Categories Cerpen Rehat

Jejak yang Pudar

ILUSTRASI Cerpen “Jejak yang Pudar“. (FOTO : Pinterest.com)

Langit sore itu mendung, seperti hatinya yang berat. Di sebuah kafe kecil di sudut kota, Rina duduk sendirian, memandangi secangkir kopi yang uapnya perlahan hilang. Di depannya, sebuah jurnal tua terbuka, dengan halaman yang penuh coretan kata-kata dan kenangan. Tiga tahun yang lalu, jurnal itu adalah saksi bisu perjalanan cintanya dengan Arga.

Setiap halaman berisi catatan tentang tawa, air mata, dan harapan yang mereka rajut bersama. Tapi seperti gelas yang retak, hubungan mereka pecah tanpa bisa diperbaiki. Arga pergi, membawa sebagian besar kebahagiaan yang pernah Rina rasakan. “Aku harus move on,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Ia membuka halaman terakhir jurnal itu. Di sana tertulis satu kalimat yang membuat hatinya kembali bergetar

“Aku akan selalu menunggu, jika kau ingin kembali.” Rina tertawa kecil. Betapa naifnya dirinya dulu, menggantungkan kebahagiaan pada seseorang yang akhirnya memilih jalan lain. Ia menutup jurnal itu dengan tegas, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Hari ini, ia memutuskan bahwa ia sudah cukup lama hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Ketika ia bangkit dari kursinya, seorang pria asing datang menghampiri. Pria itu membawa buku yang tertinggal di meja sebelah.

“Maaf, ini buku Anda?” tanyanya dengan senyuman ramah. Rina menggeleng.

“Bukan, mungkin milik orang yang duduk di sini sebelumnya.” Pria itu mengangguk, tapi alih-alih pergi, ia memperhatikan Rina sejenak.

“Kopi Anda sudah dingin. Tidak enak kalau tidak segera diminum,” katanya bercanda. Rina tertawa kecil. Ada sesuatu yang menyenangkan dari cara pria itu berbicara, ringan tapi tidak memaksa.

“Saya Adi, kalau boleh tahu siapa nama Anda?”

“Rina,” jawabnya, sedikit ragu. Percakapan mereka terus mengalir, dari hal kecil seperti cuaca hingga hobi masing-masing. Di tengah obrolan itu, Rina merasa sesuatu yang berbeda. Ada kehangatan yang perlahan mengisi ruang kosong dalam hatinya, sesuatu yang selama ini ia pikir sudah hilang selamanya.

Ketika mereka berpisah sore itu, Rina berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Ia menyadari satu hal penting melupakan masa lalu tidak berarti menghapus kenangan, tetapi melepaskannya dari belenggu. Di kamar, ia membuka tasnya dan mengeluarkan jurnal tua itu.

Dengan senyum kecil, ia memasukkannya ke dalam kotak kayu, lalu menutupnya rapat. Sudah saatnya jurnal itu beristirahat, seperti dirinya yang telah memutuskan untuk melangkah ke depan. Mungkin, di balik mendung, ada langit biru yang menunggu untuk ia lihat.

(Valentina Br Ginting)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *