Categories Lainnya

Berharap tak berakhir

Sumber: PINTEREST

Namaku Indah, Usiaku kini adalah 18 tahun, menjadi seorang mahasiswa adalah impianku sejak lama yang kini akan terwujud. Aku sekarang berhasil menjadi mahasiswa baru (maba) Fakultas Hukum disalah satu perguruan tinggi di Sumatera Utara. Sebelum memasuki kampus aku dan teman-temanku sudah mencari tempat tinggal yang kerap disebut dengan kata kos. Namun, sebelum menempati kos, aku kembali kekampung untuk mengambil seluruh barang keperluanku. Satu hari sebelum masuk kampus aku memasuki kos yang telah kucari bersama teman-temanku.

Senang hati sepanjang jalan dari kampung menuju kos, namun sungguh kesal dan marah saat tiba ditempat kos karena kamar yang sudah dijanjikan pemilik kos supayaku tempati namun, telah ditempati seseorang terlebih dahulu. Lelah yang diselimuti amarah membuat suasana menjadi buruk, tetapi setelah berbincang-bincang dan menemukan solusi supaya aku yang mengalah lalu pindah ke kamar yang tepat didepan kamar itu. Berat hati ini untuk menolak karena esok harinya telah memasuki hari pertama Perkenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

Pemilik kamar itu adalah seorang pria yang ternyata juga salah satu maba dari Fakultas Fikom bernama Satria, aku sangat membencinya karena persoalan kamar yang telah ditempatinya. Setiap melihat dia ingin rasanya memukul dan memaki. Seiring berjalannya waktu selama dua bulan awal dengan sikapnya yang unik, sopan, ramah, dan humoris. Sepertinya tak dapat  bohongi diri ini semakin dekat dengan dia terlebih saat ku tahu dia pecinta musik dan seorang yang pandai memainkan senar gitar.

Memasuki hampir empat bulan dengan segala komunikasi yang terbangun diantara kami timbul sebuah perasaan, yang dulu sangat benci kini berubah menjadi sebuah rasa suka tersendiri. Suatu malam saat sedang berbincang-bincang bersama tiga teman kos, ia mendekat dan menggenggam kedua tanganku serta berkata,

“Indah tepat hari ini dan ingatlah tanggal sekarang, inilah tanggal jadian kita ya” ujarnya sambil menatapku.

“Aaaaaaaa” teriak ketiga teman kos yang berada disamping kami.

Aku hanya mengngangguk iya, sambil tersipu malu.

Sejak hari itu kami resmi menjadi sepasang kekasih, walaupun kami pacaran tanpa adanya pendekatan dan termasuk masih baru kenal selama hampir empat bulan. Aku sendiri selalu meyakinkan diriku untuk bisa menjadi pasangan baik yang saling mendukung untuk kelancaran pendidikan dan sumber semangat.

Tiga bulan setelah jadian, aku banyak tahu tentang Satria tentang keluarga, pertemananya, masa lalunya dan sebagainya. Namun, tak pernah sekalipun aku memosting atau membagikan foto/video yang memperlihatkan dia adalah pacarku, bahkan apabila berpapasan dikampus aku memilih untuk pura-pura tidak melihatnya. Alasanku berbuat seperti itu karena aku tersadar bahwa ternyata aku hanya suka dan kagum bukan cinta untuk sepasang kekasih. Benar ternyata aku belum cinta pada Satria, walau begitu aku tak mau memutuskan hubungan dan selalu berusaha untuk jatuh cinta kepadanya dan menjadi pasangan yang baik.

Dibalik kisah cinta yang rumit ini, sejak resmi pacaran komunikasi diantara kami semakin jarang, bahkan satu minggu bisa saja tak berkomunikasi bahkan tak berpapasan, walaupun kita satu atap tempat tinggal beda kamar kos saja, aku maupun satria selalu fokus kegiatan kami masing-masing. Istilahnya pacaran ini hanya status saja. Dia kerap mengajakku ke café tempat dia bermain musik, namun jawabanku selalu tidak dan menolak, karena alasanku sendiri yang dia pun tak tahu sampai sekarang.

Satria aktif disalah satu organisasi musik sama aku juga aktif di salah satu organisasi hukum, hal ini menjadi alasan kuat untuk jarang berkomunikasi. Aku punya satu teman pria satu organisasi juga yang aku anggap sebagai sahabat ku sendiri namanya putra. Putra pria rupawan dengan semangat tinggi dalam dunia hukum, ia gemar berdiskusi yang membuat aku tertarik untuk berteman denganya. Banyak hal yang kami bincangkan tidak hanya tentang pendidikan atau organisasi, pembahasan bisa sampai kelatar belakang dan masalah keluarga, yang mana pacarku saja tidak perna tahu tentang latar belakangku. Bahkan waktu yang kumiliki lebih banyak bersama Putra temanku dibanding Satria pacarku.

Suatu saat Putra memberanikan diri mengutarakan persaannya padaku, dimana pada saat itu Satria masih menjadi pacarku. Putra berani melakukan itu karena ia tahu aku belum sepenuhnya mencintai Satria. Hari itu aku bimbang dengan perasaanku yang nyaman dengan temanku namun aku sendiri memeiliki pacar. Keesokan harinya aku memberanikan diri untuk tegas menolak Putra temanku, dengan alasan aku lebih memeilih pacarku Satria, walauku tahu lebih besar perasaan yang dimiliki Putra dan tetep memilih untuk belajar untuk mencintai Satria.

Aku melanjutkan hubunganku dengan Satria hingga aku mengenal beberapa keluarganya dan saling berkomunikasi baik dengan keluarganya. Hampir satu tahun hubungan ini bertahan mulus tanpa ada maslah, akan tetapi suatu ketika Satria berbohong padaku yang membuat pertengkaran untuk pertamakalinya berakibat tanpa komunikasi selama dua hari, namun hari ketiga kami berbaikan. Lagi dan lagi ternyata benar penyesalan selalu datang kebelakangan. Ya, aku menyesal pernah mengambil keputusan untuk lebih mempertahankanya. Karena apa?, karena disaat aku benar-benar memiliki rasa cinta tulus padanya dia ternyata malah menjalin hubungan dengan wanita lain. Hari ku tahu hal tersebut, itu pula hari yang terakhir kami berstatus pacaran. Kami putus sangat baik-baik, dan masih saling menasehati. Sayangnya setelah tiga hari selang kami putus aku mendengar kabar dari temanku ternyata dia telah resmi memiliki pacar baru yang mana juga satu organisasinya. Dua kata untuk dia menyesal dan kesal.

Sekarang aku mencari kesibukan untuk melupakan hal-hal yang tidak penting dihidupku, meninggalkan kekecewaan dan berdamai dengan keputusanku. Fokus untuk meningkatkan pengetahuan, memperluas jaringan dan mencari bahagiaku melalui caraku sendiri. Banyak penyesalan yang hadir. Namun, akan kubuat menjadi pelajaran supaya tidak pernah menyimpan dua perasaan dalam satu hati atau akan kehilangan keduannya. Tapi, tetap saja tak ada sesal dihatiku kini telah kehilangan dia yang buat aku kecewa, namun dia yang seharusnya menyesal telah kehilangan aku yang tak akan pernah ditemukannya diwanita lain. (Sapna Welindah Nainggolan)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *