Categories Cerpen Rehat

Huruf-huruf Pengubah Takdir

ILUSTRASI Cerpen “Huruf-huruf Pengubah Takdir”. (FOTO : CiciAI.com)

Huruf-huruf Pengubah Takdir Lembayung pagi menyinari langkah kaki gadis muda dengan rambut hitam legam sebahu itu, perlahan langkah kakinya menapak dengan pasti menuju pasar tradisional untuk menjual barang dagangannya. Ia Luna, seorang gadis yang berumur sekitar 17 tahun berambut panjang sebahu dengan mata coklat cerahnya, bertubuh tinggi dan kulit yang berwarna agak kecokelatan. Pagi ini Luna yang menjual kue-kue buatan ibunya ke pasar, biasanya Luna dan ibunya bergantian untuk berjualan dipasar. Saat hari sekolah, ibu Luna lah yang berjualan di pasar dan ketika hari minggu atau hari libur Luna yang berjualan.

“mari bu, mari pak..kuenya masih hangat dan enak loh…”, teriaknya untuk menggoda para pelanggan. Berjualan kue adalah sumber penghasilan utama Luna dan ibunya untuk hidup sehari-hari setelah ayahnya pergi meninggalkan mereka entah kemana.

“eh Luna, ibu udah lama loh ndak liat Luna. Keman aja toh? Ibu beli kue bolu yang ini 2 ya”, seorang ibu paruh baya yang mungkin seumuran dengan ibunya datang dengan ramah menyapa Luna.

“hehe..iya bu, Luna kan sekolah. Nah ini lagi libur jadi Luna deh yang jualan, ini Luna bungkus ya bu”, tukasnya dengan senyum semanis mungkin.

Luna dan ibunya cukup terkenal dikalangan pedagang dan pembeli dipasar karena kue yang mereka jual sangat beragam, cantik dan tentu enak rasanya yang membuat banyak orang menggemarinya baik pedagang dipasar atau para pembeli dipasar itu, selain itu Luna dan ibunya pun sangat ramah kepada banyak orang tanpa pandang bulu, mereka juga sangat sering membantu anak-anak jalanan dengan memberikan kue pada mereka.

“yauwes, ibu pulang dulu ya. Ini uangnya, kembaliannya disimpan aja ya Lun”

“wahh..terimakasih banyak ya bu” Hari semakin sore, matahari mulai tertutupi oleh awan yang bergantungan di langit hingga mencipratkan cahaya oranye yang merebak keseluruh penjuru pasar.

Dagangan Luna kali ini habis lebih cepat dari biasanya, namun Luna belum ingin pulang kerumah dan berniat menyusuri pasar dan membelikan beberapa jajanan dari pasar untuk ibunya. Dikemasinya barang barang yang akan ia bawa pulang seperti keranjang, toples dan lain sebagainya lalu ia dengan cepat melesat menyusuri lorong lorong pasar yang cukup panjang itu.

Pasar Rakyat Desa Giri merupakan jenis pasar terbuka yang penjualnya masih menggunakan tenda tenda jadi cahaya matahari sangat mudah menelusuri pojok pasar. Sore itu Luna menyusuri pasar dengan menikmati pemandangan yang sangat beragam dirasanya. Ia menoleh kekiri dan kekanan untuk melihat lihat apa yang bisa dibelinya untuk ibunya.

Sampai tibalah ia di suatu lorong yang sepanjang jalannya berisi toko yang terlihat sudah sangat tua. Hatinya yang penasaran memasuki lorong tersebut dan menemukan suatu toko buku tua dengan banner tua diatasnya bertuliskan “Pustaka Warna Warni”.

“Permisi…saya mau lihat lihat bukunya boleh?”, suara Luna seharusnya cukup kuat untuk memanggil seseorang dari dalam toko yang tidak terlalu besar itu, namun tak ada tanda tanda seseorang akan keluar dari sana. Jadi Luna memutuskan untuk masuk saja dalam harapan akan menenemukan penjaga toko itu didalam.

“halo..apa ada orang?saya mau beli bukunya..”, sambungnya lagi sambil berjalan menyusuri tumpukan buku tua didalamnya, namun sepertinya tidak ada orang disana.

Dan Bruk..

Kakinya menyenggol salah satu tumpukan buku tua sampai membuatnya jatuh berantakan. Dengan cepat ia jongkok dan memberesi ulahnya yang ceroboh sambil bergumam

“aduh, aduh kenapa aku ceroboh sekali, begini saja sampai jatuh”. Ketika ingin berdiri, betapa kagetnya ia melihat ada sepasang sepatu didepannya yang dikenakan oleh seorang pria tua.

“astaga..maaf kan saya ya pak, saya tidak sengaja”

“kamu mau apa kesini?”, tanya pria tua itu, ia tampak seperti berumur 60an tahun, ia berkacamata dan memakai pakaian bahan rajut seperti model pakaian orang eropa era 80-90an.

“eummm..saya hanya mau melihat lihat buku pak, saya sangat suka membaca. Nanti jika harga bukunya murah, saya akan beli”, seperti biasa, senyum indah selalu terukir dibibirnya untuk siapapun.

“baiklah kalau begitu, lihat dan bacalah sesukamu, jika ingin kau bisa membawanya”

“hah?yang benar pak?wah..terimakasih banyak pak”, tukas Luna kegirangan sampai ia memeluk pria tua itu dan tanpa sadar membuat pria tua itu merasakan kehangatan dari seseorang yang berharga. Selama ini Luna hanya bisa membaca diperpustakaan sekolah namun tidak bisa membeli buku untuk dibaca dengan puas, itu semua karena keterbatasan ekonominya. Luna seorang gadis yang bercita-cita menjadi seorang Psikolog, ia banyak membaca buku tentang filosofi atau tentang cara berpikir manusia.

“ya ya baiklah, duduklah disebelah sana”, sahut pria tua itu sambil menunjukkan kursi dipojok toko. Satu jam berlalu, hari semakin sore dan matahari semakin masuk ke ufuk barat. Luna telah selesai membaca mungkin setengah dari salah satu buku yang diambilnya. Dengan senyum sumringah ia kembali ke tumpukan buku untuk mengambil satu buku lagi.

“Pak, aku boleh membawa dua buku ini?aku akan mengembalikan satu besok dan satunya lagi lusa”

“bawalah, oh iya berapa umurmu?biasanya anak anak sepertimu tidak gemar membaca, karna itulah jarang sekali ada yang mengunjungi toko ini sampai menjadi sangat tua seperti ini”

“umurku 17 tahun pak, aku sangat suka membaca karna aku memiliki cita-cita yang tinggi pak. Tapi ibuku tidak bisa membelikanku banyak buku karna tidak ada uang”, wajah Luna berubah menjadi lesu dan terlihat sedih.

“saat umur segitu putriku juga sangat senang membaca, namun ia telah pergi sangat jauh untuk mengejar cita-citanya. Hm..bacalah buku ini, ini buku favorit putriku dulu. Mungkin kau akan mendapatkan sesuatu dari buku itu”, pria tua itu memberikan sebuah buku tambahan lagi ketangan Luna.

Huruf-Huruf Pengubah Takdir, begitulah judul buku itu yang dibaca pelan oleh Luna,

“baiklah pak, terimakasih banyak, aku akan pulang dulu, aku berutang budi padamu”, sore itu bak hari keberuntungan bagi Luna, ia mendapatkan kesempatan untuk membaca bahkan memiliki buku lebih banyak dan ia bertemu seseorang yang baik padanya.

Sesampainya dirumah, Luna menunjukan semua buku yang ia bawa pada ibunya dan menceritakan yang terjadi ditoko itu.

“Luna, belajarlah dengan baik ya. Jangan buat bapak itu kecewa karna ia telah baik memberikanmu sumber ilmu yang tak terbatas ini”, tutur ibunya dengan sangat lembut sembari menatap wajah indah putri sematawayangnya itu.

“iya bu, aku akan berusaha mencapai cita-citaku dan akan sangat berterimakasih pada bapak itu tadi”.

Awal mula yang sangat baik untuk perjalanan hidup Luna menuju cita-citanya. Ia semakin sering datang ketoko itu untuk membaca atau mengambil berbagai buku dari sana. Pria tua itu turut senang dengan keberadaan Luna di toko tuanya, Luna membuat pria itu merasa seperti sedang bersama putrinya yang sudah 10 tahun berada di Italia sebagai seorang dokter. Sangat menyedihkan memang berpisah dengan orang yang sangat kita cintai demi kebaikannya. Luna dan pria tua itu pun semakin akrab dan sering bertukar cerita tentang kehidupan yang mereka jalani.

Suatu hari dimalam hari, Luna sedang membaca buku seperti biasanya tiba tiba ia mendapati sebuah amplop di pertengahan halaman buku yang ia baca. Dibukanya amplop itu dan berisi dua carik kertas, dibacanya dahulu kertas yang ukurannya lebih besar. Ternyata berisi surat undangan untuk kuliah dengan jurusan Psikologis di salah satu universitas ternama di Indonesia, matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang ia baca. Di kertas itu tertera namanya sebagai calon mahasiswa jurusan Psikologi dan yang lebih gilanya lagi ia menjadi penerima beasiswa untuk kuliah di universitas tersebut selama empat tahaun penuh.

“ibu..ibu…lihat ini, Luna bisa kuliah bu..Luna bisa kuliah”, teriaknya kegirangan menuju dapur unutuk memberitahu ibunya berita bahagia itu. “ha? ya Tuhan..akhirnya anak ku bisa mewujudkan mimpinya, selamat ya nak, tapi gimana bisa?”.

Sontak senyum Luna berubah menjadi wajah penuh tanda tanya, ia kembali kekamarnya untuk melihat isi amplop itu lagi dan berharap ada petunjuk didalamnya, dan benar saja ada secarik kertas lain di atas buku itu yang tadi sudah dikeluarkan Luna dari dalam amplop. Ia membukanya dan perlahan membacanya.

“ Luna, ini dari bapak pemilik toko Pustaka Warna Warni. Bapak tau kamu anak yang pintar dan rajin karna itu bapak mendaftarkan kamu di universitas Impian kamu dan jurusan Impian kamu. Jangan khawatir akan apapun, tugasmu hanyalah belajar yang rajin sampai bisa mewujudkan cita-citamu yang besar itu.

Aku menyayangimu seperti aku menyayangi putriku sendiri, aku akan menutup toko itu karena aku akan tinggal, bersama putriku di Italia. Semoga kamu menemukan tempat yang baru untuk terus membaca ya. Sampai jumpa di waktu terbaik Luna. Namun jika kamu merindukan semua buku di toko, pergilah kesana. kunci toko ada didalam vas bunga abu-abu. Salamku untukmu Luna”

Seketika itu juga, airmata yang dari tadi berlinang di pelupuk matanya akhirnya terjatuh membasahi pipi lembut Luna. Berulang ia membaca surat itu, semakin deras airmatanya yang tak bisa terbendung lagi.

Luna melihat kearah jam dinding dikamarnya, jam menunjukan pukul 08.00 malam, luna mengusap airmatanya dan berlari keluar dengan membawa surat itu ditangannya. Tiap jalan ditapakinya dengan cepat hingga ia sampai di toko buku, ia melihat toko itu hanya diterangi dengan lampu seadanya. Ia dengan sangat buru-buru mencari kunci di vas bunga abu-abu dekat pintu sesuai yang tertulis di surat itu. Namun ia tidak mendapatkan apapun disana, airmatanya semakin deras membasahi pipinya, dan tiba-tiba terdengar suara berat dibelakangnya.

“Luna, kenapa kau menangis?”, seorang pria tua berdiri disana bersama seorang wanita memegangi tangan pria itu. Melihat pemandangan itu, luna langsung berlari dan memeluk pria itu sepertia ia melihat keajaiban.

“kenapa bapak meinggalkanku?apa kau sengaja mengirimku ke universitas ternama lalu akan meinggalkanku?”, isak tangis Luna semakin menjadi jadi dan pelukannya semkin erat seperti orang yang tak rela berpisah.

“sudah lah Luna, aku tidak meninggalkanmu. Aku hanya pergi sebentar bersama dengan putriku ini. Aku akan kembali. Aku harus melihatmu menjadi orang yang sukses ya, bahagiakan ibumu”, pria tua itu mengusap airmata yang mengalir deras di pipi Luna

“aku ingin berpamitan padamu, jaga dirimu baik baik ya. Ini kunci toko ini, berkelanalah menuju cita-citamu. Sampai jumpa Luna”, lanjutnya lagi dan kemudian ia berbalik dan meninggalkan Luna di lorong itu. Ternyata airmatanya pun tak terbendung, airmatanya turun saat ia meninggalkan Luna.

“aku akan sangat merindukanmu, aku berjanji padamu akan menjadi orang yang sukses. Terimakasih tuan Peter”, Luna meneriakkan kalimat itu dengan lantang saat pria itu pergi menjauh darinya.

Airmatanya masih deras namun mulai dari itu, ia bertekad akan kembali menjadi orang sukses yang bisa membahagiakan ibunya, dan akan membuka banyak toko buku diseluruh penjuru negri ini.

(Cinthya Agatha)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *