ILUSTRASI Opini Fenomena Flexing Antara Motivasi dan Tekanan Sosial (FOTO: Pinterest.com)
Di era digital yang serba terhubung, fenomena flexing atau kebiasaan memamerkan kekayaan, pencapaian, dan gaya hidup mewah di media sosial telah menjadi tren yang sulit dihindari. Kita sering melihat unggahan tentang mobil mewah, pakaian dari brand ternama, liburan ke destinasi eksotis, hingga prestasi akademik atau karier yang dipamerkan secara terbuka di platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter. Bagi sebagian orang, flexing ini dianggap sebagai bentuk motivasi dan inspirasi untuk meraih kesuksesan serupa. Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menciptakan tekanan sosial dan perasaan rendah diri di kalangan masyarakat, terutama generasi muda yang aktif di media sosial.
Fenomena flexing tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis manusia akan pengakuan dan validasi dari lingkungan sosial. Teori kebutuhan Maslow menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar untuk diakui dan dihargai. Dalam konteks media sosial, like, komentar, dan jumlah pengikut menjadi bentuk validasi yang diidamkan. Ketika seseorang mendapatkan banyak respons positif atas unggahan yang memamerkan kekayaan atau pencapaian, otak akan melepaskan dopamin yang menciptakan rasa senang dan puas. Ini yang membuat banyak orang terdorong untuk terus flexing demi mempertahankan respons positif tersebut.
Namun, sisi gelap dari flexing ini mulai terlihat ketika seseorang mulai mengaitkan kebahagiaan dengan pengakuan sosial semata. Bukan rahasia lagi bahwa banyak orang yang rela berutang, memalsukan gaya hidup, atau bahkan melakukan tindakan yang tidak etis demi menciptakan citra sukses di media sosial. Lebih parah lagi, konten flexing yang terus-menerus muncul di beranda media sosial dapat menciptakan standar hidup yang tidak realistis bagi para penontonnya. Seseorang yang melihat unggahan tentang liburan mewah atau gaya hidup glamor bisa merasa bahwa hidupnya kurang berarti jika tidak mampu mencapai standar tersebut. Hal ini berpotensi menimbulkan tekanan psikologis, perasaan rendah diri, dan ketidakpuasan dalam menjalani hidup.
Tidak hanya berdampak pada individu, fenomena ini juga menciptakan efek domino di masyarakat. Tren konsumtif semakin meningkat karena banyak orang ingin terlihat “berkelas” di media sosial. Industri fashion, teknologi, dan hiburan semakin memanfaatkan fenomena ini untuk meningkatkan daya tarik produk mereka dengan melibatkan influencer yang memiliki pengikut besar. Alhasil, terciptalah budaya materialistis yang menempatkan citra dan penampilan sebagai tolok ukur kesuksesan, bukan proses atau makna di balik pencapaian tersebut.
Meski demikian, flexing tidak sepenuhnya negatif jika dipandang dan disikapi dengan bijak. Bagi sebagian orang, unggahan tentang kesuksesan dan gaya hidup sehat bisa menjadi motivasi untuk bekerja lebih keras dan mengembangkan diri. Namun, perbedaan antara motivasi dan tekanan psikologis terletak pada bagaimana seseorang memaknai kesuksesan tersebut. Jika motivasi didasarkan pada keinginan untuk tumbuh dan memperbaiki diri, maka efeknya akan positif. Namun, jika kesuksesan diukur hanya dari pengakuan sosial dan materi, maka hal itu bisa menciptakan ketergantungan emosional yang tidak sehat.
Pada akhirnya, fenomena flexing mengajarkan kita tentang pentingnya membangun kesadaran diri dan membedakan antara motivasi intrinsik dan tekanan sosial. Kebahagiaan sejati tidak terletak pada apa yang kita pamerkan, tetapi pada makna dan nilai yang kita ciptakan dalam hidup. Media sosial adalah alat, bukan tolok ukur kehidupan yang sebenarnya. Daripada terjebak dalam siklus flexing yang tidak berujung, alangkah lebih baik jika kita fokus pada pengembangan diri dan kebahagiaan yang berasal dari dalam, bukan sekadar dari jumlah like atau komentar di media sosial.
(Cantriya Anastasya Simbolon)
