Categories Cerpen Rehat

MANTRA PENITIS

Cerita Pendek “Mantra Penitis” (FOTO: DOK PIXABAY.COM)

Pada hari ke lima saat senja memanggil malam, tampak sepasang suami istri mengunjungi kuil terbengkalai tepat di tengah hutan pelosok Cimata (sebuah desa dikaki gunung Insantra).  Mulut mereka komat-kamit bagaikan orang yang memohon doa, dibalik reruntuhan bangunan tersebut  sang Suami menyuguhkan sesajen yang telah di sediakan sembari menaburi bunga disekeliling Istrinya. Dalam kepala yang tertunduk khusyuk, perempuan tersebut tiba-tiba mendongkak dengan mata berselaput putih, tatapannya tajam penuh dendam dan benci.

“Hormat dan sujud saya Nyai Butarie, Penghuni lorong kesengsaraan sebumi Bimaraya. Hormat kepada kekuasaan kegelapan.” Kata Suami menyembah hingga kepala menyentuh tanah. “Ada apa kau memanggilku! Generasi penghancur sang titisan pelayan kegelapan hingga mengganggu proses pemulihanku di pelantaran alam bendatara ini?”

“Saya hendak melaporkan peristiwa Bulan Darah yang sebentar lagi jatuh pada purnama ketiga tahun ini, Mbah Sumping dikhawatir tidak sanggup menyiapkan ritus penggabungan dikarenakan pemberontakan aliran putih Nyai Kesumba yang suka mencampuri urusan kita.” Lanjutnya dengan wajah tertegun.

“Murtad! Brengsek! Persiapkan serdadu ghoib, latih bibir dan ilmu kanuragan manusia sesat pengikut Ratu kesengsaraan, Nyai Butarie. Apabila kurang, tanamkan tiang-tiang Mawar darah Utarie. Ketika kelopaknya menghasilkan bau semerbak, itu akan mengikat jiwa-jiwa yang berkelana. Perbanyak kebencian serta dendam yang memaku kesengsaraan untuk persembahan darah. Supaya sengsara tetap abadi maka aku cepat pulih.” Setelah itu badan perempuan itu ambruk terkujur dengan garis yang membelah kedua wajahnya yang disusul darah yang terus mengalir. Bukannya berteriak histeris seperti yang diharapkan, Suami tersebut santai membuat tempat perapian lalu membakar tubuh sang Istri kedalam kobaran yang menyala.

Malam itu berubah kematian, sedingin layaknya mayat dalam lemari pembekuan. Jalan kosong melompong, jeritan terdengar dibeberapa rumah dukun santet penyembah Nyai Butarie. Ayam berkokok juga gonggongan yang meraung-raung nyaris bersamaan sebelum pagi menjemput. Bising! Sangat mengganggu, bayi-bayi teriak bertangisan. Penduduk bersembuyi dalam diam tanpa lisan yang memprotes atau menantang malam itu. Mereka bungkam dalam ketakutan, seperti tahu petaka yang ada didepan.

Berpindah ke kediaman Nyai Kesumba, tampak beberapa orang sedang merancang siasat di malam sesak yang menghimpit, menyusun strategi sebelum tanggal dijanjikan genap terjadi. Mereka dikenal sebagai ‘Saputih Mubari’, komplotan putih pendukung damai di bumi pertiwi. Mereka sering menyembuhkan orang yang sakit akibat santet, bahkan mengusir para dedemit yang meminta tumbal manusia. Mereka terdiri dari Kyai dan manusia yang memiliki kemampuan istimewa yang kita kenal sebagai ‘indigo’.

“Abah, Bin Taah. Nyai, Sumba Bulana. Sebenarnya hal apa yang akan terjadi pada Purnama ketiga? Mengapa ritus ini sangat dinantikan oleh komplotan Nyai Butarie?” Tanya Panji pada Neneknya. “Ritus bulan merah, mereka akan mempersembahkan Butarie yang akan diseberangkan ke dimensi ghoib untuk menjemput Den Raka Surapati, pasangan pengantin Butarie.”

“Ada apa kalau menjemput suaminya? Apakah ada hal yang aneh?” Sahut Cika. “Sebelum menjemput pengantinnya, Butarie akan melancarkan bencana dan malapetaka di bumi. Dan bila ia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, suaminya. Tidak ada manusia yang aman, karena jiwa-jiwa merana akan berubah menjadi bentuk paling menjijikan yang akan menggoroti bumi. Butarie akan mengandung serta melahirkan Raja baru Kegelapan.” Ucap Nyai kesumba yang sekaligus Nenek dari Panji dan Cika.

“Lalu bagaimana kita mencegahnya, Nyai?” Celetuk Kyai Cokro yang bersama-sama dengan mereka. “Kita harus menemukan potongan teka-teki masa silam, karena dalam penglihatan yang telah ditunjukan oleh titisan Nyai Kesumba sebelumnya, mereka masih belum mengetahui kapan dan berasal darimana Nyai Butarie, Ratu lorong kesengsaraan.” Kata Nyai Kesumba sambil tertegun di kursinya.

Keesokan harinya Cika dengan abangnya Panji berangkat ke sekolah. Namun, seakan perjalanan yang mereka tempuh terasa jauh dari sebelumnya, sepertinya ada yang menutupi jalan mereka. Hal ini pun dirasakan oleh keduanya, seperti ada yang berusaha mengganggu mereka.

“Keluarlah Setan Bengik! Tidak perlu sembunyi!” Bentak Cika diiringi Panji yang sudah melepas jiwanya dari raganya. “Biar aku yang urus, kamu jagai saja ragaku” Ucap Panji setelahnya pergi ke arah asap hitam tak jauh didekatnya. Selang beberapa menit kemudian tampak Panji yang telah berhasil mengalahkan makhluk yang mengahalangi jalan mereka. “Kali ini siapa Bang?” Tanya Cika pada Panji. “Gonderuwo Hitam,” ucap Panji seperti menyimpan sesuatu. Cika yang merasakan hawa yang tidak biasanya dari tubuh Panji hanya diam sambil mencoba menerawang apakah yang ada bersama dia itu adalah Abangnya.

“Abang yakin udah ngalahin gonderuwo itu?” Tanya Cika kemudian, “Atas dasar apa kamu bertanya seperti itu, Dik?” Balas Panji tenang, “mana mungkin aku balik sebelum mengalahkannya, bukan?” Tegas Panji.

Dari sekolah hingga berpulang kerumah, Cika merasakan ada yang aneh dengan Abangnya itu. Satu, setiba mereka di sekolah sudah ada Kuntilanak yang menyambut mereka lalu menghilang tiba-tiba, dan Panji yang dikenal pemberani dan seenaknya sendiri hanya diam saja dan mengatakan “Biarkan saja”. Kedua, ditengah pembelajaran ada satu kejadian dimana di beberapa kelas ada kesurupan secara bergilir. Tetapi sayangnya, Cika tidak dapat melihat sosok tersebut dan ketika melihat Panji yang duduk tak melakukan apa-apa kemudian tersenyum ketika tidak ada satu orangpun memperhatikannya. Biasanya Abangnya itu dikenal sembrono dan suka menaklukan beberapa makhluk yang mengganggu. Tapi hari ini tidak seperti biasanya. Ketiga, Setelah sampai kerumah Panji seperti menduga-duga ruangan disetiap rumah, seperti seorang tamu yang baru pertama kali memasuki rumah seseorang.

Karena hal ini, ia pun segera melaporkan kejadian ini kepada Neneknya, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada sesuatu ketika Neneknya menerawang tubuh Panji. “Nduk, mungkin hanya perasaanmu saja!” Ujar Neneknya.

Purnama ketiga pun tinggal hitungan hari, namun suasana dari pagi hingga menjelang malam terasa mencekam. Kyai Cokro dan bersama rombongan sekutu Nyai kesumba sudah selesai berlatih mempersiapkan pertempuran beberapa hari lagi. Walaupun informasi tentang Nyai Butarie masih saja bagaikan potongan-potongan yang belum terselesaikan. Hingga mendekati magrib Panji dan kawan-kawannya yang berlatih di hutan keramat milik Kesumba tidak muncul juga, Kyai Cokro mencoba kembali ke ruang dimensi yang di bentuk pohon Keramat tersebut. Dan begitu terkejutnya ia melihat bahwa semua orang terbaring di tanah. Jiwa mereka diikat oleh serbuk merah yang membuat mereka mati kian perlahan. Namun, beum sempat mengabari Nyai Kesumba, jiwa Kyai Cokro pun tertanam di tanah seperti ditarik oleh sebuah benang yang cukup kuat. Sayangnya, benang yang menyerupai serbuk tersebut kian lama menghisap inti kehidupannya. Hingga, naasnya tidak ada yang tersisa.

Terdengarlah kabar ke telinga Nyai Kesumba bahwa cucu, abdi setianya kyai cokro beserta rombongannya hilang dalam suatu peristiwa. Hal ini memicu kemarahan Nyai Kesumba, ia bergegas membawa rombong yang banyak walau belum tiba saatnya. “Keluar kau Nyai Butarie! Kembalikan cucu, abdi, dan seisi sekutuku yang kau sembunyikan entah kemana! Marah Nyai Kesumba. “Hahaha! Apa kau bilang? Kembalikan? Bagaimana aku dapat mengembalikan sesuatu yang sudah tidak ada! Alias tewas, hahahah…” Jawab Nyai Butarie dengan badan setengah ularnya. “Apa kau bilang? Kau membunuh mereka! Awas kau wanita jahanam aku akan membunuhmu sekarang juga!” Teriak Nyai Kesumba.

Mereka akhirnya bertarung hingga rombongan Nyai kesumba dipukul habis oleh dedemit beserta jin milik Nyai Butarie. “Aku Sumba Bulana! Aku sendiri yang akan menghabisimu! Walau nyawaku sebagai gantiya!” Ucap Nyai Kesumba sambil berlumuran darah. Ia pun membaca mantra terlarang Sang penitis Kesumba. Mantra tersebut diucapkan apabila titisan Nyai Kesumba sebelum ajalnya ia akan mengikat satu orang untuk ikut bersamanya ke jurng maut dan selamanya terkunci disana sedangkan sebaliknya, tidak ada lagi titisan Nyai Kesumba untuk selanjutnya karena jiwanya terkunci selamanya, makanya disebut mantra terlarang.

“Ikatlah! Ikatlah Butarie bersamaku!” Ucap Nyai kesumba seketika kilat membawa mereka. Ketika matahari pagi menyinari bumi Insantra. Jin dan dedemit terbakar, rombongan Nyai Kesumba yang tersisa melepas lega dalam kepedihan.

Cika yang ikut dalam pertarungan hanya bisa tertegun setelah Nenek dan Abangnya telah tiada. Senyum terukit di beberapa wajah rombongan Nyai Kesumba. Seakan mengisyaratkan kemenangan mereka dan memulai lembaran baru setelah ketegangan beratus tahun telah sirna. Karena apabila Nyai Butarie masih ada, sekutu kesumba akan tetap ada karena itu telah mengikat generasi ke generasi mereka.

Hal, yang luput dari mereka hanyalah satu cerita tentang Butarie, dalam berkas yang tertinggal dalam ruang pengikut Butarie. Cika menemukan fakta bahwa Butarie sebenarnya adalah manusia. Dahulu kala, di kerajaan kuno memiliki ritus khusus kerajaan dimana hanya keluarga dan orang-orang sekitar kerajaana yang tahu ritus ini. Anggota kerajaan akan mempersiapkan tujuh orang wanita yang masih perawan, untuk dikorbankan dalam pemilihan Raja untuk negara tersebut dengan mengundang Dedemit kalangan bawah. Diyakini, bahwa raja yang dipilih akan memakmurkan negara dibawah bantuan Iblis. Ketujuh wanita tersebut termasuk Butarie, ia beserta enam wanita lainnya dijadikan pelayan yang akan menjadi tumbal kerajaan.

Butarie yang dulunya masih remaja berkembang menjadi wanita dewasa yang cantik jelita. Diam-diam ia memiliki seorang kekasih bernama Den Raka Surapati, yang saat itu juga merupakan calon Raja. Ibu Den Raka Surapati, Sumba Bulana yang mengetahui hal tersebut marah serta merta mengusir Butarie dari kerajaan. Dalam pengasingannya Butarie yang mengandung anak Den Raka Surapati tetap mempertahankan bayi tersebut. Hingga hal itu diketahui oleh Den Raka Surapati dan ibunya Sumba Bulana. Naasnya, setelah diakui beberapa bulan Den Raka Surapati, membunuh Butarie secara keji. Menyeret dan mpertontonkannya dihadapan Anggota inti kerajaan yang sebagaian besar adalah penyembah Iblis. Darahnya dipercikan ke seluruh area kerajaan, hingga jiwanya menyatu  dalam sengsara yang berkepanjangan. Sumba Bulana yang menyesali hal tersebut mengikuti jiwanya dan mengajak arwah Butarie ke lorong Ular Putih pelindungnya. Arwahnya di jaga oleh Sumba Bulana hingga sesuatu yang tak terduga memisahkan mereka, dikarenakan usia Sumba Bulana yang mendekati ajal.  Namun, ular tersebut sepeninggalan Kesumba, menjadi ganas dan tak terkendali. Ia kembali kesifat aslinya serta mengungkit kenangan Butarie yang perlahan memudar. Rohnya menjadi panas lalu ingin menuntut balasan, Dengan bersetubuh dengan Ular Putih “Raden Misu Bala Ntranta” yang berhasil meruntuhkan kerajaan tersebut dengan mengikat kerajaan dalam mantra terlarang.

Untuk membalas kebaikan Raden Misu Bala Ntranta ia menjadi abdi untuk rencana besar Ular Putih tersebut, yang misi pertama ialah mencari keturunan Sumba Bulana baik itu keturunan penitisnya guna dijadikan wadah untuk dirinya bila di alam manusia sehingga ia perlu mengikat dirinya dengan Sumba Bulana untuk menjemput sekalian mengaktifkan segel di alam Intraloka (dimensi lain alam baka) tempatnya bertapa. Seketika membaca hal tersebut, mata Cika membelalak, ia tak sanggup mengatakan kepada yang lain bahwa rencana mereka sudah gagal dan bencana akan datang secepat kilat. “Berarti tubuh yang dimaksud adalah ‘Bang Panji’!”

Di alam intraloka, “Hormat kami Paduka Raja Misu Bala Ntranta Ular Putih Intraloka!” Ucap Butarie dan Dedemit lainnya sambil bersujud sembah. “Hahaha! Kau sungguh menepati janjimu Butarie! Jika begitu mari kita kembali ke dunia manusia akan ada hadiah buatmu dan pesta bagi pengikutku!” Perintah Raja Misu Bala Ntranta. (Lian Martinline Zalukhu)

SELESAI

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *