Categories Artikel Rehat

Pesta Tradisi “Kerja Tahun”, Bentuk Ucapan Syukur Masyarakat Karo

KEMERIAHAN Kerja Tahun/Merdang Merdem Gendang Guro-guro Aron di Desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo pada Selasa (17/10/2023). (FOTO: HO)

VERITASUNIKA.COM, KARO – Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, dan bahasa. Meskipun memiliki banyak sekali keberagaman, namun Indonesia tetap satu, sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Keberagaman di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan terus dilestarikan. Berbagai bentuk budaya daerah merupakan akar dari budaya nasional. Jika budaya daerah berkembang, maka budaya nasional juga berkembang.

Salah satu daerah yang sampai saat ini masih melestarikan budayanya adalah Tanah Karo. Tanah Karo merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Utara yang terletak sejauh 77 km dari Kota Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Salah satu budaya yang masih dilakukan oleh masyarakat Karo sampai saat ini adalah tradisi “Kerja Tahun” atau dalam bahasa karo sering disebut dengan “Merdang Merdem”.

Kerja Tahun atau Merdang Merdem merupakan sebuah perayaan yang dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Perayaan tersebut merupakan bagian dari ucapan syukur kepada sang pencipta karena kegiatan menanam padi telah selesai (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerja_Tahun).

Selain itu, dikutip dari artikel “Kerja Tahunan, Pesta Tradisi Masyarakat Karo hal 86-90” yang dimuat di : https://ejournal.unsri.ac.id, Kerja Tahun terdiri dari dua kata yaitu Kerja dan Tahun. Kerja dalam bahasa karo di artikan pesta dan Tahun untuk menunjukkan jarak waktu satu tahun. Jadi, dapat diartikan Kerja Tahun adalah pesta tradisi yang dilakukan masyarakat karo setiap tahun. Pesta tradisi tahunan ini berhubungan dengan kehidupan pertanian, khususnya tanaman padi. Dalam merayakan Kerja Tahun ini, biasanya seluruh masyarakat kampung yang ada di Tanah Karo ikut merayakannya.

Momen tersebut juga sering dimanfaatkan muda-mudi karo atau yang disebut dengan singuda-nguda/anak perana sebagai ajang mencari jodoh. Tak jarang pula kesempatan ini dijadikan anak rantau untuk melepas rindu kepada seluruh keluarga dan sanak saudara dengan pulang ke kampung halamannya masing-masing.

Perayaan Kerja Tahun di Tanah Karo biasanya dirayakan pada bulan yang berbeda di setiap kecamatan. Penentuan jadwal pelaksanaan disesuaikan dengan peredaran bulan dan disepakati secara musyawarah antara masyarakat, pemuka adat, dan pemerintah desa setempat.

Setelah jadwal disepakati maka perayaan ini akan dilaksanakan dengan berbagai persiapan dan dibagi atas tiga bagian, yakni Motong atau sering juga disebut dengan Mantem yang merupakan hari persiapan. Matana atau sering juga disebut dengan Man-man yang merupakan acara puncak dan yang terakhir adalah Nimpa yang merupakan acara penutup.

Perayaan ini dimeriahkan oleh pesta Gendang Guro-Guro Aron yang merupakan pesta tari tradisional karo. Di sinilah diberi kesempatan bagi muda-mudi karo atau singuda-nduda/anak perana untuk landek (menari) bersama. Momen inilah yang dijadikan juga sebagai ajang mencari jodoh oleh muda-mudi Karo atau singuda-nguda anak perana.

Tak hanya muda-mudi karo atau singuda-nguda/anak perana yang mengisi acara pesta tersebut, biasanya orang tua juga mendapat bagian untuk landek (menari) sesuai dengan arahan pembawa acara. Dalam hal ini, biasanya panitia pelaksana juga menghadirkan Perkolong-kolong atau penari khusus dan penyanyi-penyanyi karo sebagai bintang tamu untuk memeriahkan perayaan tersebut.

Kerja Tahun adalah tradisi yang berhubungan dengan kehidupan sosial ekonomi khususnya pertanian padi masyarakat Karo. Tradisi ini mengandung aspek religi dan sosial dan tradisi ini merupakan hal yang sangat perlu dilestarikan dan harus tetap dilaksanakan setiap tahunnya sesuai dengan situasi/kondisi masyarakat. Tradisi Kerja Tahun adalah salah satu kekayaan budaya bangsa kita Indonesia, dengan tetap melestarikan budaya daerah seperti ini maka kita sudah berhasil mempertahankan budaya nasional.  (Valentina Br Ginting)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *