Categories Cerpen Rehat

Usaha Berbuah Asmara

ILUSTRASI Cerpen “Usaha Berbuah Asmara” . (FOTO : Pinterest.com)

Senja kini berganti malam, namun sinar cahaya tempat ini semakin terang ditemani alunan musik merdu menemani pengunjung Cafe ini.

Kristi meneguk sisa kopi yang dipesannya satu jam yang lalu, walaupun sudah dingin campuran pahit dan manis dari gula aren membuatnya tersa nikmat.

“Andai hidupku semanis gula aren ini” gumam Kristi.

“Kalau manis aja mana seru Kris…” ujar Yani sahabat Kristi.

“Ahh, hidupku Pahit mulu Yan, lebih menyakitkan sampe mau muntah. Bayangkan udah 99 perusahaan yang aku lamar satupun gak ada yang nerima aku. Apa aku terlau jelek, bodoh, atau ga berkualitas ya? Humm serem banget jadi aku. Kamu mah udah kerja juga” jelas Kristi dengan wajah muram.

“Aduhh sahabatku yang paling cantik ga boleh ngeluh, semangatnya harus tetap menayala. Besok interview perusahaan yang ke-100 aku doakan kali ini pasti diterima” ucap Yani dengan ceria memberi semangat pada Kristi.

“Humm, amin deh Yan. Yuk kita pulang aja aku mau persiapan untuk besok” ujar Kristi sambil mematikan laptopnya dan mengemasi barang-barangnya di atas meja.

Mereka pun pulang dengan kendaraan roda dua yang mereka miliki. Sesampainya di rumah Kristi meletakkan barang-barangnya dan membersihkan diri. Setelah itu, ia pun mulai berlatih dengan mengandalkan buku, video tutorial, dan pertanyaan-pertanyaan dari perusahaan sebelumnya. Tak kenal lelah Kristi tetap berlatih sampai larut malam sampai ia ketiduran.

Pagi ini mendung namun semangat Kristi masih mengebu-gebu walaupun sudah banyak perusahaan yang tidak menerimanya ia tetap teguh dan percaya akan ada pelangi sehabis hujan. Ia pun berangkat dengan stelan putih hitamnya ditutupi jaket, ditemani gemuruh yang bersorak sorai. Tak terasa 30 menit ia pun sampai dengan selamat namun sedikit basah karena terkena hujan.

“Huff, sial banget aku kena hujan, untung masih ada waktu 30 menit lagi masuk ruangan” gumam Kristi dalam hati seraya meletakkan helmnya dan pergi ke toilet.

“Kristi Utami” panggilan dari ruangan interview. Kristi pun masuk dan interview berjalan selama 45 menit dan diakhir kalimatnya, Kristi dikagetkan dengan kedatangan Manajer Sumber Daya Manusia (SDM), matanya merah karena tidak berkedip.

“Oke, wawancaranya sudah cukup ya Kristina Utami” (Tiba-tiba seorang pemuda masuk dengan stelan jas rapi berwarna gelap) Eh kebetulan, ini pak Tino, selaku Manajer SDM kita di perusahaan ini ya” jelas User perusahaan terbut.

“Ba..ba..baik bu, terima kasih bu. Halo pak saya Kristina Utami. Saya izin keluar ya pak, bu” jawab Kristina dengan suara gemetar.

(Kristi pun keluar dengan pipi yang merah, merasa direndahkan dan malu dengan tanggapan Manajer SDM sekaligus mantan teman dekatnya waktu SMA).

“Ya Tuhann, kenapa harus ada dia..” gumam Kristi dalam hati sambil berjalan cepat menuju parkiran. Tanpa disadarinya tingkah lakunya jadi sorotan orang-orang disekitarnya. Kristi tak menghiraukan mereka ia tetap berjalan memakai jaket, helm dan langsung melajukan motornya.

Dua minggu berlalu Kristi masih murung dan galau dengan kejadian itu, ia seperti tidak bergairah melakukan pemberkasan lamarannya ke perusahaan yang lain. Biasanya ia selalu semangat membuat surat lamaran walaupun sering ditolak.

“Drrt drrrt” tiba hp Kristina bergetar menunjukkan pesan sahabatnya Yani.

“Kriss aku di depan nih, buka pintunya dong” pesan Yani. Ia pun berlali membuka pintu, “Aduhh Yannn, udah malam masih berkeliaran kamu ya, sini masuk” ujar Kristi sambil mengajak Yani masuk dan menutup pintu.

“Aneh aja, tiba-tiba pulang kerja tadi aku penge ke sini, nih ada makanan ada toko kue baru buka di samping kantor aku, cobain deh enak banget” ujar Yani sambil tertawa kecil.

“Eh Kris, aku mau tanya boleh?” tanya Yani sambil memotong bolu yang ia bawa.

“Kalau mau nanya langsung aja Yann, ga perlu nanya, langsung aja yoolohhhh” ucap Kristi.

“Hahaha, siap sahabatku yang paling cantik. Aku itu bingung akhir-akhir ini kamu itu susah banget dihubungi dan ga mau keluar sama sekali, ada masalah apa Kriss?” tanya Yani.

Disela-sela Yani bertanya Krisiti mendapat pesan email dari perusahaan, yang isi bahwa ia diterima bekerja diperusahaan sebagai Sekretaris di bagian umum. Air mata Kristi pun mengalir, ia tidak tahu apa yang harus dirasakannya bahagia mendapat pekerjaan atau sedih karena harus sekantor dengan matan teman dekatnya itu.

“Hiks hiks hiks, Yann aku diterimaa.. hiks” isakan Kristi.

“Syukurlahh Kriss, harusnya kamu bahagia, kok malah nangis. Apa karena aku atanya ya? Maaf banget ya Kris. Okey aku ga akan tanya lagi, yang terpenting akhirnya kamu lolos di perusahaan ke-100 ini. Selamat yaa sahabatkuu” ucap Yani seraya mengusap air mata Kristi.

“Sebenarnya Yan, akhir-akhir ini aku sedih banget karena Manajer SDM perusahaan ini ternyata Tino, mantan teman dekatku waktu SMA. Aku takut banget dia balas dendam sama aku kerena waktu SMA aku tolak persaannya. Hiks hiks, gimana ini Yan?” tanya Kristi kembali.

“Astaga Kriss, kalo dia ngapa-ngapain kamu, bilang sama aku. Aku akan bantu Kriss. Jangan karena orang itu, kerjaan kamu nanti jadi berantakan, ingat perjuangan kamu dapetin kerjaan ini gak mudah. Sekarang ga perlu mikirin itu, bersikap baik aja dan kerjakan kerjaan kamu dengan baik” jelas Yani menyemangati sahabatnya.

“Hummm, makasih ya Kris, aku akan hadapi tantangan ini dan bekerja sebaik mungkin untuk kerluarga aku” ucap Kristi sambil memeluk sahabatnya.

“Gitu dong, jadi aku ga khawatir lagi. Okey deh Kris aku pulang dulu udah larut malam takut kenak begal, hahaha” ucap Yani sambil mengambil helmya dan ia pun bergegas pergi.

Kristi mulai bekerja di perusahaan itu sebagai Sekretaris bagian umum, dimana Ia akan selalu berhadapan dengan Tino (Manajer SDM) mantan teman dekatnya. Di hari pertamanya bekerja ia bekerja ia sangat senang ternyata karyawan kantornya ternyata baik dan ramah menerima Kristi. Namun tidak dengan Manajernya (Tino), yang terkenal sangat jutek dan tegas. Walaupun begitu, ia tidak memperdulikannya, dan tetap memenuhi tanggung jawab pekerjaannya dengan bekerja secara profesional.

Tak terasa setelah tiga bulan bekerja, Kristi tetap bahagia dengan pekerjaannya dan apa yang ditakutinya ternyata tidak terjadi. Tino juga bersikap profesional layaknya seoarang Manajer dan tanpa disadarinya ternyata Tino memperhatikannya setiap bekerja. Tino ternyata masih single dan masih memiliki persaan dengan Kristi.

Saat mengetahui Kristi diinterview dan statusnya juga masih single sama sepertinya, maka dari itu terlepas dari kualifikasi Kristi yang cukup dan persaannya maka ia memutuskan untuk menerima Kristi.Tiga bulan berlalu Tino kembali memberanikan diri mendekati Kristi.

Sore hari itu Kristi masuk ke ruangan Tino untuk memberikan berkas untuk ditanda tangani.

“Permisi pak” (sambil membawa berkas dan memberikannya kepada Tino).

“Okey sudah. Ehm, Kris nanti pulang kerja kamu free?” tanya Tino.

“Terima kasih pak. Hari ini kebetulan saya tidak ada kegiatan setelah pulang kerja” jawab Kristi.

“Oohh, kalau begitu kalo saya ajak kamu dinner kamu bisa? kalau kamu punya kesibukan yang lain gak apa” tutur Tino. “Humm, bisa pak nanti kabari aja ya pak tempatnya saya naik motor soalnya. Permisi pak” jawab Kristi dengan sedikit gugup sambil keluar dari ruangan Tino.

Sepulang kantor mereka pun makan malam disebuah restoran mewah. Kristi pun tiba dengan sepeda motornya, “Duh ngapain juga Tino ngajak kesini sih. Huff baju ku lusuh banget untuk restoran semewah ini, tak apalah demi pak bos” gumam Kristi sambil bergegas dari parkiran dan menuju lantai tiga ke tempat yang sudah dipesankan Tino. Sesampainya dimeja dengan ukiran mewah dan sofa mewah yang di dudukinya, Kristi merasa sangat minder dan meletakkan tasnya di sampinya.

“Maaf telat pak” ucap Kristi membuka percakapan mereka.

“Oh, gapapa santai aja Kris. Eh kalo di luar kantor ga usah bilang pak ya, ga usah kaku banget, kita kan juga seumuran Kris” ucap Tino.

“Hehehe iya deh Ti Tin” jawab Kristi dengan ragu.

“Astaga Kriss, gak usah takut gitu, aku juga manusia kok bukan mosnter. Eh iya sampai lupa kita kan mau makan, kamu mau makan apa nih? Ini menunya liat dulu” kata Tino sambil tersenyum hangat.

Setelah selesai makan, Tino pun menjelaskan maksusd dan tujuannya menawarkan makan malam bersama di tempat mewah itu.

“Hmm, Kriss sebenarnya tujuanku ngundnag kamu dinner malam ini karena aku ingin ngasih tahu kalo aku mau minta izin dekat sama kamu. Setelah melihat kamu kembali, perasaanku lima tahun alau muncul kembali, dan ini bukan hanya sekedar persaan suka saja, tapi lebih ke arah yang lebih serius. Jadi, jika diizinkan aku mau menjadi orang spesial dihidup kamu” tutur Tino dengan hangat dan tenang.

“Umm, sebelumnya makasih untuk makanan ini ya Tin, dan untuk dekat.. (Kristi diam sejenak dan melanjutkan perkataanya) aku senang kok kita bisa dekat, lagian usia juga udah matang, tapii bagaimana kerjaan kita Tin, aku baru tiga bulan kerja, aku gak mau ada masalah karena aku mati-matian dapat kerjaan ini” jelas Kristi dengan wajah yang cemas.

“Kriss (menggenggam tangan Kristi) untuk kantor kamu tenang aja, kita cukup bersikap profesional yaa. Kalaupun nanti kita bisa ke jenjang yang lebih serius aku bisa komunikasi dengan pimpinan. Intinya masalah kerjaan kamu tenang aja, selagi pekerjaan kita bagus, masalah yang kamu takutkan gak akan ada Kris” jelas Tino meyakinkan Kristi.

“Hummm, oke deh Tin aku terima tawaran kamu, sebenarnya dulu aku nolak kamu karena mau fokus sama pendidikan aku. Faktanya memang aku ga pacaran dari sekolah, kuliah sampai sekarang” ucap Kristi. “Iya aku tau Kris dan karena itu juga selain kualifikasi kamu sesuai mkanya aku terima” (Tino tersenyum).

“Jadi aku diterima bukan murni nih ceritanya, besok aku resign aja deh” ucap Kristi dengan wajah merengut. “Hahha, jangan… nanti aku kesepian lagi” ucap Tino sambil menggenggam tangan Kristi lebih kencang. Setelah itu mereka berdua pun memutuskan untuk berpacaran dan menuju hubungan yang lebih serius.

(Natalia Agrina Ginting)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *