ILUSTRASI kamar rahasia. (FOTO: PIXABAY.COM)
Pada liburan semester bulan lalu, aku dan keluargaku berkunjung ke Rumah Kakek. Kami tinggal disana untuk menghabiskan liburan. Aku dan adikku Mawar, sangat bahagia karena di rumah Kakek kami bisa bermain sepuasnya. Ditambah rumah Kakek sangat luas semakin membuat kami betah tinggal disana. Kami bisa bermain dengan leluasa bahkan di rumah Kakek kami bisa main petak umpet dan Kejar kejaran karena begitu luasnya, ditambah dengan berbagai perabotan yang unik unik yang sudah puluhan tahun lamamnya membuat rumah kakek nyaman dipandang.
Suatu ketika adikku Mawar, bertanya kepada saya,
“kak, ini kamar siapa ya? Rasanya sudah beberapa hari kita tinggal di sini, tapi kamar ini tidak pernah buka.”
“Kakak kurang tahu Dik.” Jawabku spontan.
Seketika saya terdiam. “Oh iya ya, saya tidak menyadari bahwa kamar ini tidak pernah buka”. Tambahku dalam hati.
Namun, adikku tidak menghiraukan hal tersebut dan segera mengajakku pergi bermain ke Taman.
“Ya sudahlah kak, kita main ke Taman aja yuk. Sembari kita panggil Melati anak tetangga sebelah ya kak.” Ajak adikku sambil menarik tanganku.
Kami pun pergi bergegas ke Taman. Ternyata Melati sudah di Taman dengan teman temannya yang lain. Kami pun bermain bersama sama. Di sela sela permainan saya selalu bertanya tanya dalam hati, “Itu kamar apa ya? tampaknya ada yang tidak beres.”
Menjelang sore, kami segera pulang ke rumah masing masing.
Namun, aku masih bertanya tanya dalam hati mengenai kamar itu. “Itu kamar apa ya? kok kelihatannya agak mencurigakan ya. Aku harus membukanya”
Malam harinya, setelah makan malam, Kami kumpul di ruang tamu sambil bercerita- cerita. Tapi, aku takut bertanya kepada kakek mengenai kamar tersebut, karena sebelum berangkat Ayah saya berpesan supaya kami tidak mengusik perabotan kakek yang begitu unik.
Setelah kumpul dan bercerita, kami pun tidur bersama. Ketika keluargaku semuanya sudah tidur, aku masih di hantui untuk segera membuka kamar kakek tersebut. Namun, keadaan tidak memungkinkan untuk ku membuka sekarang kamar itu, ditambah kamar itu di kunci oleh Kakek.
“Ya sudahlah besok saja saya buka kamar itu.” Ucapku dalam hati sambil menarik selimut untuk segera tidur.
Paginya, saya segera menghampiri kakek yang tengah duduk di teras sendirian.
“Kek, itu kamar apa ya? Kok nggak pernah terbuka?” Tanya ku dengan nada pelan ada kakek karena takut di dengar orang tua saya.
“Oh, kamar itu. Itu kamar biasa kok. Tidak ada apa apa.” Jawab kakek dengan singkat. “Tapi kok tidak pernah dibuka Kek?” Tanya ku lagi.
“kan, tidak ada yang menghuni kamar itu, untuk apa perlu dibuka, toh nggak ada tujuan kita kedalam.” Tambah kakek lagi.
Tiba tiba Ayah datang menghampiri kakek membawa sepirik pisang goreng. Karena Ayah datang, saya tidak berani melanjutkan pertanyaan saya lagi karena takut Ayah akan menegor saya.
Dengan segera saya pergi ke dapur menjumpai adik saya, Mawar.
Namun saat menuju dapur, saya melihat kunci Kakek diatas meja.
“Eh, ada kunci Kakek nih.” Tanpa berpikir panjang saya segera mengambil kunci tersebut.
Dengan perlahan saya mencari-cari dan mencocokkkan kunci mana yang pas dengan kunci kamar tersebut.
Tiba tiba Mawar menghampiri saya.
“Untuk apa kakak membuka kamar ini? kan Ayah sudah berpesan bahwa kita jangan pegang pegang perabotan kakek, dan Ibu juga bilang bahwa kita tidak boleh memasuki kamar kamar Kakek tanpa seijin Kakek. Itu tidak sopan namanya loh kak.” Ujar adikku yang heran melihat tingkahku.
“Tapi Kakak kepo loh Dik apa isi kamar ini. Lagian kalau Saya buka Kakek tidak akan tahu itu, karena Kakek dan Ayah lagi makan pisang goreng di teras dan Ibu lagi masak di dapur. Nanti pasti tidak ketahuan itu Dik.” Jawabku panjang lebar sambil mencari- cari kunci yang pas.
Tapi kak, walaupun tidak di lihat oleh mereka, kan kita sudah dinasehati oleh Ayah dan Ibu. Kalau jangan kata orang tua ya jangan dilakukan kak, kita harus patuh walaupun tidak di awasi. Kita juga sudah janji bahwa kita tidak akan mengusik perabotan- perabotan kakek dan memasuki kamarnya. Yang artinya, kita tidak boleh melanggarnya. Karena janji itu adalah utang kak. Masa kakak tidak ingat pesan dari Ayah dan Ibu? Dan bagaimana nanti kalau ketahuan? Kita bisa dimarahi oleh Ayah dan Ibu loh Kak.” Tambah adikku panjang lebar karena melihat aku yang sedang kewalahan mencocokkkan kunci yang pas dengan gemboknya.
“Nggak apa apanya itu Dik, sekali kali melanggar janji nggak masalahnya itu. Nggaknya nanti itu dimarahi Ayah.” Jawabku dengan nada pelan.
Karena kesal adikku segera pergi meninggalkan aku sambil berkata, “Nanti kakak pasti menyesal sendiri.”
Tiba tiba… krek…. pintu terbuka.
“Kok gelap sekali ya,” tanpa berpikir panjang saya segera memasuki kamar ya luas tersebut. Dan alangkah terkejutnya saya karena saya tidak sengaja menginjak sesuatu.
“Aduh… aduh… sakit… sakit….” Ucapku dengan nada keras sambil mecucurkan air mata.
Tiba tiba seisi rumah segera menghampiri Saya. Kakek yang sudah tahu dimana sakelar lampu kamar tersebut segera menyakan lampu, dan ruangan pun terang.
Ternyata betul kata Kakek. Ruangan tersebut hanya gudang Kakek tempat Kakek membuat koleksi barang barang antik dan unik.
Ketika saya melihat kaki saya, ternyata saya menginjak paku kecil yang berceceran di lantai.
Karena panik, ayah segera membawa saya ke klinik terdekat. Akhinya kaki saya diobati namun, tidak bisa bejalan seperti biasanya karena lukanya cukup serius.
Ketika perjalanan pulang dari klinik ke rumah Kakek, Ayah yang nampak kesal langsung memarahi Saya.
“Kan, Ayah sudah bilang, jangan dipegangin perabotan kakek! Kalau begini siapa yang rugi? Kenapa kamu begitu keras kepala sekali? Padahal kamu sudah berjanji untuk tidak bandal dan akan mematuhi janji.” Ucap Ayah.
Aku hanya terdiam membisu sambil menahan air mata karena telah menyesal telah melanggar janji ditambah rasa sakit kakiku yang begitu luar biasa.
Kalau sekarang pun kamu tidak bisa komitmen dengan janji kamu, bagaimana kedepannya? Kalau sekarang kamu tidak bisa bertanggungjawab pada hal hal yang kecil, bagaimana dengan tanggungjawab yang lebih besar keesokan harinya?” Tambah Ayah lagi. (Putri Artama)
