Ilustrasi reaksi pembaca saat menemukan berita buruk yang menarik perhatian melalui surat kabar (FOTO: Pinterest)
Coba perhatikan saat membuka media sosial. Berita tentang kecelakaan, kejahatan, konflik, atau bencana sering kali membuat kita berhenti scrolling. Padahal, berita tersebut belum tentu menyenangkan untuk dibaca. Justru karena membuat penasaran, takut, atau khawatir, kita terdorong untuk mengetahui lebih banyak.
Hal ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan informasi yang dianggap mengancam. Berita buruk membuat kita merasa perlu waspada. Akibatnya, kita terkadang lebih mudah mengingat kejadian negatif dibandingkan kabar baik yang sebenarnya juga banyak terjadi di sekitar kita.
Fenomena ini terlihat dari Reuters Institute Digital News Report 2025. Laporan tersebut menemukan bahwa 39% orang mengatakan berita memberikan dampak negatif terhadap suasana hati mereka, sementara 31% merasa lelah karena terlalu banyak mengikuti berita.
Ironisnya, meskipun berita dapat membuat kita lelah, kita tetap sulit untuk berhenti mengikutinya. Judul yang mengejutkan, video yang dramatis, dan informasi yang terus diperbarui membuat kita merasa harus mengetahui apa yang sedang terjadi.
Masalahnya muncul ketika kebiasaan tersebut membuat kita hanya melihat dunia dari sisi negatif. Jika setiap hari yang kita lihat adalah kejahatan, konflik, bencana, dan berbagai masalah, kita bisa memiliki kesan bahwa dunia selalu dalam keadaan buruk. Padahal, banyak hal baik terjadi setiap hari tanpa menjadi perhatian utama.
Karena itu, kita tidak perlu menghindari berita buruk sepenuhnya. Berita tetap penting agar kita memahami keadaan di sekitar. Namun, kita perlu belajar memilih informasi, memeriksa kebenarannya, dan membatasi konsumsi berita yang tidak benar-benar kita perlukan.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa mengatur berita apa yang muncul di layar. Tetapi kita masih bisa mengatur apa yang mendapatkan perhatian kita.
(Artha Manik)
