Categories Artikel

Menjamurnya Si Hijau: Mengapa Gen Z Begitu Terobsesi dengan Matcha?

ILUSTRASI ARTIKEL “Menjamurnya Si Hijau: Mengapa Gen Z Begitu Terobsesi dengan Matcha?”. (FOTO: Pinterest.com)

Belakangan ini, warna hijau pekat khas matcha tampaknya selalu hadir di setiap sudut lini masa media sosial kita. Mulai dari minuman estetis dengan gradasi susu hingga makanan penutup yang menggugah selera, matcha telah bergeser dari sekadar varian rasa teh menjadi sebuah identitas gaya hidup baru. Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, memesan segelas iced matcha latte di kafe favorit bukan lagi sekadar melepas dahaga, melainkan sebuah ritual harian yang wajib dipamerkan. Fenomena ini memicu pertanyaan menarik mengenai apa yang sebenarnya membuat bubuk teh hijau asal Jepang ini begitu digandrungi oleh anak muda zaman sekarang.

Popularitas matcha ini bukan sekadar asumsi belaka, melainkan tren global yang didukung oleh data riil di lapangan. Berdasarkan laporan tren pasar global yang dirilis oleh Grand View Research pada pertengahan tahun 2025, pasar matcha dunia diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 8,2% hingga tahun 2030, dengan lonjakan permintaan terbesar datang dari konsumen usia 18–25 tahun. Banyak artikel tren kuliner juga mencatat bahwa kedai kopi lokal maupun jaringan internasional kini berlomba-lomba menempatkan menu matcha di barisan best-seller mereka untuk memikat konsumen muda. Realitas ini menegaskan bahwa matcha telah berhasil menggeser dominasi kopi susu yang sempat merajai pasar beberapa tahun lalu.

Ketertarikan yang masif ini tidak terjadi secara organik begitu saja, melainkan didorong oleh pergeseran nilai budaya pada Gen Z yang sangat peduli pada dua hal: estetika visual dan kesehatan mental. Di satu sisi, warna hijau pastel yang dihasilkan dari campuran matcha dan susu sangat cocok dengan kurasi feed media sosial mereka yang menuntut keindahan visual. Di sisi lain, matcha menawarkan alternatif kafein yang dianggap lebih ramah bagi tubuh dibandingkan dengan kopi yang sering memicu debar jantung berlebih. Kombinasi unik antara kepuasan visual dan klaim manfaat kesehatan inilah yang menjadi motor utama penggerak tren hijau ini di kalangan anak muda.

Di Balik Cangkir Hijau: Antara FOMO dan Validasi Sosial

Namun, di balik popularitasnya yang meroket, konsumsi matcha di kalangan Gen Z memicu sebuah pola perilaku konsumtif yang didorong oleh rasa takut tertinggal atau Fear of Missing Out (FOMO). Banyak anak muda membeli segelas matcha mahal hanya demi konten visual agar dianggap modern, trendi, dan relevan dengan kelompoknya. Hal ini memicu kritik bahwa kecintaan terhadap matcha sering kali tidak didasari oleh apresiasi rasa, melainkan hanya sarana untuk berburu validasi sosial di dunia maya. Akibatnya, esensi dari menikmati minuman itu sendiri hilang, tergantikan oleh kebutuhan pamer yang artifisial.

Dampak dari tren FOMO ini terlihat jelas pada laporan pengeluaran konsumsi generasi muda. Melalui artikel riset perilaku konsumen yang dimuat di jurnal Bloomberg Technoz pada awal tahun 2026, tercatat bahwa pos anggaran makanan dan minuman estetik (lifestyle dining) menyedot hingga 40% dari total pendapatan bulanan Gen Z di kota-kota besar. Harga segelas matcha premium di kedai kopi modern yang berkisar antara 40 hingga 70 ribu rupiah tentu bukan angka yang murah untuk konsumsi harian jika diakumulasikan. Fakta ini mengungkap sisi lain dari tren matcha, yaitu adanya tekanan finansial terselubung demi mempertahankan gaya hidup yang dianggap ideal di media sosial.

Lebih jauh lagi, menjamurnya permintaan pasar ini juga memicu masalah kualitas di industri hilir kuliner. Demi menekan biaya produksi dan mengejar keuntungan instan dari tren ini, banyak kedai minuman yang beralih menggunakan bubuk matcha instan berkualitas rendah yang tinggi kandungan gula dan perisa buatan. Laporan gizi dari artikel Harvard Health Publishing yang diperbarui akhir tahun lalu mengingatkan bahwa konsumsi matcha komersial yang dicampur gula berlebih justru menghilangkan manfaat antioksidan asli dari zat epigallocatechin gallate (EGCG) dan malah meningkatkan risiko resistensi insulin di usia muda. Masalah ini menjadi kontradiksi besar bagi Gen Z yang awalnya memilih matcha dengan alasan kesehatan.

Mengembalikan Esensi Matcha: Menikmati Rasa, Bukan Citra

Melihat fenomena ini, kita perlu menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan menyukai matcha atau mengikuti tren kuliner yang sedang naik daun. Masalahnya muncul ketika kita membiarkan diri dikendalikan oleh algoritma media sosial dan tekanan kelompok, hingga mengabaikan kondisi finansial pribadi demi sebuah pengakuan digital. Gen Z harus mulai belajar untuk memisahkan antara kebutuhan konsumsi yang tulus dengan keinginan pamer yang semu. Menikmati secangkir matcha seharusnya menjadi momen ketenangan personal, bukan ajang kompetisi estetika di Instagram Story.

Solusi praktis untuk mengatasi masalah finansial dan kualitas ini adalah dengan menumbuhkan budaya home-brewing atau membuat matcha sendiri di rumah. Membeli bubuk matcha murni (ceremonial atau culinary grade) secara mandiri jauh lebih hemat untuk jangka panjang dan memberi kita kontrol penuh atas apa yang masuk ke dalam tubuh kita. Dengan menyeduh sendiri, kita bisa memotong biaya kemasan dan jasa kafe yang mahal, sekaligus memastikan bahwa kita mendapatkan manfaat antioksidan alami tanpa tambahan gula yang berlebihan. Langkah kecil ini mengajarkan kita untuk menjadi konsumen yang lebih cerdas dan mandiri.

Selain itu, para pelaku usaha kuliner juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan edukasi produk yang jujur kepada konsumen muda mereka. Kedai kopi sebaiknya lebih transparan mengenai jenis matcha yang mereka gunakan dan mengurangi penggunaan pemanis buatan secara berlebihan pada menu standar mereka. Ketika industri menyediakan pilihan yang lebih sehat secara jujur, tren ini akan bergeser dari sekadar komoditas FOMO musiman menjadi budaya konsumsi yang berkelanjutan dan benar-benar menyehatkan bagi generasi masa depan.

Pada akhirnya, tren matcha ini adalah cerminan dari bagaimana Gen Z mencari kenyamanan dan identitas di tengah dunia yang bergerak cepat. Mengubah cara pandang dari “membeli citra” menjadi “menikmati substansi” akan menyelamatkan dompet sekaligus kesehatan fisik generasi muda. Mari kembalikan fungsi secangkir matcha ke akar aslinya: sebuah media untuk meredakan stres, menyehatkan pikiran, dan dinikmati dengan penuh kesadaran diri, bukan dengan bidikan kamera ponsel yang tergesa-gesa.

(Cinthya Agatha)

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *