Categories Lainnya Puisi

Nyanyian Abu dan Duri

ILUSTRASI Puisi “Nyanyian Abu dan Duri”. (FOTO: Pinterest.com)

 

Nyanyian Abu dan Duri I

Di beranda senja kutemukan sisa abu
Terserak lirih di hampar musim yang kelam
Bekas impian yang karam menjadi rindu
Pada telaga waktu yang membeku kelam

Kugenggam reremahnya dengan tangan sendiri
Meski jemari perih oleh gurat nestapa
Sebab tiap serpih menyimpan riwayat diri
Yang dipahat usia pada batu nestapa

Nyanyian Abu dan Duri II

Di ladang sunyi tumbuh serumpun duri
Menjulang angkuh di sela rerumputan sendu
Mengoyak langkah para musafir yang sendiri
Dengan bisik getir yang bergaung sendu

Namun akar harap berdenyut di bawah tanah
Tak tampak mata yang silau oleh cahaya
Menanti musim yang menyentuh tubuh tanah
Agar kuntum takdir merekah oleh cahaya

Nyanyian Abu dan Duri III

Kala angin mengangkut dukaku ke cakrawala
Kudengar nyanyian lahir dari bara membara
Menggema lirih di tepian jauh cakrawala
Seakan menantang gulita yang terus membara

Katanya kehilangan hanyalah gerbang fana
Yang mesti dilalui oleh peziarah kehidupan
Meski langkah tertatih di lorong dunia fana
Menuju makna yang bersemayam dalam kehidupan

Nyanyian Abu dan Duri IV

Kini kutabur abu pada ladang yang fana
Meski duri masih berjaga sebagai kenangan
Dan kutitipkan harap pada musim yang fana
Yang tak lelah menumbuhkan jejak kenangan

Lalu merekah bunga dari luka yang dalam
Mengirim harum hingga ke batas cakrawala
Menjadi saksi bahwa nestapa tak selalu dalam
Karena keindahan lahir dari jalan cakrawala

(Cinthya Agatha Sinaga)

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *