ILUSTRASI Opini “Apakah Pulang Tenggo Menunjukkan Kurangnya Dedikasi Atau Justru Produktivitas Yang Lebih Baik?”. (FOTO : Pinterest.com)
Di era kerja modern di Indonesia, istilah “tenggo” yaitu pulang tepat waktu ketika jam kerja reguler selesai mulai menjadi sorotan. Di satu sisi, jam kerja panjang dan lembur masih dianggap sebagai bukti dedikasi dan loyalitas. Namun, di sisi lain, makin banyak pekerja muda yang memilih untuk menghargai waktu pribadi dan menjaga keseimbangan hidup sebagai bagian dari profesionalisme yang baru.
Fakta pertama: Sebuah studi di Indonesia menemukan bahwa di antara pekerja yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu yaitu lebih dari norma kerja regular, setiap tambahan satu jam kerja mingguan meningkatkan peluang seseorang terkena hipertensi sebesar 0,06 persen. Dilansir dari https://bmcpublichealth.biomedcentral.com pada Jumat (21/11/2025), Penelitian konstruksi di Indonesia menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja saat lembur (jam kerja tambahan) justru menurun dibanding pada jam kerja normal, dengan pengurangan produktivitas sekitar 8,9 % pada beberapa jenis pekerjaan formwork dibanding jam reguler.
Dengan fakta-fakta tersebut, maka muncul pertanyaan “apakah pulang tepat waktu berarti kurang berdedikasi atau justru menjadi indikator bahwa seseorang mampu bekerja dengan efisien dan menghargai kualitas hidupnya?” Mari kita telusuri lebih dalam fenomena ini dan maknanya dalam konteks kerja modern di Indonesia demi memahami apakah “tenggo” memang sebuah kemunduran atau justru langkah maju tetap bersama pembahasan berikut.
Budaya Kerja Lembur Sebagai Tolak Ukur Dedikasi
Di banyak organisasi di Indonesia, lembur atau tinggal di kantor lebih lama sering dianggap sebagai bukti bahwa seorang karyawan sungguh-sungguh berdedikasi. Normanya adalah jika pulang dari kantor tepat waktu, maka akan muncul komentar atau anggapan bahwa kerjaan belum selesai atau kurang loyal. Kondisi ini menciptakan tekanan sosial yang membuat banyak karyawan takut melakukan“tenggo”. Akibatnya, karyawan yang sebenarnya sudah menyelesaikan tugas tepat waktu tetap merasa harus tinggal di kantor agar tidak dilabeli negatif. Ini berarti waktu pribadi dan pemulihan mereka terganggu, hanya demi target yang sebenarnya bisa dicapai dalam jam kerja normal.
Dilihat lebih jauh, meskipun lembur dianggap positif, riset yang dilansir dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/ menunjukkan bahwa produktivitas per jam mulai menurun jika jam kerja terlalu panjang. Laporan tersebut menyebut bahwa pekerja yang terus-menerus lembur bahkan bisa menghasilkan output per jam yang lebih rendah dibanding saat jam kerja normal. Wajar jika keadaan ini menimbulkan ketegangan antara “kerja keras” dan “kerja cerdas”.
Terakhir, konflik muncul antara ekspektasi lingkungan kerja dan kebutuhan karyawan akan kesejahteraan. Banyak pekerja muda sekarang menempatkan work-life balance sebagai hal penting, tetapi realita budaya kerja di banyak kantor belum menyesuaikan. Situasi ini membuat pilihan “tenggo” sering dipandang sebagai sikap kurang serius padahal mungkin sebaliknya.
Menghargai Efisiensi Kerja Dan Pulang Tepat Waktu
Untuk mengubah pandangan bahwa pulang tepat waktu berarti kurang dedikasi, perusahaan dan karyawan perlu bersama-sama menata ulang definisi keberhasilan kerja. Tidak hanya jam yang dihabiskan di kantor, melainkan hasil nyata, kualitas tugas, dan kemampuan menyelesaikan dengan efektif. Bila seorang karyawan mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dalam waktu normal, maka pulang tepat waktu adalah tindakan efisien yang layak dihargai.
Manajemen perusahaan sebaiknya menerapkan pengukuran performa yang lebih modern, bukan hanya berdasarkan lama jam kerja atau kehadiran, tetapi pada output, efektifitas, dan kesejahteraan karyawan. Hal ini bisa diwujudkan dengan pengaturan tugas yang lebih jelas, prioritas yang realistis, serta sistem reward yang menghargai produktivitas, bukan lembur.
Selain itu, kebijakan fleksibel secara institusional bisa sangat membantu. Contohnya menyediakan opsi pulang tepat waktu dengan tetap mendukung target, memperkuat budaya “kerja selesai tepat waktu” lewat teladan pimpinan, dan memastikan bahwa jam lembur bukan norma tapi hanya jika benar-benar diperlukan.
Karyawan juga punya peran aktif yaitu mereka bisa mengelola prioritas pekerjaan dengan baik, berkomunikasi terbuka kepada atasan mengenai waktu kerja yang realistis, serta menjaga produktivitas selama jam kerja utama agar mampu menyelesaikan tugas tanpa harus lembur secara rutin. Dengan demikian, pulang tepat waktu bukan lagi dianggap “malas”, melainkan sebagai pilihan profesional yang bijak dan seimbang.
(Cinthya Agatha Sinaga)
