Foto Para siswa SMA IT Granada, Samarinda, mengenakan masker saat mengikuti kegiatan ujian di tengah kondisi kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut
Suasana kegiatan belajar mengajar dan ujian di SMA IT Granada, Samarinda, terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Para siswa terpaksa harus menjalani Tes Kemampuan Akademik (TKA) di tengah kondisi udara yang pekat oleh kepungan kabut asap yang melanda wilayah tersebut. Alih-alih bisa memusatkan pikiran sepenuhnya pada deretan soal ujian, konsentrasi para peserta didik justru harus terbagi dengan upaya menjaga pernapasan akibat kualitas udara yang kian memburuk hingga asap masuk ke dalam ruang kelas.
Kondisi udara yang tidak sehat ini secara langsung memengaruhi kinerja, konsentrasi, dan ketahanan fisik para peserta ujian. Kondisi ruang kelas yang tidak kondusif membuat udara terasa sesak dan pengap, sehingga sangat menyulitkan siswa untuk berkonsentrasi secara maksimal. Hal ini menjadi tantangan berat, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi fisik rentan terhadap masalah pernapasan, sehingga tenggorokan lebih cepat terasa kering dan bernapas menjadi terganggu.
Hal ini berkaitan erat dengan dampak nyata polusi terhadap fungsi kognitif. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) Air Quality and Health, paparan kabut asap yang mengandung partikel halus PM2.5 dapat berdampak buruk terhadap kesehatan dan berpotensi mengganggu konsentrasi serta fungsi kognitif. Kondisi ini dapat menjadi tantangan tambahan bagi siswa yang mengikuti ujian di tengah kabut asap. Ketika seseorang menghirup udara berpolusi dalam waktu lama, suplai oksigen ke otak menjadi tidak optimal, sehingga kemampuan mengingat dan memecahkan masalah saat ujian akan menurun drastis.
Pelaksanaan TKA di tengah kepungan kabut asap ini pada akhirnya seolah menjadi ujian ganda bagi para siswa. Mereka tidak hanya dituntut untuk memecahkan soal-soal akademik yang menantang, tetapi juga harus berjuang melawan rasa sesak, kelelahan akibat menggunakan masker seharian di dalam kelas, serta kekhawatiran akan ancaman kesehatan mereka sendiri.
Berakhirnya sesi ujian tersebut menyisakan kelelahan ekstra bagi para peserta. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perhatian serius terhadap bencana lingkungan seperti kabut asap. Diperlukan langkah penanganan yang tepat agar kualitas udara segera membaik. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar dan pelaksanaan ujian dapat kembali berlangsung secara normal, aman, serta tanpa mengorbankan kesehatan dan kenyamanan para siswa.
(Gracias br Silitonga)
