ILUSTRASI, “Mengisahkan selingan isi jiwa seorang perempuan berusia 21 tahun di 28 Mei 2025” (FOTO: maya janet)
Senja di Ujung Mei
Di pelupuk senja akhir bulan kelahiran,
Maya menua, bukan usia,-namun pemahaman.
Dua puluh satu cahaya menari dalam bayangan,
Menuntunnya mencari makna dari perjalanan.
Ia berharap segala yang datang bukan badai,
Namun embun pagi yang lembut dan damai.
Meski jaraknya terasa jauh dari Sang Fajar,
Ia ingin kembali, meski langkahnya gemetar.
Doa yang Terlupa
Terkadang ia lupa merangkai syukur,
Saat hari berlalu tanpa pelipur.
Doanya retak di antara gemuruh dunia,
Tapi hatinya masih mendamba cahaya-Nya.
Di usianya kini, ia ingin membenahi lara,
Menjahit ulang harap yang sempat luka.
Ia tahu Tuhan tak pernah jauh benar,
Hanya dirinya yang menjauh tanpa sadar.
Tak Lagi Menangis di Mei
Tahun lalu tangis mengalir tanpa suara,
Kini senyum tumbuh seperti bunga pertama.
Maya bersyukur, dikelilingi cinta yang nyata,
Dari jiwa-jiwa yang menyambutnya bahagia.
Tak ada pesta megah, tak pula nyala lilin,
Namun hatinya damai, tak lagi dingin.
Hari ini ia merayakan hidup yang baru,
Dengan sukacita yang tak palsu.
Cahaya yang Dinanti
Ia menatap masa depan seperti langit malam,
Penuh tanda tanya, tapi tetap tenang.
Berharap Tuhan memberinya cahaya terang,
Di setiap jalan, rejeki, dan ruang.
Bukan kemewahan yang ia pinta,
Hanya arah yang diberkati cinta.
Ia tahu Tuhan mengenal isi hatinya,
Dan mengukir berkat sesuai rencana-Nya.
Syukur yang Terucap Pelan
Usia bukan sekadar angka yang bertambah,
Tapi napas-napas yang diselipkan berkah.
Maya bersyukur dalam senyap yang tenang,
Untuk hari di mana hatinya tak lagi bimbang.
Ia ingin menjadi lebih dari kemarin,
Menjadi pribadi yang Tuhan tuntun dan lindungi.
Ia tahu langkahnya masih kerap pincang,
Namun kasih Tuhan selalu panjang.
(Maya Aristia Janett Manullang)
