Categories Opini

Gagal Lagi? Tenang, Gen Z Memang Dibesarkan di Era yang Bikin Kita Merasa Selalu Tertinggal

Ilustrasi Gagal Lagi? Tenang, Gen Z Memang Dibesarkan di Era yang Bikin Kita Merasa Selalu Tertinggal( FOTO : AI)

“Selamat! Anda dinyatakan lolos.”

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin hanya sebuah notifikasi. Namun bagi Gen Z, beberapa kata tersebut bisa terasa seperti validasi bahwa perjuangan selama ini akhirnya dianggap ada.

masalahnya, tidak semua notifikasi berbunyi demikian.

Ada pula, “Mohon maaf, Anda belum lolos.”

Kita muncul setelah mendaftar beasiswa, lomba, organisasi, magang, pekerjaan, bahkan program yang sudah kita persiapkan berhari-hari. Kadang-kadang kita membaca menarik sambil bernapas panjang, lalu menutup layar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Besoknya, hidup harus tetap berjalan. Ironisnya, kita hidup di zaman ketika keberhasilan orang lain tidak pernah benar-benar jauh dari mata. Cukup membuka Instagram, LinkedIn, TikTok, atau grup percakapan, kita bisa melihat teman yang memenangkan lomba, mendapat beasiswa, menerima magang, menjadi pembicara, pergi ke luar negeri, atau mendapatkan pekerjaan impian.

Sementara kita?

Masih membuka email yang sama dan bertanya dalam hati, “Aku kapan?” Gen Z bukan hanya hidup di era informasi. Kita juga hidup di era perbandingan tanpa batas.

Kita Tidak Melihat Kegagalan Orang Lain

Ada sesuatu yang tidak pernah ditampilkan algoritma: kegagalan. Kita melihat seseorang mengunggah sertifikat juara, tetapi tidak melihat berapa banyak lomba yang sebelumnya ia gagal menangi. Kita melihat seseorang diterima di perusahaan impian, tetapi tidak tahu berapa banyak lamaran yang ia kirim sebelum akhirnya mendapatkan satu jawaban “selamat”.

Kita melihat seseorang mendapatkan beasiswa, tetapi tidak melihat berapa malam ia meragukan dirinya sendiri. Media sosial akhirnya menciptakan ilusi yang cukup berbahaya: seolah-olah semua orang sedang maju, sementara kita satu-satunya orang yang berjalan di tempat. Padahal, yang kita lihat hanyalah menyoroti kehidupan orang lain, sementara kita membandingkannya dengan di balik layar kehidupan sendiri. Bukankah pertandingan seperti itu sejak awal memang tidak adil?

Gen Z Seolah Harus Punya “Pencapaian” Sejak Muda

Ada tekanan yang semakin terasa di usia dua puluhan.Belum lulus kuliah sudah ditanya, “Setelah ini mau kerja di mana?”

Sudah lulus ditanya, “Sudah dapat kerja?”

Sudah bekerja, dibandingkan lagi dengan teman yang kariernya lebih cepat. Di tengah semua itu, muncul sebuah standar tidak tertulis: semakin banyak yang tercapai, semakin layak seseorang dianggap berhasil. Maka kita mulai mencapai pencapaian seperti mengumpulkan badge dalam sebuah permainan.

Satu sertifikat.

Dua organisasi.

Tiga lomba.

Seminar Empati.

Lima pengalaman.

Sampai akhirnya kita lupa bertanya:

“Sebenarnya aku melakukan semua ini karena ingin berkembang, atau karena takut dianggap tertinggal?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu nyaman.Sebab terkadang kita tidak benar-benar mengejar mimpi. Kita hanya sedang berusaha mengejar teman sebaya yang terlihat beberapa langkah lebih jauh

Yang Lebih Berbahaya dari Gagal Adalah Merasa Diri Tidak Berharga Karena Gagal

Kegagalan sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Manusia sudah gagal jauh sebelum internet ditemukan. Yang berubah adalah cara kita mengalami kegagalan. Dulu, seseorang mungkin gagal dalam suatu kesempatan, kemudian kembali dan menjalani hidup seperti biasa. Sekarang, beberapa menit setelah gagal, kita bisa membuka media sosial dan melihat puluhan orang yang sedang berhasil.

Kegagalan kita menjadi terasa semakin besar karena keberhasilan orang lain datang hampir bersamaan di layar. Akibatnya, “aku gagal dalam kesempatan ini” perlahan berubah menjadi “aku memang tidak cukup baik.” Padahal keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda.

Ditolak sebuah lomba tidak berarti kita tidak berbakat.

Tidak mendapat beasiswa bukan berarti kita tidak pintar.

Tidak diterima bekerja bukan berarti kita tidak punya masa depan.

Sebuah keputusan seleksi hanya menjelaskan hasil dari satu kesempatan, bukan nilai keseluruhan diri seseorang. Sayangnya, Gen Z sering hidup dengan budaya yang membuat satu kegagalan terasa seperti vonis terhadap masa depan.

Kita Terlalu Sibuk Menghitung Berapa Kali Gagal

Ada hal lain yang sering kita lupakan. Kita menghitung berapa kali kita ditolak, tetapi jarang menghitung berapa kali kita berani mencoba. Padahal, keberanian untuk mengirimkan formulir ketika kita tahu ada ribuan pendaftaran orang lain juga merupakan keberanian. Keberanian mengirim karya meskipun takut dianggap biasa saja juga merupakan keberanian. Begitu pula keberanian untuk mencoba lagi setelah menerima kalimat “mohon maaf”.

Kita terlalu sering menjadikan kata “lolos” sebagai satu-satunya bukti bahwa usaha kita bernilai. Padahal, terkadang pertumbuhan justru terjadi pada bagian yang tidak mendapatkan sertifikat. Kita belajar menulis lebih baik setelah gagal lomba. Kita belajar berbicara lebih percaya diri setelah presentasi yang berantakan. Kita belajar mengenali kemampuan diri setelah berkali-kali mencoba berbagai kesempatan. Tidak semua proses memiliki trofi. Tidak semua perjuangan memiliki sertifikat. Dan tidak semua kemajuan bisa ditampilkan di Instagram Story.

Kita perlu berhenti memperlakukan hidup seperti perlombaan dengan garis finis yang sama. Ada orang yang menemukan passion-nya sejak sekolah. Ada yang baru muncul ketika kuliah. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan. Ada yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Ada yang berkali-kali gagal sebelum akhirnya menemukan satu kesempatan yang tepat. Tidak ada satu jadwal universal bernama “waktu yang benar untuk sukses.”Masalahnya, internet membuat kita merasa seolah-olah jadwal tersebut benar-benar ada.

Ketika seseorang seusia kita sudah mencapai pencapaian tertentu, kita merasa seharusnya berada di tempat yang sama. Padahal, hidup bukanlah spreadsheet yang bisa dibandingkan baris demi baris. Kita memiliki titik awal, kondisi, kesempatan, prioritas, dan perjalanan yang berbeda. Maka mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukan lagi,

“Kenapa mereka sudah sampai, sementara aku belum?”

Melainkan, “Apakah aku masih bergerak ke arah yang ingin kutuju?” Jika penjelasannya iya, mungkin kita tidak sedang tertinggal. Kita hanya sedang berjalan.

Karena Tidak Semua Cerita Bagus Dimulai dengan Kata “Lolos”

Barangkali kita perlu mengubah cara memandang kegagalan. Bukan dengan memaksakan diri untuk selalu berkata, “Tidak apa-apa, gagal itu biasa”. Sebab jujur ​​saja, gagal memang menyakitkan. Ditolak setelah berharap tetap mengecewakan.Kalah setelah berusaha tetap membuat sedih. Tidak terpilih ketika kita merasa sudah memberikan yang terbaik tetap bisa membuat kita menilai diri sendiri. Dan tidak apa-apa untuk mengakuinya. Yang penting, jangan biarkan satu hasil menentukan seluruh cerita tentang siapa diri kita.

Sebab mungkin suatu hari nanti kita akan melihat kembali email-email persetujuan yang dulu membuat kita merasa tertinggal. Bukan untuk menyesalinya. Melainkan untuk menyadari bahwa ternyata kita tidak berhenti di sana.Kita mencoba lagi.Belajar lagi. Tumbuh lagi. Dan mungkin, itulah bentuk keberhasilan yang selama ini tidak masuk ke Instagram Story.

Jadi, jika hari ini kita gagal lagi, mungkin kita tidak perlu buru-buru menyebut diri kita tertinggal. Tarik napas. Tutup notifikasi. Besok, coba lagi. Karena dalam generasi yang terus-menerus menunjukkan siapa yang sudah sampai di garis finis, tetap memilih berjalan meskipun belum tahu kapan akan sampai juga merupakan sebuah keberanian.

(Cantriya Simbolon)

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *