Potret Indahnya Keberagaman (FOTO: Dokumen Pribadi)
“Tak semua orang mau dan mampu bertoleransi. Pegiat toleransi harus punya dada yang lapang dan punggung yang kokoh!” tegas Sonny (Imam Katolik) saat ditanya apakah semua orang mampu bertoleransi.
UNIKA, VERITASUNIKA.COM – Minggu, 10 Juli 2022 bertepatan dengan hari raya kurban, Idul Adha. Sepulang ibadah hari minggu pemuda Katolik mendapat undangan dari Idris, Mubaligh Ahmadiyah Medan untuk berjumpa di Susteran SLB B Karya Murni Pasar Merah.
Misanti, Ketua KBMK (Keluarga Besar Mahasiswa Katolik) langsung menggerakkan para pemuda yang masih berada di Gereja. Dengan semangat enam orang pemuda katolik berangkat menggunakan sepeda motor, tepat pukul 06.30 sore dari gereja St. Yoseph Jln. Dr. Mansyur menuju Pasar Merah.
Semangat yang membara menepis dinginnya angin malam kala itu. Indahnya lampu jalan kota seakan mengiringi perjalanan ini. Tak terasa langit pun semakin gelap hingga kami tiba di sebuah bangunan, tampak susunan batu bata yang menjadi ciri khas bangunan Katolik.
Kami pun melangkah masuk menuju ruangan dengan wajah yang riang. Sambutan para suster yang lembut mengarahkan kami menuju ruang makan. Tampak satu keluarga muslim yang sudah duduk meyambut kedatanagn kami dengan senyuman bahagia.
Kami pun menyapa dan menyambut uluran tangannya. Sembari menduduki kursi rotan, kami di suguhkan camilan layaknya kumpulan muda dengan pembicaraan yang mengundang gelak tawa.

Interaksi Tanpa Memandang Perbedaan (FOTO: Dokumen Pribadi)
Saling melempar lelucon di antara mereka, termasuk di acara reuni kecil-kecilan ini adalah hal yang sangat biasa. Meski mungkin buat orang lain lelucon mereka dapat dianggap kurang sesuai.
“Kalau katedral Jakarta menyumbang kurban satu lembu besar, Romo apa?’ tanya seorang Suster pada Sonny (Imam Katolik).
Sonny menjawab sekadarnya sambil melempar lelucon dan mengundang gelak tawa yang lain. Idris dan Istrinya pun tertawa sambil menggelengkan kepala menandakan kewalahan dengan ucapan Sonny yang sedari tadi membuat lelucon mewarnai perbincangan mereka.
Perbincangan pun berlanjut sampai kurang lebih 2 jam lamanya, diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan daging kurban yang dibawa keluarga Idris dari Masjid Muabarak. Setelah itu kami pun saling berpamitan,
Sonny pun ikut mengarak mobil keluarga Idris. Tampak tulisan “Humanity First (HF)” di bagian belakang mobil, mengingatkanku ketika kunjungan ke Masjid Mubarak, dimana itu merupakan nama lembaga sosial yang digunakan Ahmadiyah demi mewujudkan mottonya, yaitu cinta kasih untuk semua orang, kebencian tidak untuk siapapun atau sering disebut “Love For All, Hatered For None”.
Kilas Memori Kolaborasi Persaudaraan Pada Bulan Ramadan

Potret Toleransi Umat Beragama (FOTO: Dokumen Pribadi)
Toleransi bukanlah hal yang baru kita dengar. Gaungan dan ajakan untuk bertoleransi sudah menjadi makanan pokok bangsa Indonesia yang beraneka, salah satunya dalam keagamaan. Ajaran setiap agama sudah menyebar luas di seluruh Indonesia. Setiap orang berhak memilih dan menjalankan ajaran yang mereka percayai, sesuai dengan Pasal 29 UUD RI 1945.
Walaupun begitu, masih kerap terjadi kasus-kasus intoleran khususnya dalam kebebasan beragama di Indonesia termasuk Sumatera Utara. Menurut hasil penelitian dari Setara Institute terjadi peningkatan peristiwa intoleransi di Kota Medan mulai dari tahun 2017, 2018, dan 2021 berturut-turut yaitu 1.250, 3.000, dan 4.000 peristiwa.
Dengan peringkat kota toleran pada tahun yang disebutkan, berturut-turut yaitu 72, 86, dan 64 dari 94 kota. Walaupun terjadi peningkatan peringkat dari tahun 2018 ke 2021 dari peringkat 86 ke 64 namun peristiwa intoleransi juga meningkat dari 3.000 ke 4.000 kasus. Maka dari itu perlu tindakan nyata dari pemerintah, warga dan lembaga.
Dilansir dari www.beritasatu.com, Sumatera Utara menduduki posisi ke-lima peningkatan peristiwa kasus Pelanggaran Kebebasan Beragama (KBB). Menyatakan bahwa hampir setiap tahun ada peristiwa kasus intoleran, dimana sebanyak 11 peristiwa sepanjang tahun 2021.
Dari sekian banyak kasus Intoleransi, maka pemuda Kristen Katolik dan Muslim Ahmadiyah membuat aksi nyata merawat toleransi di Kota Medan dalam kegiatan kolaborasi antar pemuda lintas agama. Mulai dari merayakan hari raya agama bersama dan membersihkan rumah ibadat bersama. Dengan merekatkatkan persaudaraan didalam perbedaan mereka percaya kedamaian akan tercapai.
Perubahan Paradigma
Salah satu peserta kegiatan aksi nyata merawat toloransi adalah Ivando, pemuda Katolik. Dimana sebelumnya Dia jarang berkawan dengan kaum muslim karena banyaknya stereotipe mengenai Kristen dan Muslim atau Babi dan Sapi di tengah-tengah masyarakat Indonesia termasuk di Medan.
Salah satu pemicu yang mendorong prasangkanya terhadap kaum muslim adalah pemerintah yang menurutnya cenderung berpihak terhadap agama muslim. Tapi setelah mengikuti kegiatan kolaborasi lintas agama dengan tujuan mewujudkan kerukunan antar pemuda lintas agama mengubah pola pikrinya.
“Semakin sering berkolaborasi akhirnya stigma-stigma itu terhapus juga sih. Perbedaaan tidak akan bisa disatukan tapi harus diterima, jangan pernah ada stigma dipikran kita masing-masing bahwa kita itu berbeda!” tegas Ivando dengan peracaya diri.
Ivando pun mengakui bahwa banyak pengetahuannya yang bertambah mengenai umat Muslim setelah berkunjung ke Masjid melihat kawan muslim beribadah dengan salat.
“Ku kira ya, ga muhrim itu hanya di film-film aja karna yang sering ku lihat dimasyarakat umum mereka saling berdekatannya, tapi ternyata memang itu betul adanya. Setelah di Masjid laki-laki dan perempuan sangat dibedakan, jadi mengubah cara pikirku bahwa muslim yang sebenarnya itu begini mungkin yang melanggar itu ya masih kurang ibadahnya, hehe,” kata Ivando menyerukan pendapatnya setelah mengingat kembali momen persaudaran dengan Ahmadiyah.
Sedangkan menurut pandangan Ika dari pemuda Ahmadiyah bahwa dia sangat suka beroganisasi, berinteraksi dan berkawan dengan semua orang tanpa memandang agama.
“Aku berkawan gak mandang agama atau suku segala macam, Dia nyaman ku kawani yaudah berkawan,” ucap Ika dengan semangat.
Tak hanya itu Ika pun menambahkan pernyataanya.
“Kalau soal keimanan, itu hanya urusan kita pribadi sama Tuhanlah iyakan kak. Tapi soal interaksi kemanusiaan ga mesti milih-milih, apalagi udah besar kita udah tahu yang baik dan buruk, menurutku semua agama menuntut yang namanya kebaikan,” tegas Ika kembali. (Natalia Agrina Ginting)
***
Tulisan ini bagian dari program Workshop dan Story Grant Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) atas dukungan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
