu masih bisa santai dan bercanda kepadaku untuk menutupi pedih hati kecilnya. Sakit hatiku melihat ibu, kecewa kepada yang kuasa kenapa harus memeberi ujian ini di tengah keluarga kami.

Menanggapi dari usulan dokter di rumah sakit, kakak kandung ibuku berbincang-bincang ketepatan kakak kandung ibuku pula berprofesi perawat di salah satu rumah sakit kota Medan. Memutuskan memilih untuk dirujuk ke rumah sakit lebih besar supaya di cek lebih mendalam. Pendek cerita setelah mengurus surat rujuk, aku dan ibuku langsung berangkat ke rumah sakit tujuan yang jaraknya 9 jam dari daerah tempat tinggal kami, setelah sampai kami langsung cek ke rumah sakit tujuan, pihak rumah sakit juga langsung menindaklanjuti dengan tindakan biopsi (tes mendeteksi dan menegakkan disgnosisi penyakit kanker yang dilakukan dengan cara mengambil sampel sel atau jaringan tubuh) pada awal Februari.

Menunggu hasil biopsi keluar, kami sempat pulang ke kampung buat acara pemberkatan rumah yang telah selesai di bangun oleh jerih payah ibu. beberapa hari kemudian kami berangkat lagi ke rumah sakit untuk melihat hasil dari biopsi. Perih  hati ketika mendengar bahwa ibu mengidap kanker payudara, namun ada rasa bersyukur karena ibu mengidap penyakit yang jinak bukan ganas, namun dokter yang menangani ibuku merasa ada beberapa kejanggalan hingga mengusulkan untuk dilakukannya biopsi keduakalinya, benar firasat dokter bahwa ibu ternyata mengidap kanker yang ganas. Aku yang tidak tahu apa artinya namun jantungku berdetak lebih kencang, tak karuan dunia serasa runtuh.

Ibuku sungguh wanita kuat, ibu tak pernah menunjjukan sedihnya di depanku, ia selalu bercanda, tertawa, bahkan selalu menyemangati aku. Tindakan selanjutnya ibuku harus kemoterapi. Ibu menyuruhku untuk pulang kampung supaya aku bisa melanjutkan sekolah yang man aku saat itu duduk di bangku kelas duabelas SMA dan ibuku tinggal bersama kakak kandungnya yang bertempat tinggal dekat rumah sakit yang menangani ibuku.

Bulan demi bulan berlalu hingga rindu terpupuk dilubuk hati, hingga tiba di bulan Juni penerimaan hasil ujian semester ganjil, libur tiba senang hati bisa menyusul dan menjenguk ibu serta membawa hasil ujianku. Tiba di rumah kakak dari ibuku, pelan-pelan aku memeluk ibu yang masih tertidur diatas ranjangnya

“bah…, sudah sampai rupanya putri kesayanganku” ibu menatap dan membals pelukanku.

“iyaaa maa, mama sehat”

“sehatnya terus mama, putriku” mengeratkan pelukannya.

Setelah libur selesai, akupun kembali pulang untuk melanjutkan satu semester terakhir di SMA. Tak terasa Agustuspun tiba tepat tanggal 19 aku di panggil secara tiba-tiba untuk datang ke Medan, sepanjang jalan ibu selalu menelponku untuk menanyakan posisiku berada dimana. Sesampainya di lokasi tujuan, terkejut dan bahagianya diriku, ibuku mempersiapkan kejutan untukku yang mana hari itu, hari ulang tahunku ketujuh belas tahun, pula ulang tahun ibuku ke empat puluh lima tahun, ya benar ulang tahunku dan ibuku persis sama, hari itu adalah hari paling bahagia dihidupku. Tak lama, aku harus kembali ke kampung untuk mealanjutkan sekolah.

Ibuku selalu menginagtkanku supaya setiap jam empat sore untuk meneleponya, pengobat kerinduan dan penenang kesepiannya.

Tiba saatnya ibuku akan melakukan operasi besar, namun serasa disambar petir, September aku harus menjenguk ibuku, karena ibuku saat itu kritis. Teriris hatiku melihat ibu berbaring di ICU, saat ibuku sadar perawat memeanggilku, karena ibuku mencariku.

“Ma… kenapa ma ada yang sakitt”

“Engga, aman” sambil berusaha tersenyum “tidur dimana tadi putriku, ga kedinginan kau kan”

“Engga ma, aman” menatap penuh makna

Tidak lama kemudia perawat kembali mengingatkanku untuk kembali menunggu di ruang tunggu. Tidak hanya sekali ibu mengalami krisis ibuku namun, pasti bisa melewatinya ibuku kuat. Beberapa hari kemudian aku kembali ke kampung setelah keadaan ibuku membaik.

Awal November, aku dengar ibu sudah membaik, bahagia sekali mendengar ibuku akan kembali ke kampung setelah hampir satu tahun berjuang. Banyak cerita terukir, banyak doa yang terpanjatkan, hingga awal Desember ibu mulai berubah, kesehatanya menurun drastis, sakramen pengurapan orang sakit dari pihak gereja sampai pengobatan tenaga medis di kampung sudah diberikan kepada ibuku. Suatu malam ibu sudah sangat sulit untuk berkomunikasi namun aku selalu berupaya mengajak ibu bercerita.

“Ma, tangan mamakan yang akan menyekolahkanku, mama sehat kan ma, mama bisakan maa, mama sayang kan sama aku”

Ibuku sangat berusaha memebuka penglihatannya dan mengangguk, tak bisa kupungkiri duniaku berantakan.

Hingga Rabu salah satu tanggal di bulan Desember menjadi akhir nafas ibuku berhembus, duniaku berhenti. Banyak pertanyaan dibenakku, dari banyaknya orang jahat, kenapa ibuku yang sangat baik yang harus di panggil Tuhan. Tidak adil hidup ini, dunia jahat, pikiranku tidak bisa ku kontrol untuk beberapa bulan.

Hari berlalu hingga di kelulusan sekolah. Memori tentang ibu sedikitpun tak ada yang ku lupa. Berbarengan dengan itu niat yang sempat berhenti menggapai mimipi kini berubah menjadi target yang memebuat aku sampai saat ini bertahan dan berdiri sendiri. Ma, putri kini tumbuh menjadi gadis yang tetap mengejar mimpi yang sudah pernah kita rencanakan ma, doakan putri mu ma. Bahagia ya disana ma, titip salam buat ayah. (Sapna Welindah Nainggolan)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *