Categories Puisi Rehat

Lintasan Rindu

 Ilustrasi Puisi “Lintasan Rindu” (FOTO: Pinterest.com)

Spektrum

Dalam spektrum senja kulihat warnamu terurai,
meski jarak kini merentang bagai galaksi tak teraih,
rindu kita masih memancar, redup tapi tak pernah padam,
berkilau di sela gelombang waktu yang pasang surut tak terelak.

Kau di seberang fajar, meniti langkah demi cita,
sementara aku menahan rasa yang lirih menggigit,
namun aku percaya, di antara warna-warna semesta,
namamu selalu terpatri di ujung spektrum yang paling lembut.

Meskipun kita terpisah demi hidup yang harus digapai,
rasa ini adalah cahaya, menembus ruang, menolak lenyap,
kita adalah dua warna, beda tapi saling merangkai,
membentuk spektrum rasa yang tak kan pernah rapuh atau remuk.

Langit yang Sama

Kita menatap bintang di langit yang sama,
meski jarak kini merentang bagai samudra luas,
rindu berpendar lembut, meski tak bersuara,
menghiasi malam yang sunyi, meski terasa lepas.

Kau menapak hari, menjemput segala cita,
sementara aku menggenggam waktu yang lambat,
namun kupercaya, di bawah hamparan semesta,
namamu tetap hadir, tak pernah benar-benar terlewat.

Jika pun langkah kita sementara tak bersua,
biarlah doa terbang mengisi ruang yang lengang,
suatu hari kelak, di bawah langit yang sama,
kita pulang pada harap, dan jarak pun hilang.

Resonansi Rasa

Ada gema lirih terpantul di dinding waktu,
menyusup ke nadiku seperti bisik angin senja,
meski jarak menjahit luka di antara kita berdua,
rasa ini bertahan, di ruang sunyi yang tak berlalu.

Kau memikul hari, dengan mata penuh cahaya,
menyulam masa depan meski langit kerap redup,
sementara aku menunggu, di tepian rasa yang senyap,
memupuk sabar, berharap semesta tak lagi berdaya memisah.

Biarlah waktu merentang seakan tiada batas,
jika rasa kita masih sanggup berdetak serupa nada,
maka kelak di simpang takdir, yang tak bisa ditebas,
kita bertemu lagi, tak hanya dalam resonansi rasa.

Meniti Asa

Kita meniti asa di jembatan waktu yang membentang,
meski hari-hari merenggangkan jarak tak terukur,
ada sinar halus yang terus memanggil pulang,
menjanjikan temu di saat paling jernih dan makmur.

Engkau mengukir langkah, menggapai puncak cita,
sedang aku menjaga detak hari dengan sabar yang membisu,
namun di sanubari, terpatri yakin yang tak tergugurkan,
bahwa semesta sedang menulis saat terbaik untuk bertemu.

Biarlah masa kini hanya jeda, bukan pisah,
biarlah rindu menjadi benih yang tumbuh diam,
suatu saat kelak, di ujung waktu yang paling cerah,
kita bersua kembali, di bawah langit tanpa kelam.

(Cinthya Agatha Sinaga)

 

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *