ILUSTRASI Cerpen “Didikan Keluarga”. (FOTO : Pinterest.com)
Kulit memerah di sekujur tubuh, dia selalu memegangi leher dan punggungnya yang sangat panas. “Panas kak, tadi sudah mandi tapi tetap panas, aku ngak tahan kak” katanya sambil dengan kedua tangannya yang masih bergantian memegangi tubuhnya yang memerah bak kepiting rebus. Dia adalah Gino, anak yang tetangga kami yang belakangan ini sering datang ke rumah dan kami menjadi akrab layaknya kakak adik.
Sore ini, dia datang ke rumah dengan terisak. “Kamu kenapa Gino, itu badannya kenapa merah-merah?” tanyaku sambil memutar badan dan mengangkat dagu Gino. “Mamah kak, dia oleskan cabe ke leher dan punggung Gino kak, lihat ini, tadi aku sudah mandi tapi tetap panas” katanya dengan mempraktikkan tindakan mamanya kepadanya. Memang Gino sering mendapat kekerasan di rumahnya, dan dia sering menceritakan perlakuan orang tuanya kepada ku. Orang tuanya mengajarinya dengan hal-hal keras dan menyiksa. Bagiku, hal itu tidak pantas dilakukan untuk anak yang masih baru beranjak delapan tahun itu. Memang Gino, adalah anak yang super aktif dan sedikit ngeyel. Tapi entah mengapa, ketika dia datang ke rumah dengan keadaan seperti itu aku merasa tidak terima, seolah-olah Gino adalah adik kandungku dan sedang diperlakukan tidak baik oleh orang lain.
“Sini Gino, kita pakai air es aja biar dingin” kataku dan merangkulnya menuju dapur. Mamah yang sedang sibuk di dapur mempersiapkan makan malam menyadari kedatangan kami. “Sudah ada teman akrab sekarang ya Han” kata mama. “Mah, lihat ini Gino badanya dikasih cabe. Dia kepanasan mah, gara-gara mamahnya” kataku kepada mama berharap mama segera membantunya. “Ya ampun, kenapa bisa kaya gini nak. Coba pakai air es nih. Kamu kompres Hann, kasihan sekali kamu nak” kata mama seraya memberikan baskom berisi air dan potongan es serta kain yang biasa kami gunakan untuk mengompres ketika demam.
Setelah mengompres Gino dengan air es, dan dia merasa badannya sudah tidak panas lagi, kami mengajaknya untuk ikut makan bersama. Entah mengapa aku merasa sangat dekat dengan Dia. Aku anak tunggal yang terbiasa bermain hanya sendiri ketika aku sedang di rumah, sampai sekarang usia ku beranjak 20 tahun. Bertemu dan dekat dengan Gino serasa aku memiliki adik kecil baru. Aku bahkan menyuapinya, dan bercanda bersamanya. Setelah selesai, aku membujuknya untuk pulang karena dia takut untuk pulang. “Gino, kalau ada apa-apa, datang ke rumah kakak aja yah. Kamu jangan nangis lagi, nurut sama mamah dan papa ya” kataku sebelum akhirnya aku pulang.
Setelah sampai di rumah aku melihat papa dan mama ada di sofa sedang menonton tv. Aku langsung menghampiri mereka dan berbaring di antara mama dan papa. Kepalaku di pangkuan mama dan kakiku diangkat papa ke atas pangkuannya. “Mah, kenapa ya Gino mendapat perlakukan seperti itu dari orang tuanya. Padahal papa dan mamanya hampir tidak punya waktu dengannya. Kata Gino, orang tuanya selalu sibuk, dan ada waktu pun hanya digunakan untuk menghukum anaknya” kataku dengan menuturkan apa yang sedari tadi bergejolak di kepalaku. “Yah, kita tidak tahu apa yang menjadi alasan utamanya kan. Tapi dari cerita kamu, kemungkinan Gino itu butuh perhatian dari orang tuanya, butuh disayang dan butuh kasih sayang lebih. Tapi sifat manjanya mungkin tidak di waktu yang tepat. Dan itu bukan sepenuhnya salahnya Gino, dia masih kecil dan belum mengerti itu. Seharusnya orang tua yang harus mengerti kondisi anaknya” Kata mama menjelaskan dengan nada seperti seorang psikolog anak. “Tapi intinya itu pasti memberi pengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan mentalnya Gino.” Tambah papa. Aku langsung terbayang dengan masa kecilku sampai usiaku yang sekarang, rasa-rasanya papa dan mama tidak pernah berbuat sekasar itu. Aku merasa sangat beruntung, diajar dan didik dengan cara seperti ini. Mungkin setiap orang tua memiliki cara mengajar dan mendidik anaknya dan pasti tujuannya hanyalah membuat anaknya lebih patuh dan untuk membentuk pribadi anak menjadi lebih bertanggung jawab ke depannya. Namun, banyak orang tua yang tidak memperhatikan dan mengevaluasi tindakannya, apa dampak dari setiap caranya mengajar dan mendidik anaknya. Bahkan tuntutan ekonomi dan masalah orang tua lainya juga dapat mempengaruhi perkembangan mental seorang anak.
“Pa, Ma terima kasih banyak ya, sudah menciptakan kedamaian dan tempat paling nyaman untuk ku yaitu keluarga ini. Terima kasih mama dan papa tidak berhenti mengajari dan mendidik Hanna sampai menjadi sebesar ini dan pastinya dengan cara yang sabar dan lembut” kataku dengan mata berlinang memandang mamah dan papah. “Kamu itu adalah titipan dari Tuhan anugerah terbesar dalam hidup papa dan mama, kami bertanggung jawab sepenuhnya akan kamu nak” Kata papah dan mendekat, merangkul aku dan mama. “Semoga keluarga kita tetap hangat seperti ini selamanya” kata mama.
(Happy Simamora)
