Categories Cerpen Rehat

Keterbukaan Keluarga

ILUSTRASI Cerpen “Keterbukaan Keluarga” (FOTO: pinterest.com)

            Tengah malam dengan lampu tidur yang remang-remang, aku terbangun dan semakin gelisah. Aku sebenarnya tidak bisa tidur, aku hanya mencoba menutup mata dan bersembunyi di dalam selimut, namun  sia-sia aku semakin gelisah. Aku terbayang bayang dengan hasil ujian yang aku terima sore tadi. Semakin kecewa, karena semua teman dekatku mendapat hasil yang memuaskan, mereka berhasil masuk di kampus impian mereka. Rasanya semua perjuanganku meningkatkan nilai mulai dari awal masuk di sekolahku yang sekarang hanya sia-sia dan tidak ada harganya. Aku tidak berani menceritakannya kepada ayah dan ibu bahkan kepada abangku.

            Hari ini adalah hari minggu, biasanya minggu pagi kami berkumpul di taman belakang untuk bercerita sebelum berangkat ibadah. Namun, aku malas dan hanya berbaring memandangi langit-langit kamarku yang tidak ada corak hanya warna putih bersih. Abang berkali-kali mengetuk pintu kamarku, karena biasanya aku yang paling bersemangat untuk bercerita dan membuatkan cemilan. Aku takut bercerita kepada orang tuaku ataupun abang, aku merasa mengecewakan mereka dan pasti mereka malu. Beberapa hari aku mencoba untuk menghindari diskusi dengan keluarga, namun sepertinya mereka tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu dari mereka.

            Aku juga melewatkan makan malam, walaupun sudah berkali-kali dipanggil oleh ayah untuk makan bersama. Tiba-tiba ayah mengetuk pintu dengan lembut. “Nak, tolong buka pintunya, ayah mau bicara sebentar, nak, kamu belum tidur kan?” tanya ayah dengan lembut. Aku membuka pintu dan ayah segera masuk serta duduk di atas kasurku. Aku duduk di bangku belajarku di samping kasurku. “Ayah, merasa ada kamu menghindar beberapa hari ini, kamu lagi ada masalah nak? Tanya ayah dengan tatapan lembutnya. “Tidak ayah, mungkin hanya sedikit pusing jadi lebih sering di kamar” jawabku untuk menutupi masalah yang terjadi. “Ayah mengenalmu nak dari kamu lahir sampai kamu berusia 18 tahun sudah beranjak dewasa, apa putri ayah sudah ada masalah dengan cowok?” tanya ayah dengan nada bercanda. “Tidak ayah, aku baik-baik aja ayah.”

            “Lalu, kenapa kamu murung, ada masalah apa nak, kamu tidak seperti biasanya ceria, suka cerita hal sekecil apapun, ayolah cerita ke ayah. Hal yang kamu harus tahu, mungkin ayah dan ibumu sering sibuk dengan pekerjaan, namun kamu harus tetap terbuka dengan ayah dan ibu atau abangmu” tutur ayah dengan nada lembut. Aku sebenarnya ingin tetap menyembunyikan masalah yang se dang aku hadapi tapi rasanya aku pun tak bisa sendirian menghadapinya. Aku juga butuh tempat untuk bercerita, dan butuh saran dari orang-orang terdekatku. Mungkin, aku hanya butuh waktu sendiri kemudian harus ayah dan ibu untuk bercerita.

            “Ayah, sebenarnya aku ada masalah, ta..tapi aku takut ayah akan marah dan kecewa” kataku dengan nada parau. Ditengah-tengah percakapan aku dengan ayah, ibu masuk ke kamarku dengan pelan. “ayo nak, apa pun masalahmu kamu harus berani bicara dan cerita kepada ayah dan ibumu,” kata ayah sambil menggeser tempat duduk untuk ibu yang baru datang. Aku memandangi wajah ayah dan ibu yang menunggu aku bercerita.

            “Aku tidak lolos ujian masuk perguruan tinggi kemarin” kataku sambil menahan isak tangis. “Kapan pengumumannya nak? bagaimana dengan teman-temanmu yang lain?” Aku diam sejenak sampai ibu datang menghampiriku di kursi belajar. “Hari sabtu kemarin ayah, semua teman-temanku lolos ayah.” Tiba-tiba ibu memelukku “Sudah lah nak, jangan sedih kamu harus tetap semangat masih ada banyak jalur masuk yang harus kamu coba” kata ibu sambil menepuk-nepuk bahuku. “Ayah dan ibu tidak kecewa? Kalian tidak marah kepadaku?” tanyaku. “kami tidak pernah marah dan kecewa nak, apa pun hasilnya kami tetap bangga dengan putri ayah satu-satunya. Jangan takut cerita semua masalahmu ya nak. Nanti kit acari tempat kamu les persiapan masuk perguruan tinggi nak. Ayah yakin kamu pasti bisa, ayah juga tahu kalau kamu itu anak yang gigih untuk mencapai cita-citamu. Kamu harus selalu semangat ya nak” kata ayah. Aku hanya mangguk-mangguk. Kini aku sadar, ternyata keluarga, ayah, ibu adalah tempat ternyaman untuk bercerita sesulit apa pun keadaan yang kita hadapi.

(Happy Simamora)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *