Categories Cerpen

Kopi Tubruk Penunda Ajal

ILUSTRASI Cerpen “Kopi Tubruk Penunda Ajal”. (FOTO :AI)

Di sudut gang sempit yang terjepit di antara gedung-gedung beton Jakarta, ada sebuah warung kopi bernama “Warkop Berhenti”. Pemiliknya adalah Cak Man, pria yang usianya sulit ditebak bisa jadi empat puluh, bisa jadi empat ratus tahun. Di sini, menu utamanya bukan Indomie telur atau kopi saset, melainkan side quest kehidupan.

Rian datang dengan napas tersengal. Kemeja organisasinya kusut, keringat dingin membasahi dahi. Dia baru saja dapet tugas dari Ketua Umum untuk bikin laporan pertanggungjawaban (LPJ) setebal bantal dalam waktu satu jam, atau posisinya sebagai Sekretaris bakal dicopot.

“Cak, kopi satu. Yang bisa bikin waktu berhenti,” pinta Rian sambil menghempaskan pantat ke kursi plastik yang reyot.

Cak Man yang sedang mengelap gelas dengan kain kumal hanya melirik lewat spion motor yang dipajang di dinding. “Waktu nggak bisa berhenti, Yan. Dia itu kayak mantan, makin dikejar makin lari. Tapi kalau mau ‘melambat’, aku punya stoknya.”

“Terserah apa namanya, Cak. Pokoknya laporan ini harus kelar. Saya nggak mau dipecat dari organisasi. Gengsi, Cak!”

Cak Man meracik kopi dengan gerakan yang sangat pelan. Dia memasukkan bubuk hitam pekat, lalu menuangkan air panas dari termos yang bunyinya seperti naga sesak napas.

“Ini namanya Kopi Tubruk Slow-Mo,” kata Cak Man sambil menyodorkan gelas kaca kecil. “Satu seruput, duniamu melambat sepuluh kali lipat. Tapi ingat, cuma fisikmu yang cepat. Mentalmu tetap bakal capek.”

Rian tidak peduli. Dia menyeruput kopi itu. Rasanya? Pahit sekali, seperti melihat gebetan dipelaminan orang lain.

Tiba-tiba, suara bising knalpot motor di gang depan terdengar seperti suara paus yang sedang mengerang panjang. Seekor lalat yang terbang di depan hidung Rian terlihat mengepakkan sayap dengan sangat malas. Rian melihat jam tangannya. Jarum detiknya bergerak… satu… dua… lama sekali.

“Gila! Berhasil, Cak!” seru Rian.

“Ya sudah, kerjakan. Jangan banyak gaya,” sahut Cak Man yang gerakannya sekarang terlihat seperti robot kehabisan baterai di mata Rian.

Rian segera membuka laptopnya. Jemarinya menari di atas keyboard. Karena dunianya melambat, Rian merasa punya waktu berabad-abad. Dia mengetik dengan kecepatan cahaya. Satu bab, dua bab, lampiran keuangan, hingga dokumentasi kegiatan yang tadinya berantakan, semua dia susun dengan rapi.

Namun, di tengah-tengah mengetik, Rian mulai merasa jenuh. Dia mulai memperhatikan sekitar dengan lebih detail hal-hal yang biasanya dia lewatkan karena terlalu sibuk dengan urusan organisasi.

Dia melihat semut yang sedang gotong royong membawa remah biskuit. Dia melihat bagaimana debu-debu menari di bawah sinar lampu kuning warkop. Dia bahkan melihat raut wajah Cak Man yang sebenarnya terlihat sangat lelah, namun tetap tersenyum tipis melihat pelanggannya.

“Selama ini aku ngapain aja ya di organisasi?” gumam Rian. “Rapat tiap hari, debat sampai urat leher keluar, tapi aku nggak pernah bener-bener ‘melihat’ orang-orang di dalamnya.”

Setelah merasa laporannya sempurna bahkan terlalu sempurna sampai-sampai dia menambahkan analisis SWOT untuk menu kantin kantor Rian menutup laptopnya. Dia merasa sudah berada di sana selama tiga hari, padahal di dunia nyata mungkin baru lewat sepuluh menit.

Efek kopi mulai pudar. Suara bising kota kembali normal. Knalpot motor kembali memekakkan telinga.

“Cak, sudah kelar. Makasih ya,” kata Rian.

Cak Man menghampiri, membawa sepiring gorengan yang baru matang. “Gimana rasanya punya banyak waktu?”

Rian menghela napas panjang. “Ternyata capek, Cak. Punya waktu banyak malah bikin saya mikir yang nggak-nggak. Ternyata masalah saya bukan kekurangan waktu, tapi terlalu sibuk lari sampai lupa kenapa saya jalan.”

Cak Man tertawa, suaranya renyah. “Nah, itu dia. Orang-orang organisasi kayak kamu itu biasanya pinter bikin program kerja, tapi lupa bikin ‘program hidup’. Kamu mau laporan itu jadi hebat? Jangan cuma kasih angka. Kasih hati.”

Rian terdiam. Dia membuka kembali laptopnya, lalu menghapus kalimat-kalimat kaku yang dia tulis tadi. Dia menggantinya dengan cerita tentang perjuangan anggota-anggotanya, tentang tawa mereka saat acara gagal, dan tentang bagaimana mereka tetap bertahan meski dana mepet.

“Bayarannya berapa, Cak?” tanya Rian sambil merogoh dompet.

“Nggak usah pakai duit. Cukup satu aja: nanti kalau laporannya diterima, ajak ketua mu ke sini. Dia butuh kopi ‘Sadar Diri’,” canda Cak Man.

Rian pulang dengan perasaan yang jauh lebih santai. Laporan itu akhirnya diserahkan. Sang Ketua tidak marah, malah terdiam lama setelah membacanya. Bukan karena datanya akurat, tapi karena untuk pertama kalinya, laporan organisasi itu terasa seperti manusia, bukan sekadar kertas kerja.

Dan sejak saat itu, Rian tahu, sesibuk apa pun organisasinya, dia selalu punya tempat untuk berhenti sejenak meski itu hanya di sebuah warkop sempit dengan pemilik yang punya jam ajaib di matanya.

(Cantriya Simbolon)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *