Categories Cerpen Rehat

Bermula dari Buku Fiksi “Harry Potter”

BUKU-buku di rak (FOTO: PINTEREST)

Di suatu hari, di dalam suatu ruangan kelas 12, seorang laki-laki bernama Harry sedang asik membaca buku novel. Ia dikenal teman sekelasnya sebagai seorang yang bersikap dingin dan cukup pendiam, ia hanya memiliki teman yang sedikit di kelasnya karena ia suka menghabiskan waktu senggang di kelas dengan membaca novel ketimbang bergabung teman sekelasnya. Hal yang paling ia benci adalah ketika salah satu teman perempuan sekelasnya yang orangnya dikenk di kenal dengan “orang yang heboh” mengoceh kepadanya.

“Hey Herry si kulkas dingin, apa kamu tahu berapa nilai UTS IPA mu?”, ujar Rani kawan sekelas Herry yang dikenal dengan gelar “Si Heboh”.

“Tidak”. Jawab singkat Herry kepada Rani sambil tetap fokus membaca novel yang ada di genggamannya saat ini, tanpa sedikitpun menoleh sedikitpun kearah Rani.

“Apa kamu tidak tahu arti ‘Kulkas Dingin’ yah?, kamu cuek sekali Herry”, ketus Rani dengan nada kesal kepada Herry.

“Memangnya kamu tahu apa?, kamu tahu nilaiku?”, sahut Herry dengan ekspresi datar.

“Iya aku tahu nilaimu Herry, tadi aku melihat sekilas daftar nilai IPA di kantor saat aku ingin mengantarkan buku tugas. Kamu pintar juga ternyata ya Herry”, jawab Rani kepada Herry.

Setelah mendengar tanggapan Herry, Rani memperlihatkan ekspresi kesal kepada Herry.

“Hey Herry, kalau kamu begini terus tidak ada yang ingin berteman dengan kamu. Aku niat baik mau berteman dengan kamu Herry, aku suka mengganggu kamu bukan berarti aku jahat.”, ketus Rani dengan nada kesal dan marah kepada Herry.

Mendengar ocehan Rani, Herry  hanya bersikap diam sambil memasukkan buku novelnya ke tas miliknya dan meninggalkan tempat duduknya sampai ia menghilangkan bayangan tubuhnya dari hadapan Rani. Herry menuju keluar kelas, namun ia bingung dan terasa kesepian karena kawan sepermainan yang biasa ia ajak di sekolahnya sudah pindah dari sekolah itu dikarenakan ayahnya resign tempat kerja.

Keesokan harinya, ketika sedang pembelajaran kelas, guru bahasa Indonesia memberikan tugas kelompok yang terdiri dari 2 orang yang ia tentukan sendiri. Seusai meriberikan nama kelompok, Pak Guru Bahasa Indonesia memberikan penugasan yaitu menceritakan ulang suatu cerita dari novel terkenal.

“Hah, aku sekelompok dengan Rani, bagaimana ini, aku kesal sekali jika bersama dia.”, ketus Herry dengan kesal.

“Halo Herry si kacamata kulkas dingin”, sapa Rani sbari mengagetkan Herry dari belakang kursinya.

Herry tersontak kaget dan kesal,” Langsung to the point saja, buku novel apa yang akan kita buat nanti?” tanya Herry dengan kesal.

“Bagaimana kalau kita membahas buku tentang ‘ Harry Potter’ ?,kemarin aku lihat kamu baca novelnya, kebetulan aku juga pernah dan suka nonton filmnya”, ujar Rani dengan nada yang semangat.

Mendengar hal itu, Harry agak kaget, antusias serta heran, ia tidak menyangka orang yang ia benci di kelasnya ternyata suka film yang ia sukai tersebut.

Sepulang sekolah Rani dan Herry menentukan untuk memulai membahas ringkasan cerita ulang tentang Harry Potter. Dalam pertemuan mereka, percakapan mereka ternyata menyatu. Herry tidak tahu bahwa ia akan senyambung itu bercakap dengan Rani.

Sudah sejam lebih, mereka membahas tentang cerita fiksi ‘Harry Potter’ tersebut.Diakhir percakapan mereka, tiba- tiba Rani memberi suatu ungkapan kepada Herry.

“Herry, dari cerita ini , apa pesan yang bisa kamu ambil dari sini?”tanya Rani tiba – tiba kepada Herry.

“Mungkin kita harus berusaha untuk tegar biarpun kita kehilangan seseorang yang kita sayangi, kita harus mencari kebenaran, mencintai kebenaran, dan jangan mudah percaya kepada orang. “, jawab Herry.

“Apa hanya itu yang kamu dapat?,tidak kah kamu sadar bahwa cerita ini Harry Potter tidak akan mudah mencari suatu kebenaran jika tidak dibantu temannya Hermione dan Ron, artinya ia bergantung dengan orang di sekitarnya.”, ujar Rani dengan nada yang meyakinkan.

Mendengar hal itu, Herry agak kaget dan diam dengan kata- kata yang baru saja diucap Rani.

“Hey Herry, dari cerita ini kamu harus dapat pesan untukmu sendiri, kamu jangan suka mengacuhkan orang disekelilingmu, kamu jangan mengaggapi orang seperti melihat musuh di depanmu, aku sudah lama ingin berteman dekat dan baik denganmu namun kamu seperti tidak suka melihatku.”, ketus Rani.

Sejak di hari itu, Herry sadar bahwa dalam sosial, kita harus hati-hati dan tidak boleh suka mengacuhkan orang yang ada di sekeliling kita, kita harus menanggapi mereka dengan baik. Karena dibalik orang yang ada di sekeliling kita , ada orang yang ingin peduli dengan kita. Kita  jangan mudah memandang orang sebelah mata hanya dengan melihat penampilannya. (Maya Aristia Janett Manullang)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *