Seorang mahasiswa yang mengalami depresi dan berpengaruh buruk terhadap kesehatan mentalnya. Minggu (14/01/2023). (FOTO : https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-jakarta/baca-artikel/15694/Pengaruh-Kesehatan-Mental-Pada-Kinerja-Maksimal-Karyawan.ht)
KESEHATAN mental adalah topik yang sering diabaikan, terutama di kalangan mahasiswa yang mungkin merasa terlalu sibuk dengan tugas kuliah, kehidupan sosial, dan berbagai aktivitas lainnya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa masalah kesehatan mental semakin merajalela di era digital ini. Depresi, kecemasan, dan kecanduan adalah beberapa masalah yang sering muncul. Menurut artikel National Trends in the Prevalence and Treatment of Depression in Adolescents and Young Adults (2016) yang ditulis Mojtabai , R., Olfson, M., & Han, B., depresi merupakan gangguan yang umum terjadi. Diperkirakan 5 persen populasi dunia menderita gejala depresi. Depresi bisa mengubah cara kita melihat dunia, membuat kita merasa sedih, kosong, dan kehilangan semangat untuk beraktivitas. Beberapa diantaranya mungkin merasa sulit berkonsentrasi, merasa bersalah, atau bahkan mengalami gangguan tidur. Ini adalah masalah yang serius yang harus kita perhatikan. Di Indonesia, remaja usia 15-21 tahun juga tidak lupt dari masalah depresi. Diperkirakan sebanyak 5,1% dari remaja Indonesia mengalami gejala depresi. Ini merupakakn angka yang cukup tinggi, dan kita harus sadar akan hal ini. Sebuah studi dalam jurnal Determinants of Depression in Indonesian Youth: Findings from a Community-based Survey yang oleh Suryaputri, I.Y. Mubasyiroh, R. Indaiani (2021) menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan depresi pada remaja seperti merokok, minum alkohol, masalah internal/eksternal perkuliahan, menderita penyakit kronis, atau bahkan faktor orangtua. Dari temuan ini, kita bisa melihat bahwa kondisi keluarga juga ikut berkontribusi pada gangguan mental. Jadi, menjaga kesehatan mahasiswa sangat penting dalam mencegah gejala depresi
Penyebab Gangguan Mental Mahasiswa
ADA beberapa alasan mengapa gangguan mental di era digital bisa terjadi, termasuk pada mahasiswa. Penyebabnya Antara lain:
1. Stres digital Era digital membawa kita ke dalam dunia yang penuh dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Hal ini sering kali memunculkan tekanan tambahan dalam kehidupan mahasiswa. Teknologi memungkinkan informasi untuk datang dengan cepat dan dalam jumlah besar sehingga membuat kita seakan harus menjadi responsif. Hal ini tentu saja menjadi beban ditengah aktivitas kita sehari-hari
2. Kecanduan digital Kecanduan teknologi dan media sosial merupakan masalah yang semakin sering muncul. Semkain banyak waktu yang dihabiskan di depan layar, semakin besar risiko gangguan mental. Pengguanaan teknologi dan media sosial secara berlebihan bisa mengakibatkan berbagai dampak negatif termasuk gangguan tidur, penurunan produktivitas, isolasi sosial, dan peningkatan risiko depresi dan kecemasan.
3. Cyberbullying Fenomena cyberbullying adalah salah satu contoh nyata bagaimana era digital bisa merusak kesehatan mental seseorang. Dengan anonimitas yang diberikan oleh media sosial dan platform online, pelecehan dan intimidasi secara verbal atau emosional bisa meningkat dengan cepat. Terkadang kita bisa menjadi sasaran pelecehan tanpa alasan yang jelas yang tentu dapat merusak Kesehatan mental kita
4. Kurangnya interaksi sosial Teknologi memungkinkan kita berhubungan dengan orang-orang di seluruh dunia, tetapi terkadang membuat kita menjadi isolasi sosial. Menghabiskan terlalu banyak waktu di dunia digital bisa mengurangi interaksi sosial langsung dengan orang lain. Hal ini bisa menyebbakan kesepian dan masalah kesehatan mental.
Tips Untuk Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa
UNTUK menjaga kesehatan mental di era digital yang penuh tantangan, ada beberapa langkah atau tips yang bisa diterapkan.
1. Batasi waktu layar Batasan waktu menggunakan perangkat digital adalah kunci untuk menjaga kesehatan mental di era digital. Dengan langkah ini, maka kita akan dapat memperbaiki waktu tidur, produktivitas, dan interaksi sosial kita.
2. Tetapkan batasan media sosial Periksa dan batasi penggunaan media sosial agar tidak mengahbiskan terlalu banyak waktu dan terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat dan malah menjadikan hal tersebut menjadi beban. Pastikan juga bahwa kita tidak mengabaikan aktivitas penting lainnya, seperti tugas kampus atau pekerjaan sampingan. Penting juga untuk berbicara terbuka dengan teman-teman untuk menjaga interaksi sosial secara langsung.
3. Cari dukungan sosial Interaksi sosial adalah elemen penting dalam menjaga kesehatan mental. Jaga hubungan yang sehat dengan keluarga dan teman-teman di dunia nyata. Ajak mereka bertemu secraa langsung, berbicara terbuka, dan berbagi pengalaman. Dalam beberapa situasi, misalnya saat kondisi tertekan atau khawatir, interaksi sosial secara langsung dengan keluarga atau teman menjadi salah satu sumber dukungan yang sangat berharga untuk menjaga kesehatan mental.
4. Buat keseimbangan Prioritaskan kebutuhan diri dan jangan lupakan pentingnya pola makan teratur, olahraga, dan menjaga rutinitas tidur yang teratur. Jaga keseimbangan antara waktu untuk bekerja, belajar, istirahat, dan bersosialisasi. Jika merasa terlalu lelah atau stres, luangkan waktu untuk merenung, bermeditasi, atau menjalani aktivitas merilekskan diri. Dengan merawat diri dengan baik, kita dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan mental.
5. Cari bantuan profesional Jika merasa terlalu cemas, depresi, atau mengalami kesulitan yang menghambat kehidupan, jangan ragu untuk mencari bantuan dari tenaga professional seperti psikolog atau konselor. Penting diingat, dengan perawatan diri dengan baik, dukungan sosial yang kuat, dan kesadaran akan dampak teknologi, kita dapat mencapai keseimbangan yang sehat dalam dunia yang semakin terhubung ini. (Cinthya Sinaga)
Sumber: https://www.kompasiana.com/benedictusadithia9482/652963deedff76507e71f862/pentingnya-menjaga-kesehatan-mental-mahasiswa-di-era–digital
