Categories Cerpen

Desibel Nol

Keheningan yang terlihat biasa, tetapi menyimpan suara yang tak seharusnya didengar. (FOTO: istockphoto)

 

Bagi Raka, keheningan adalah sesuatu yang bisa dijual. Sebagai sound engineer terbaik di kota ini, pekerjaannya adalah menghilangkan gangguan suara. Napas yang terlalu keras, kursi yang berdecit, hingga dengungan halus yang mengganggu rekaman podcast para selebriti—semuanya bisa ia bersihkan dengan mudah.

Kali ini kliennya berbeda. Tanpa nama. Hanya sebuah email anonim berisi file audio berukuran besar, dengan satu pesan singkat: “Bersihkan hingga 0 dB. Jangan didengarkan.”

Tawarannya terlalu besar untuk ditolak, meskipun instruksinya aneh. Raka tetap mengunduh file bernama SUNYI.wav itu ke dalam software audio miliknya.

Di layar, gelombang suara yang muncul hanya garis lurus. Tidak ada bentuk. Tidak ada tanda suara.

“Cuma rekaman kosong,” gumam Raka santai.

Ia menekan tombol play.

Tidak ada suara. Benar-benar hening.

Raka mulai bekerja. Ia menyalakan berbagai alat pembersih suara—memotong frekuensi yang tidak perlu, meredam gangguan, dan meratakan sinyal.

Satu jam berlalu. Tidak ada perubahan.

Iseng, ia mematikan semua alatnya. Ia penasaran, sebenarnya apa isi file itu. Raka menaikkan volume hingga sangat tinggi.

Masih hening.

“Jangan-jangan alatku rusak?” pikirnya.

Ia mengganti headphone dengan speaker besar di studionya, lalu menaikkan volume sampai maksimal. Tetap tidak ada suara.

Namun, sesuatu mulai terasa aneh.

Udara di dalam ruangan terasa berat. Seolah ada getaran halus yang tidak terdengar, tapi bisa dirasakan. Seperti suasana sebelum petir datang.

Raka menatap layar. Indikator volume mulai naik hingga menyentuh batas merah: 0 dB.

Tapi tetap tidak ada suara.

Tiba-tiba, kopi di cangkirnya bergetar. Lampu mulai berkedip. Gelas di rak saling berdenting pelan.

Raka terdiam.

Ini bukan keheningan.

Ini adalah suara yang terlalu rendah untuk didengar manusia—tapi cukup kuat untuk mengguncang benda di sekitarnya.

Ponselnya berbunyi. Email baru masuk.

“Saya sudah bilang jangan didengarkan. Suara ini bukan untuk manusia. Ini adalah getaran bumi. Jika mencapai 0 dB, getaran itu akan berhenti.”

Raka panik. Ia mencoba menurunkan volume, tapi tubuhnya terasa kaku.

Ia sadar, bukan hanya benda di sekitarnya yang bergetar.

Tubuhnya juga.

Jantungnya. Tulangnya. Bahkan pikirannya.

Semua bergerak mengikuti frekuensi yang sama.

Dalam keheningan yang mematikan itu, tidak ada suara ledakan.

Hanya layar yang tiba-tiba mati.

Lampu padam.

Dan rasa berat yang perlahan menghilangkan kesadarannya.

Keesokan harinya, polisi menemukan Raka duduk diam di kursinya. Matanya terbuka, menatap layar hitam.

Tidak ada tanda kekerasan.

Semua alat di ruangan itu masih utuh.

Hasil autopsi menyatakan ia meninggal karena gagal jantung mendadak—seolah seluruh tubuhnya berhenti bekerja dalam satu waktu.

Di layar komputernya yang gelap, jika dilihat dari sudut tertentu, masih terlihat bayangan garis lurus dari file SUNYI.wav.

Membeku di Desibel Nol.

Titik di mana semuanya dimulai.

Dan semuanya berakhir.

 

(Agustina Purnama Sari Hutabarat)

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *