Categories Opini

Perempuan Berhak Melawan, Bukan Sekadar Bertahan

Ilustrasi Perempuan Berhak Melawan, Bukan Sekadar Bertahan(Sumber : Gemini AI)

Ada sesuatu yang keliru dalam cara masyarakat memaknai ketangguhan perempuan. Perempuan sering dipuji karena kesabarannya, dihormati karena kemampuannya mengalah, dan dianggap hebat ketika mampu bertahan dalam berbagai keadaan yang tidak selalu adil baginya. Namun, pernahkah kita bertanya mengapa perempuan begitu sering dituntut untuk bersabar, sementara ketidakadilan yang mereka hadapi justru dibiarkan berlangsung?

Sejak lama, perempuan hidup berdampingan dengan berbagai tuntutan sosial. Mereka diharapkan berbicara dengan lembut, bersikap sesuai standar masyarakat, tidak terlalu banyak menuntut, dan sebisa mungkin menghindari perbedaan pendapat. Ketika perempuan menyampaikan kritik, keberaniannya terkadang dianggap sebagai sikap melawan. Ketika mempertahankan pendapat, ia dicap keras kepala. Bahkan, ketika memperjuangkan haknya sendiri, tidak jarang ia justru dipertanyakan sikap dan moralitasnya. Seolah-olah keberanian perempuan untuk bersuara merupakan sesuatu yang harus dibenarkan terlebih dahulu.

Padahal, perempuan bukan manusia kelas dua yang harus meminta izin untuk memiliki pendapat. Suara perempuan bukan gangguan bagi tatanan sosial. Perempuan memiliki hak yang sama untuk berbicara, berpikir, menentukan pilihan, dan mengambil bagian dalam setiap ruang kehidupan. Persoalannya bukan terletak pada terlalu kerasnya suara perempuan, melainkan pada masyarakat yang belum sepenuhnya bersedia mendengarkan.

Pembungkaman terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk larangan berbicara secara langsung. Terkadang, ia hadir melalui candaan yang merendahkan, komentar yang menyalahkan korban, penilaian berdasarkan penampilan, hingga anggapan bahwa perempuan sebaiknya tidak terlalu vokal dalam menyampaikan pendapat. Bentuknya mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya tidak sederhana. Ketika pendapat perempuan terus-menerus diremehkan, ketika pengalaman mereka dianggap berlebihan, dan ketika keberanian mereka justru dibalas dengan penghakiman, masyarakat sedang membangun ruang yang tidak ramah terhadap kebebasan perempuan.

Lebih memprihatinkan lagi, pembungkaman tersebut dapat terjadi di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, pendidikan, tempat kerja, organisasi, hingga ruang digital. Di lingkungan pendidikan, misalnya, perempuan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengemukakan gagasan, memimpin diskusi, dan terlibat dalam pengambilan keputusan. Namun, kesetaraan tidak cukup hanya dengan memberikan perempuan kesempatan untuk hadir. Mereka juga harus diberikan ruang untuk didengar, dihargai, dan dipertimbangkan pendapatnya.

Di era digital, perempuan memang memiliki ruang yang lebih luas untuk menyampaikan aspirasi. Media sosial memungkinkan siapa pun berbicara mengenai ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan, maupun persoalan sosial lainnya. Akan tetapi, ruang digital juga memperlihatkan persoalan lain: suara perempuan sering kali berhadapan dengan pelecehan verbal, intimidasi, penghinaan, dan serangan terhadap identitas pribadi. Akibatnya, sebagian perempuan harus mempertimbangkan risiko sosial sebelum menyampaikan pendapatnya. Padahal, kebebasan berekspresi seharusnya tidak membuat seseorang harus membayar mahal hanya karena berani menyuarakan kebenaran.

Di sinilah makna perlawanan perempuan menjadi penting. Melawan bukan berarti membenci laki-laki, menolak keluarga, atau menganggap seluruh tradisi sebagai sesuatu yang salah. Melawan berarti menolak ketidakadilan yang dinormalisasi, mempertanyakan aturan sosial yang diskriminatif, dan tidak membiarkan hak seseorang dirampas atas nama kebiasaan. Perlawanan dapat dimulai dari keberanian seorang perempuan mengatakan tidak terhadap perlakuan yang merendahkan, menyampaikan pendapat yang berbeda, memperjuangkan kesempatan yang setara, serta mendukung perempuan lain yang suaranya belum mendapatkan ruang.

Kita juga perlu berhenti mengukur kualitas perempuan berdasarkan seberapa patuh mereka terhadap ekspektasi masyarakat. Perempuan yang kritis bukan berarti tidak tahu sopan santun. Perempuan yang mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain. Perempuan yang berani menyampaikan keberatan bukan berarti kehilangan penghormatan terhadap sesama. Justru, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu menerima kritik tanpa harus membungkam orang yang menyampaikannya.

Pada akhirnya, perempuan hebat bukan hanya mereka yang mampu bertahan melewati berbagai kesulitan. Perempuan hebat juga mereka yang berani mempertanyakan ketidakadilan, menyuarakan kebenaran, dan membuka jalan bagi perempuan lainnya untuk memperoleh hak yang sama. Namun, jangan sampai pujian terhadap ketangguhan perempuan menjadi alasan untuk membiarkan ketidakadilan terus berlangsung.

Kita tidak membutuhkan masyarakat yang hanya mengagumi perempuan karena kekuatannya, tetapi masyarakat yang benar-benar menghormati hak dan martabatnya. Sebab, tujuan perjuangan perempuan bukanlah agar mereka terus-menerus menjadi kuat menghadapi ketidakadilan, melainkan agar mereka tidak lagi harus hidup dalam ketidakadilan.

Perempuan berhak bersuara. Perempuan berhak menentukan pilihan. Perempuan berhak melawan ketika haknya dirampas. Sebab, hidup perempuan bukan tentang seberapa lama mereka mampu bertahan dalam pembungkaman, melainkan tentang seberapa jauh mereka dapat hidup merdeka tanpa kehilangan hak untuk menjadi dirinya sendiri.

( Cantriya Anastasya Simbolon)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *