Categories Cerpen Rehat

Dari Jalanan ke Jalan Pulang

ILUSTRASI Cerpen Dari Jalanan ke Jalan Pulang

Di sebuah sudut kampus, yang lebih sering menjadi tempat berkumpulnya asap rokok dan tawa keras, Aldo memulai harinya. Dengan jaket kulit hitam yang sudah pudar di sana-sini dan helm motor yang selalu tersandang, dia adalah sosok yang ditakuti sekaligus dikagumi. Bagi Aldo, dunia perkuliahan bukan soal mengejar nilai atau ilmu. Itu hanya sekadar tempat singgah di antara arena tawuran yang ia anggap lebih bermakna.

“Do, sore ini ada janjian sama anak teknik,” bisik Bima, sahabat sekaligus rekan seperjuangan di jalanan.

Aldo hanya mengangguk. Matanya tetap tertuju pada layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp yang diisinya bersama beberapa teman dekat: “Markas jam 5. Jangan telat.” Aldo membalas dengan emoji jempol.

Dunia Aldo selama ini hanyalah pertempuran. Adrenalinnya terpacu setiap kali pukulan pertama dilayangkan. Tawuran menjadi cara dia melarikan diri dari realitas yang keras di rumah, di mana ayahnya tak pernah pulang dan ibunya berjuang sendirian sebagai buruh cuci. Hidup baginya adalah soal bertahan, dan tawuran memberinya rasa kendali yang ia cari.

Namun, hari itu, sesuatu yang kecil tapi signifikan mengubah ritmenya. Saat Aldo melangkah menuju kantin, dia melihat seseorang yang membuat langkahnya terhenti. Seorang perempuan duduk sendirian di sudut, dengan buku tebal di tangannya dan rambut yang sebagian disanggul ke atas. Perempuan itu tidak menatap siapa pun, fokus pada bacaan di depannya. Anehnya, Aldo merasa ada daya tarik yang sulit ia jelaskan.

“Siapa dia?” tanya Aldo pada Bima sambil menunjuk ke arah perempuan itu.

Bima menyeringai. “Itu Nisa. Anak psikologi. Pendiam, nggak banyak ngomong, tapi katanya pinter banget. Kenapa? Naksir?” godanya.

Aldo mendengus, mencoba menyembunyikan rasa ingin tahunya. Tapi sejak hari itu, matanya selalu mencari sosok Nisa di kampus. Bukan karena Nisa mencolok, tapi justru karena kehadirannya yang sederhana namun tenang.

Seminggu kemudian, sebuah kejadian kecil membawa mereka berinteraksi. Saat Aldo duduk di taman kampus sambil memainkan ponselnya, Nisa mendekat.

“Aldo, kan?” tanyanya, suaranya pelan namun penuh keyakinan.

Aldo menoleh, sedikit terkejut. “Iya. Kok tahu nama gue?”

Nisa tersenyum kecil. “Kamu lumayan terkenal di kampus. Bukan karena hal yang baik, sih.

”Aldo tertawa kecil. “Jadi, mau apa?”

“Aku cuma mau tanya, kenapa kamu suka banget ikut tawuran?” Pertanyaan itu keluar begitu saja, membuat Aldo terdiam.

“Kenapa?” ulang Nisa.

Aldo menggaruk belakang kepalanya, sedikit canggung. “Karena seru aja. Adrenalin. Lagian, itu urusan gue, bukan urusan lo.

”Nisa hanya tersenyum tipis. “Mungkin. Tapi apa kamu nggak mikir kalau itu menyakiti orang lain? Atau mungkin, menyakiti diri sendiri?”

Aldo tidak menjawab. Pertanyaan itu menempel di pikirannya lebih lama dari yang ia duga.

Hari demi hari, interaksi kecil antara Aldo dan Nisa semakin sering terjadi. Dari obrolan singkat di kantin hingga pertemuan tak sengaja di perpustakaan, Aldo mulai merasa ada yang berbeda. Nisa bukan hanya sekadar perempuan pendiam yang suka membaca. Dia seperti cermin yang memaksa Aldo melihat sisi dirinya yang selama ini ia abaikan.

Suatu sore, saat mereka duduk di bangku taman, Aldo akhirnya membuka diri. “Lo tahu kenapa gue suka tawuran?”

Nisa menoleh, menunggu penjelasan.

“Karena itu cara gue ngelampiasin semuanya. Gue capek di rumah. Bokap nggak pernah pulang, nyokap kerja banting tulang. Tawuran itu pelarian gue,” kata Aldo, suaranya serak.

Nisa menatapnya dengan lembut. “Tapi apa itu benar-benar ngebantu lo? Atau cuma bikin lo makin jauh dari hal-hal yang penting?”

Aldo terdiam. Untuk pertama kalinya, dia mempertanyakan tujuannya.

Hari itu menjadi titik balik. Aldo mulai menghindari ajakan teman-temannya untuk tawuran. Bima dan yang lainnya menganggapnya lelucon. “Lo kenapa, Do? Gara-gara cewek?

Jangan lembek, dong!”Namun, Aldo tetap pada pendiriannya. Dia mulai mencoba mencari cara lain untuk mengisi waktunya. Dia bergabung dengan klub olahraga di kampus, mencoba melampiaskan adrenalinnya melalui pertandingan futsal. Meski awalnya sulit, Aldo merasa perubahan kecil ini memberinya ruang untuk bernapas.

Di sisi lain, hubungan Aldo dengan Nisa semakin dekat. Nisa mengajaknya melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Mereka sering berdiskusi tentang banyak hal – dari psikologi, kehidupan, hingga mimpi-mimpi yang ingin mereka kejar.

Namun, perubahan tidak selalu mulus. Suatu malam, Aldo mendapat telepon dari Bima. “Do, anak teknik nyari ribut. Mereka ngancam bakal nyerang kita kalau lo nggak dateng.”

Aldo menggenggam ponselnya dengan erat. Dilema melanda. Dia tahu ini bukan lagi dunianya, tapi dia juga merasa bertanggung jawab terhadap teman-temannya.

“Gue udah keluar dari semua ini, Bim,” jawab Aldo tegas.

“Lo serius ninggalin kita? Setelah semua yang kita lalui?” suara Bima terdengar kecewa.

Aldo hanya terdiam. Dia tahu ini keputusan yang sulit, tapi dia juga tahu apa yang benar.

Pagi berikutnya, Aldo menemui Nisa di taman kampus. Dia menceritakan semuanya, tentang telepon dari Bima dan pergulatan batinnya.

Nisa mendengarkan dengan sabar.

“Do, perubahan itu nggak gampang. Tapi kalau kamu tahu apa yang kamu lakukan itu benar, tetaplah bertahan. Kamu udah jauh lebih baik dari yang dulu. Jangan biarkan masa lalu menarikmu kembali.”

Kata-kata Nisa menjadi peneguh hati Aldo. Dia sadar bahwa hidupnya tak lagi untuk jalanan. Ada jalan lain yang lebih bermakna, jalan yang sedang ia tapaki bersama Nisa.

Bulan demi bulan berlalu, Aldo semakin mantap dengan hidup barunya. Dia mulai fokus pada kuliahnya, bahkan sempat membantu ibunya di rumah. Tawuran kini hanya menjadi bagian dari masa lalunya, sesuatu yang dia pandang sebagai pelajaran.

Suatu sore, saat matahari hampir tenggelam, Aldo dan Nisa duduk di tepi kampus, memandangi langit yang berwarna jingga.

“Terima kasih, Nis,” ujar Aldo tiba-tiba.“Untuk apa?” tanya Nisa, tersenyum heran.

“Untuk ngasih gue jalan pulang,” jawab Aldo sambil menatap ke depan, penuh keyakinan bahwa hidupnya kini berada di arah yang benar. (Ivo E Lumbantoruan)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *