ILUSTRASI Puisi “Tentang Hujan”. (FOTO : Pinterest.com)
Rindu dalam Hujan
Rintik hujan jatuh pelan,
Menyusup di antara kenangan,
Membawa harum wangi tanah basah,
Seperti dirimu yang datang tanpa disangka.
Angin menyapu daun-daun gugur,
Hati terasa makin hambar dan kabur,
Seolah hujan menabur rindu,
Pada waktu yang tak pernah berlalu.
Hujan di Jendela
Titik-titik air menghias kaca,
Jendela jadi kanvas tanpa warna,
Setiap rintik menyimpan cerita,
Tentang senyum dan luka yang tiba-tiba.
Di balik tirai, aku mengintip,
Seperti mengintai mimpi yang redup,
Hujan tak henti melukis pagi,
Menjadi puisi tanpa janji.
Pelukan Hujan
Di tengah derasnya hujan,
Ada kehangatan yang samar terpendam,
Bukan dari sinar matahari,
Tapi dari hati yang sunyi.
Setiap tetes adalah bisikan,
Tentang waktu yang ingin dipeluk pelan,
Hujan tak sekadar dingin,
Ia mengantar rindu yang tak terbilang.
Hujan di Kota
Kota tenggelam dalam suara rintik,
Asap dan debu tercuci bersih,
Lampu jalan berkedip, basah terbalut,
Seperti malam yang meluruhkan peluh.
Di sela-sela gedung tinggi,
Hujan menciptakan simfoni sepi,
Orang-orang bergegas dengan payung,
Namun, aku diam di sini,
menunggu terang
(Valentina Ginting)
