Categories Artikel

Doom Spending: Urgensi Literasi Keuangan di Tengah Gempuran Paylater

Dua sisi realitas finansial generasi muda: Terjebak dalam lingkaran kecemasan masa depan (doom spending), atau bangkit menata masa depan lewat investasi mikro dan literasi keuangan. (FOTO: Gemini AI)

Di tengah derasnya berita tentang ancaman resesi global, gelombang PHK, harga kebutuhan pokok yang terus naik, hingga semakin sulitnya generasi muda membeli rumah, ada satu ironi yang justru tumbuh subur di ruang publik. Pusat perbelanjaan tetap penuh setiap akhir pekan. Tiket konser miliaran rupiah habis dalam hitungan menit. Kafe-kafe estetis dipadati anak muda yang rela mengantre panjang demi secangkir kopi dan unggahan media sosial. Di layar ponsel, kata “healing” menjadi mantra baru gaya hidup urban. Sementara di layar berita, masa depan ekonomi justru tampak semakin suram.

Kontradiksi ini menunjukkan bahwa masyarakat hari ini—khususnya generasi muda—sedang hidup dalam dua kecemasan sekaligus: takut menghadapi masa depan, tetapi juga takut kehilangan kebahagiaan sesaat di masa kini. Dari kondisi inilah lahir fenomena yang dikenal sebagai doom spending, yaitu perilaku membelanjakan uang secara impulsif sebagai mekanisme pelarian psikologis akibat rasa pesimis terhadap masa depan. Ketika harga rumah terasa mustahil dijangkau, biaya hidup terus meningkat, dan stabilitas pekerjaan semakin rapuh, sebagian orang akhirnya memilih menikmati uang hari ini tanpa banyak memikirkan hari esok. Logikanya sederhana: jika masa depan terasa tidak pasti, maka kesenangan saat ini dianggap lebih layak diperjuangkan.

Masalahnya, doom spending hari ini tidak lagi berjalan secara alami, melainkan diperkuat oleh ekosistem teknologi finansial yang membuat konsumsi terasa instan, mudah, dan nyaris tanpa hambatan. Fitur paylater, cicilan digital, diskon kilat, hingga notifikasi promo dirancang untuk membuat seseorang membeli sekarang dan memikirkan konsekuensinya belakangan. Dalam situasi seperti ini, literasi keuangan tidak lagi cukup dipahami sebatas kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga kemampuan mengendalikan impuls konsumsi di tengah sistem digital yang memang dirancang untuk membuat orang terus berbelanja. Jika tidak segera disadari, doom spending yang dibungkus normalisasi gaya hidup dan kemudahan fintech dapat berubah menjadi bom waktu finansial bagi generasi muda.

Ilusi FinTech

Fenomena doom spending tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dalam ekosistem digital yang secara sistematis dirancang untuk mempermudah konsumsi dan melemahkan pertimbangan rasional manusia. Di sinilah teknologi finansial, khususnya fitur paylater, memainkan peran penting. Paylater bukan sekadar inovasi pembayaran modern, melainkan strategi pemasaran psikologis yang sangat memahami kelemahan perilaku konsumen.

Dalam ilmu perilaku konsumen, terdapat istilah the pain of paying, yaitu rasa tidak nyaman secara psikologis ketika seseorang mengeluarkan uang secara langsung. Sensasi ini biasanya muncul ketika seseorang menyerahkan uang tunai atau melihat saldo rekeningnya berkurang drastis setelah bertransaksi. Rasa “sakit” tersebut sebenarnya berfungsi sebagai rem alami agar seseorang berpikir ulang sebelum membeli sesuatu. Namun, sistem paylater berhasil menghapus rem psikologis itu.

Ketika transaksi hanya dilakukan melalui satu klik dan pembayaran ditunda ke bulan depan, otak tidak langsung merasakan kehilangan uang secara nyata. Akibatnya, keputusan membeli terasa ringan, aman, bahkan seolah tidak memiliki konsekuensi. Kalimat-kalimat seperti “bayar nanti”, “cicilan ringan”, atau “0%” bukan sekadar promosi biasa, tetapi cara industri fintech membentuk ilusi bahwa konsumsi tidak lagi membutuhkan kesiapan finansial saat ini. Konsumen akhirnya terbiasa membeli berdasarkan keinginan, bukan kemampuan.

Masalahnya, rasa nyaman semu tersebut membuat banyak anak muda kehilangan kesadaran bahwa utang kecil yang terus diakumulasi dapat berubah menjadi tekanan finansial besar. Secangkir kopi Rp40.000, tiket konser jutaan rupiah, sepatu tren terbaru, hingga barang diskon tengah malam tampak seperti pengeluaran kecil yang “masih bisa dicicil”. Namun ketika semua transaksi impulsif itu berkumpul dalam satu tagihan, banyak orang baru menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang membayar gaya hidup yang melebihi kapasitas pendapatan mereka sendiri.

Fenomena ini semakin diperparah oleh bias kognitif yang disebut hyperbolic discounting. Secara sederhana, otak manusia memang cenderung lebih menghargai kesenangan instan hari ini dibanding manfaat besar di masa depan yang terasa abstrak dan jauh. Bagi banyak anak muda, menikmati konser hari ini terasa lebih nyata daripada memikirkan dana pensiun 30 tahun mendatang. Membeli baju baru demi tampil menarik di media sosial terasa lebih memuaskan dibanding menambah tabungan investasi yang hasilnya belum langsung terlihat.

Di era digital, kecenderungan psikologis tersebut terus dieksploitasi oleh algoritma media sosial dan platform belanja. Diskon kilat, flash sale, notifikasi promo, hingga tren “healing” menciptakan dorongan emosional agar seseorang segera membeli sebelum sempat berpikir rasional. Akibatnya, keputusan finansial hari ini semakin sering didasarkan pada dorongan dopamin sesaat, bukan pada perencanaan jangka panjang.

Pada titik inilah fintech berubah dari sekadar alat transaksi menjadi mesin konsumsi yang bekerja memanfaatkan impuls manusia. Teknologi yang seharusnya membantu pengelolaan keuangan justru berpotensi menjebak generasi muda dalam siklus konsumsi instan dan ketergantungan utang digital. Jika kondisi ini terus dinormalisasi, maka paylater bukan lagi sekadar fasilitas pembayaran modern, melainkan pintu masuk menuju krisis finansial generasi muda yang dibungkus kenyamanan semu.

Self-Reward yang Berubah Menjadi Self-Trap

Di era media sosial, konsumsi tidak lagi dipasarkan sekadar sebagai aktivitas membeli barang, tetapi sebagai bentuk mencintai diri sendiri. Istilah seperti healing, self-care, dan self-reward terus dipopulerkan melalui konten digital, iklan, hingga budaya populer. Pergi ke kafe mahal setelah lelah bekerja dianggap bentuk menghargai diri. Belanja barang bermerek dipandang sebagai hadiah atas kerja keras. Liburan impulsif disebut cara menjaga kesehatan mental. Perlahan, batas antara kebutuhan emosional dan dorongan konsumtif menjadi semakin kabur.

Masalahnya, industri gaya hidup dan media sosial sangat memahami kelemahan psikologis generasi muda: manusia selalu ingin merasa lebih baik secepat mungkin. Karena itu, konsumsi dikemas bukan lagi sebagai pengeluaran, melainkan terapi emosional. Algoritma media sosial terus membanjiri pengguna dengan konten estetik tentang kehidupan ideal—kopi mahal, outfit terbaru, konser musik, staycation, hingga tren “healing” yang seolah menjadi simbol keberhasilan hidup modern. Akibatnya, banyak anak muda mulai merasa bersalah jika tidak ikut menikmati gaya hidup tersebut. Kebahagiaan akhirnya diukur dari kemampuan mengikuti tren konsumsi yang dipamerkan di layar ponsel.

Di titik inilah makna healing mengalami pergeseran yang berbahaya. Healing yang seharusnya berarti pemulihan diri secara sehat dan berkelanjutan berubah menjadi legitimasi untuk konsumsi impulsif. Padahal, tidak semua bentuk pelarian emosional layak disebut pemulihan. Ketika rasa lelah, stres, dan kecemasan selalu dijawab dengan checkout belanja online atau transaksi paylater, yang sebenarnya terjadi bukanlah penyelesaian masalah, melainkan penundaan kecemasan dalam bentuk baru.

Lebih ironis lagi, banyak aktivitas self-reward tersebut dibiayai menggunakan utang konsumtif. Paylater membuat seseorang merasa mampu membeli apa pun tanpa perlu memiliki uang saat itu juga. Proses transaksi yang cepat menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan dapat diperoleh tanpa konsekuensi langsung. Namun rasa nyaman itu hanya bersifat sementara. Tagihan akan tetap datang, bunga akan terus berjalan, dan tekanan finansial justru semakin besar ketika penghasilan bulanan mulai habis untuk membayar konsumsi masa lalu.

Karena itu, self-reward berbasis utang sebenarnya bukan bentuk mencintai diri sendiri, melainkan cara paling halus untuk menyakiti diri secara finansial. Seseorang mungkin merasa tenang sesaat setelah membeli barang yang diinginkan, tetapi ketenangan itu sering kali berubah menjadi kecemasan baru ketika tanggal jatuh tempo mendekat. Dalam konteks ini, doom spending bukan sekadar kebiasaan boros, melainkan siklus emosional yang membuat seseorang terus membeli demi meredakan stres, lalu kembali stres karena beban tagihan yang menumpuk.

Fenomena ini menunjukkan bahwa krisis finansial generasi muda hari ini tidak hanya dipengaruhi rendahnya pendapatan, tetapi juga budaya konsumsi digital yang terus menormalisasi pelarian emosional melalui belanja. Jika kondisi ini terus dianggap wajar, maka generasi muda bukan hanya sedang membeli barang, tetapi juga sedang mencicil kecemasan masa depan mereka sendiri.

Generasi muda memang tidak bisa sepenuhnya mengendalikan kondisi ekonomi global. Kita tidak dapat menghentikan inflasi, mencegah badai PHK, atau menurunkan harga rumah yang terus melambung tinggi. Dunia hari ini memang dipenuhi ketidakpastian yang sering kali membuat masa depan terasa semakin jauh dan melelahkan untuk dikejar. Namun di tengah situasi yang serba tidak pasti itu, masih ada satu hal yang sepenuhnya berada dalam kendali setiap individu: bagaimana cara kita memperlakukan uang yang ada di tangan kita hari ini.

Doom spending mungkin terlihat seperti pelarian kecil yang tidak berbahaya. Secangkir kopi mahal, diskon tengah malam, tiket konser, atau checkout impulsif memang mampu memberi rasa senang sesaat di tengah tekanan hidup modern. Namun, kebiasaan tersebut perlahan membentuk pola konsumsi yang membuat seseorang hidup lebih dekat pada kepuasan instan dibanding ketahanan finansial jangka panjang. Yang lebih berbahaya, teknologi finansial membuat proses itu terasa begitu nyaman hingga banyak orang tidak sadar sedang berjalan menuju jebakan utang konsumtif.

Karena itu, literasi keuangan di era digital tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Literasi keuangan hari ini adalah kemampuan mengendalikan impuls, membedakan kebutuhan dan pelarian emosional, serta keberanian untuk tidak selalu mengikuti standar gaya hidup yang dipamerkan media sosial. Sebab pada akhirnya, ancaman terbesar bagi stabilitas finansial generasi muda bukan hanya rendahnya pendapatan, tetapi budaya konsumsi yang terus menormalisasi kepuasan instan.

Mungkin kita memang tidak bisa mengontrol arah ekonomi dunia. Namun kita masih bisa memilih: apakah uang yang kita miliki akan digunakan untuk membangun masa depan, atau justru dihabiskan demi kesenangan sesaat yang cepat hilang. Di era ketika tombol checkout hanya berjarak satu sentuhan jari, mungkin bentuk kedewasaan finansial tertinggi bukanlah kemampuan membeli apa pun yang kita inginkan, melainkan kemampuan menahan diri untuk tidak selalu berkata “iya” pada setiap keinginan.

Agustina Purnama Sari Hutabarat

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *