Categories Cerpen Rehat

Tahun Terakhir

ILUSTRASI Cerpen Tahun Terakhir (Foto: Pinterest.com)

Namaku Raka. Dan aku adalah orang yang gagal setidaknya itulah yang berkali-kali aku pikirkan tentang diriku sendiri. Sudah tujuh kali aku ikut seleksi CPNS. Tujuh kali. Dari usia 23 hingga 34. Dan tahun ini, 35, adalah batas terakhir. Aku nyaris menyerah. Saat kebanyakan orang mulai melupakan impiannya dan memilih menjalani hidup sekadarnya, aku justru mempertaruhkan semuanya pada satu harapan terakhir.

Dulu aku percaya bahwa kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Tapi waktu seakan menertawaiku. Saat teman-temanku sudah sibuk posting seragam dinas, ID card bertali biru, atau cerita-cerita lucu tentang kantor mereka, aku masih terjebak di kamar kecil kontrakan ini, belajar soal TWK dan TIU seperti anak baru lulus kuliah. Aku bahkan hafal di luar kepala nama-nama menteri dan teori-teori kepemimpinan yang berubah tiap tahun. Tapi nilainya selalu sama, tidak cukup.

“Ngapain sih ngejar CPNS mulu, Rak? Hidup tuh nggak harus selalu tentang seragam,” kata Dira, mantanku.

Dira adalah sahabat, pasangan, dan rumah dalam satu wujud. Kami pacaran sejak kuliah, saling janji untuk sukses bareng. Dia sabar. Sangat sabar. Dia menunggu aku belajar, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Tapi manusia punya batas, dan dia lelah. Dua tahun lalu, dia memilih pergi. Katanya, dia butuh hidup yang stabil. Dia ingin punya masa depan yang bisa dia rencanakan. Aku tidak marah. Hanya diam. Dan kehilangan.

Setelah dia pergi, aku berubah. Aku belajar lebih keras. Bukan hanya karena ingin lulus. Tapi karena aku ingin membuktikan bahwa aku bukan orang gagal. Aku ingin membuktikan bahwa perjuangan yang sunyi pun bisa sampai di garis akhir. Aku mulai membenahi diriku, rutinitas, pola hidup, bahkan cara pandangku terhadap kegagalan. Aku mulai belajar menerima bahwa mungkin keberhasilan memang bukan untuk semua orang, tapi setidaknya aku ingin mencoba sekali lagi. Satu kali lagi.

Tahun ini, aku ambil formasi umum di instansi yang tak pernah kulirik, Dinas Perpustakaan Daerah. Orang-orang bilang itu tempat buangan. Tapi aku tak peduli. Aku hanya butuh satu kursi. Satu tanda bahwa perjuanganku tidak sia-sia.

Ujian berlangsung bulan Oktober. Aku datang dengan tangan dingin dan napas bergetar. Tapi aku tahu, aku tak punya pilihan lain selain menang. Di ruangan itu, aku menjawab soal dengan keyakinan yang kupupuk selama satu dekade. Tidak semua soal kutahu, tapi aku sudah cukup lama berkawan dengan kegagalan untuk tahu mana yang harus kupilih.

Aku belajar tidak hanya dari buku, tapi juga dari cerita orang-orang yang pernah gagal dan bangkit kembali. Aku membaca blog, menonton video motivasi, dan mendengarkan podcast tentang perjuangan. Semua itu menjadi bahan bakar yang menyalakan kembali semangatku yang sempat padam.

Dua minggu kemudian, pengumuman seleksi kompetensi dasar keluar.

Aku lulus.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku lolos passing grade dan ranking masuk. Aku hampir tak percaya. Kubuka ulang berkali-kali file PDF itu, memastikan nama “Raka Saputra” benar-benar ada di sana. Tangisku pecah malam itu. Bukan karena senang saja. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku merasa hidup ini masih mau memberiku kesempatan.

Seleksi lanjutan berjalan seperti mimpi. Entah karena mental sudah terlatih gagal, aku tak merasa sekeras dulu. Wawancara pun kulalui dengan kepala dingin. Aku tidak ingin berharap terlalu tinggi, tapi diam-diam aku berdoa lebih lama dari biasanya. Aku berusaha tidak membebani diri, tapi jujur, beban harapan itu ada. Harapan untuk membuktikan pada diri sendiri, harapan untuk membayar semua kekecewaan yang pernah aku alami.

Februari datang. Hari pengumuman hasil akhir.

Aku bangun pagi-pagi, membuka website resmi yang seharusnya sudah menampilkan hasil akhir. Aku telusuri file pengumuman, mencari nomor registrasiku. Dan di sana. Nomor urutku, satu. Status, Lulus.

Aku menangis. Lebih keras dari yang sebelumnya. Aku lulus. Akhirnya. Di tahun terakhir. Di kesempatan terakhir. Saat aku sendiri nyaris kehilangan harapan. Aku menang. Setelah semua kegagalan, semua malam tanpa tidur, semua penolakan dan patah hati. Aku menang.

Beberapa hari setelahnya, aku berjalan ke taman kota tempat aku biasa duduk saat gagal dulu. Rasanya seperti mimpi. Dulu aku datang dengan kepala tertunduk dan hati hampa. Sekarang, aku datang dengan kepala tegak dan dada lapang. Aku melihat kembali bangku kayu di bawah pohon besar, tempat aku dulu menulis mimpi-mimpi yang tak kunjung terwujud. Kini, tempat itu terasa seperti saksi bisu atas perjuanganku.

Tak lama, seseorang menyapaku. “Raka?”

Aku menoleh. Dira. Dengan senyum canggung dan mata yang masih kukenali.

“Kamu kelihatan beda,” katanya.

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku tak merasa patah saat melihatnya. Aku merasa cukup. Bukan karena aku sudah mencapai sesuatu, tapi karena aku sudah menerima diriku apa adanya.

“Lulus tahun ini?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Tahun terakhir. Pas banget.”

Dia tertawa kecil. Lalu diam. “Aku ikut senang. Serius.”

Kami ngobrol sebentar. Tentang kerjaan, tentang hidup, dan sedikit tentang masa lalu. Tak ada drama, tak ada dendam. Hanya dua orang dewasa yang pernah saling mencintai dan kini berdamai dengan semuanya.

Sebelum pergi, dia berkata, “Kamu buktiin ke aku… ke semua orang… kalau kamu lebih kuat dari yang orang kira.”

Dan saat dia pergi, aku hanya bisa tersenyum. Karena kali ini, aku percaya kata-kata itu.

Sekarang aku sudah resmi jadi CPNS. Penempatan sementara memang belum luar biasa, tapi aku bahagia. Aku belajar banyak. Tentang kegigihan. Tentang kehilangan. Tentang jatuh dan bangkit. Tentang bagaimana tidak semua kemenangan harus datang cepat—kadang, ia datang di akhir, saat kita benar-benar layak menerimanya. Kadang jalan yang panjang dan penuh luka adalah satu-satunya jalan menuju kemenangan sejati.

Beberapa bulan ke depan, aku akan pindah kota. Meninggalkan kampung halaman dan memulai dari nol di tempat yang belum pernah kutinggali sebelumnya. Rasanya menakutkan, tapi juga menyenangkan. Aku siap menjalani babak baru. Aku sudah terlalu lama berada dalam perjuangan, dan sekarang saatnya aku belajar tentang menikmati hasilnya. Pelan-pelan, dengan penuh syukur.

Aku juga mulai menulis. Menceritakan kisah perjalananku di blog pribadi. Ternyata banyak yang membaca. Ada yang bilang mereka juga gagal berkali-kali, dan kisahku membuat mereka ingin mencoba lagi. Ada yang bilang mereka juga ditinggal kekasih saat sedang berjuang, dan kini mereka merasa tidak sendirian. Itu membuatku sadar, bahwa mungkin tujuan dari semua luka ini bukan hanya untukku tapi agar aku bisa jadi cahaya kecil untuk orang lain.

Aku belajar memaafkan. Bukan hanya Dira, tapi diriku sendiri. Aku memaafkan semua versi diriku yang pernah menyerah, semua malam-malam kelam yang kuhabiskan dengan air mata, dan semua rasa iri yang pernah kubiarkan tumbuh saat melihat orang lain berhasil. Kini, aku berdamai. Dengan masa lalu. Dengan hidup. Dan yang paling penting, dengan diriku sendiri.

Kadang aku masih merasa ragu. Masih takut gagal lagi. Tapi kini aku tahu, gagal bukanlah akhir. Gagal adalah jalan memutar yang mengajarkan kita hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dan bila ada satu hal yang kutahu dengan pasti dari semua ini, adalah bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Jika kamu sedang gagal sekarang, percayalah, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat. Tapi siapa yang tetap bertahan.

Dan jika kamu pernah patah hati di tengah perjuanganmu, ingatlah, orang yang tepat tidak akan pergi karena kamu sedang berjuang. Tapi kalaupun dia pergi, jangan benci. Mungkin memang begitu jalannya, supaya kamu belajar menang sendirian.

Aku pernah gagal. Berkali-kali. Aku pernah patah hati. Berkali-kali. Aku pernah merasa tidak layak, tidak cukup, tidak berarti.

Tapi aku tetap jalan. Meski pelan. Meski tertatih. Meski sendirian.

Dan akhirnya… aku sampai juga.

Dan di tempat ini, aku berjanji, tak peduli seberapa berat jalan ke depan, aku akan terus melangkah. Karena ternyata, bukan hasil akhirnya yang paling berarti.

Tapi siapa kita saat memilih tetap bertahan. (Sapna Welindah Nainggolan)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *