ILUSTRASI Puisi Natal (FOTO: Pinterest.com)
Langit Desember menunduk tenang,
salju turun seperti doa tak bersuara.
Setiap butirnya membawa pesan lembut:
tentang Kasih yang tak pernah lelah memaafkan.
Di antara dingin dan cahaya lilin,
aku melihat Kasih lahir tanpa mahkota,
hanya seberkas terang di palungan jiwa,
menuntun langkah pulang menuju damai.
Gerimis salju menyentuh bumi perlahan,
membersihkan debu, menyapu duka,
membasuh dosa yang tersembunyi di dada,
hingga yang tersisa hanya kesenyapan suci.
Malam ini, langit bicara tanpa kata,
ampunan turun dalam wujud cahaya.
Aku mendengar Tuhan bernyanyi lewat salju,
menghapus luka dengan kelembutan kasih-Nya.
Dan ketika fajar membuka matanya,
dunia terasa baru—lahir kembali.
Gerimis salju telah usai,
namun cinta-Nya menetap di hati yang disucikan.
Jantung Dunia Berdetak di Jerami
Di malam yang lahir dari senyap,
bintang menunduk di atas kandang kecil,
angin berdoa di sela jerami,
dan bumi menahan napasnya
saat Sang Waktu menjelma menjadi Bayi.
Tak ada singgasana,
hanya palungan yang memeluk Sang Terang,
di sana kasih menetes,
menjadi darah pertama bagi dunia yang retak.
Jantung Dunia berdetak di jerami,
mengalirkan hidup ke setiap luka manusia,
membangunkan harapan dari dingin yang purba,
mengajar cinta untuk bersujud tanpa syarat.
Sebab dari sunyi yang tak dipilih siapa pun,
lahirlah kasih yang dipilih semua hati.
Denyut Natal Dalam Jiwa
Di tengah malam yang sunyi,
ketika langit menunduk dan bintang menahan napas,
lahirlah seberkas cahaya di hati manusia
lembut, hangat, dan tak bersuara.
Natal bukan denting lonceng di kejauhan,
bukan kilau lampu yang menari di jendela,
melainkan bisikan kasih yang pelan,
mengajarkan arti pulang pada yang hilang.
Setiap detak jantung membawa kabar gembira,
setiap napas menjadi lagu pujian,
sebab di dada yang pernah gersang,
kini tumbuh sehelai damai tak terjelaskan.
Bukan gemerlap yang mengabarkan kabar baik,
melainkan sepi yang menimang Sang Terang,
tangis kecil yang mengguncang langit,
membuat surga bergetar oleh damai yang baru.
Kotak Kecil, Kado Abadi
Bukan dari perak, bukan kertas berkilau,
ia lahir dari palungan sunyi yang setia.
Kotak kecil menanti di ujung doa,
tempat Kasih turun dalam rupa sederhana.
Isinya hanya satu: Terang yang lembut,
cukup memecah kebisuan ribuan tahun.
Tak berbungkus pita, tak disertai nama,
namun membawa harapan yang tak pernah padam.
Di dada manusia, kotak itu kembali hidup,
mengganti gersang dengan sukacita yang lembut.
Ia mengajar hati untuk percaya lagi,
bahwa cinta selalu menemukan jalannya pulang.
Maka bukalah palungan di dalam dirimu,
biarkan Kado itu bersemayam selamanya.
Sebab Kasih yang lahir malam itu
adalah cahaya yang tak pernah padam oleh waktu.
Simfoni di Palungan
Bukan biola, bukan harpa agung,
Simfoni lahir dari hening Betlehem.
Palungan menahan napasnya yang bingung,
sebelum lahirlah nada pertama dari Kasih Yang Kekal.
Setiap napas menjadi melodi rahasia,
menyatukan surga dan tanah dalam harmoni suci.
Instrumennya hanya desah jerami kering,
dan bisik malaikat tanpa keriuhan lantang.
Ia adalah ritme dari kerendahan hati,
mengajak jiwa menanggalkan mahkota diri.
Suaranya tumbuh di tempat yang fana dan mati,
membasuh sesal yang terperangkap perih.
Dengarkan, Simfoni itu abadi di sini,
berdetak di sela waktu yang tak terbagi.
Palungan adalah pusat segala puji,
tempat Kasih lahir dalam diam sejati.
(Agustina)
