ILUSTRASI, Seorang sepasang kekasih yang mencintai namun di waktu yang salah. (FOTO: pinterest)
Nyanyian Luka di Ambang Iman
Kita melangkah di jalan yang sama,
tapi takdir menulis arah berbeda,
doaku naik bersama angin malam,
namamu kusemat di tiap sujudku.
Namun, kitab membangun tembok tinggi,
menghalangi genggaman yang ingin abadi,
kau dan aku hanya dua cahaya,
berpendar indah, tapi tak bisa menyatu bak cahaya
Persinggahan Tanpa Tujuan
Kau datang membawa kisah indah,
seperti senja yang merayu malam,
aku percaya pada langkahmu,
tapi kau hanya singgah, bukan menetap.
Aku pelabuhan yang menunggu setia,
kau kapal yang berlayar tanpa arah,
meninggalkan jejak yang cepat pudar,
menyisakan luka di dada yang diam.
Tarito, Tembok Tak Kasat Mata
Kita mencinta tanpa ragu,
tapi leluhur telah menulis takdir,
nama kita tak boleh bersanding,
tarito mengikat langkah kita erat.
Seperti sungai yang mengalir deras,
tapi terhenti di tebing berbatu,
cinta kita seluas samudra,
tapi terkurung dalam batas tak kasat mata.
Jarak yang Membunuh Rindu
Jarak adalah hujan tanpa pelangi,
mendinginkan rindu yang membara,
suaramu hadir dalam layar kaca,
tapi genggamanmu tetap tak nyata.
Aku menunggu di musim yang sama,
kau terjebak dalam waktu berbeda,
perlahan kita menjadi bayangan,
redup dalam kisah yang tak tersentuh.
Restu yang Tak Pernah Singgah
Namamu kusemat dalam harapan,
tapi angin membawa restu ke lain arah,
doa ibu tak menyebutmu lagi,
cinta ini dilarang tumbuh di tanahnya.
Di pelaminan aku berdiri tegak,
tersenyum pada takdir yang dingin,
bukan karena bahagia yang kupilih,
tapi karena dunia menolak kita.
(Maya Aristia Janett Manullang)
