ILUSTRASI Cerpen ” Salahkah Aku?” (FOTO: Pinterest.com)
Danau toba telah menjadi saksi bahawa benar hatiku telah terjatuh padamu kala bertemu pertama kali, bergema suaramu saat itu hingga saat ini sedikitpu tak ada yang terlupa. Sesekali kupandang belakang punggungmu yang telah menggenggam tangan pilihanmu itu.
Aku Lia yang sempat bertemu dan jatuh hati kepada seorang pria bernama Satria. Waktu begitu cepat berlalu, rindu yang menghantui kini tengglam oleh perjalanan. Aku melangkah memebuka hati menerima cinta baru, tak kusangka kian aku bahagia sampai lupa tentang Satria yang pernah memebuatku jatuh dalam hati. Malam berganti malam ingatanpun sejenak lupa akan tentang dirimu yang dulu menghatui, walau nyatanya selalu menanti hari itu akan kembali.
Kini aku mengerti akan rasa cinta tak harus memiliki. Sering aku melawan kenyataan bahwa aku begitu merindu dan ingin dia menjadi milikku. Kenyataan sakit ini selalu menghantui saat kulihat kau genggam tangan gadis lain. Salahkah aku mencintai mu walau kau punya perempuan lain, dimana nyatanya pula aku terlebih dalu menaruh hati padamu dibanding pilihan mu itu!.
Waktu yang kian terus mengalir, memebawa aku dan Satria bertemu kembali setelah hampir satu tahun aku tak tahu kabar mu baagaimana. Pertemuan ini membuat kita bergabung di suatu wadah organisasi yang akan merekrut kembali para anggota kala itu.
Saat berda didekatmu dan menatapmu, segala memori yang terukir indah tentangmu kembali menjelma sebagai persaan yang amat ingun aku ungkapkan. Sikap mu yang cuek sangat menggangu pikiranku dan menantang hati ku untuk bercanda gurau denganmu, namun saat itu aku melihatnya sedang bersandar di daun pintu sambil melamun, dengan sigap aku mencoba bertanya padamu dengan dalil bertanya mengapa kamu murung.
“Satt, mengapa kamu tampak gelisah…”
“Ehh, hay lia aku tidak apa-apa…” sambil tersenyum.
Tak kusangka dia memebalas pertannyanku dan memebrikan senyuman padaku, sungguh senang hati, ingin aku melompat saat itu. Sejak saat itu aku mulai memberanikan diri untuk akrab dengan Satria.
Dengan malu-malu aku langsung meninggalkannya, karena tak tahan dengan senyumnya. Hari demi hari sampailah di penghujung pengrekrutan anggota yang mana akhirnya akan dilaksanakan di Danau toba selama tiga hari.
“Sat, kamu kenapa akhir-akhir ini tampak murung, seperti tidak semangat, bukankan hari ini seharusnya kamu bahagia karena banyak anggota yang ingin bergabung”
“Aku aku aku, sebenarnya aku sedang bertengkar dengan kekasihku”
(Dalam hati aku merasa senang karena bisa menjadi peluang buat aku bisa menjadi kekasihnya.)
“Kenapa, coba cerita, seenganya kamu bisa lega”
“Aku tak mengerti, benar aku memeng membohongi kekasihku, dia marah, kukira dia ingin mengkhiri hubungan kami, makannya aku menghilang selama dua hari, ternyata dia tidak ingin mengakhiri, kami sepakat untuk memperbaiki hubungan kami”
“lalu…” (Raut wajah yang penasaran)
“Aku merasa ada yang hilang setelah kami berbaikan, perasaanku bertengkar dengan pikiranku, aku sangat menyayanginya namun aku merasa tidak bisa lanjut lagi denganya”
“Yasudah, kamu harus tegas apabila ingin lanjut, fokuskan hatimu, namauan apabila ingin berhenti, putuskan dia, jangan siksa dirimu”
“Aku bingung, di satu sisi dia sudah sangat baik bisa memaafkanku dari kebohonganku, namun satu sisi aku juga ingin melepasnya karena persaanku sudah memudar”
“Ikuti hatimu” (Sambil beranjak meninggalkan Satria sendiri)
Sejak saat itu selama tiga hari di kegiatan, aku sering menghabiskan waktu bersama Satria, dari memasak, mencuci piri sampai makan bersama. Banyak hal yang kami ceritakan, sejenak aku juga melupakan pasanganku sendiri saat itu, tak tahu kenapa aku sungguh bahagia pada saat itu. Suatu ketika saat istirahat sambil memandang Danau toba, aku memeberitahu isi hatiku selama satu tahun yang terpendam padanya dengan nada becanda, dalam hatiku seengganya aku memberitahu isi hatiku yang kian lama terperangkap dalam hati. Satria terdiam, walau jantungku sudah berdetak lebih kencang karena takut malu sendiri.
“Benarkah perasaanmu itu atau hanya sekedar bercanda lia…” (Menatap mataku)
“Ya..ya..ya..” (Melangkah ingin meningalkan tempat itu karena aku udah terlebih dahulu malu)
“Tunggu..” (Menarik tangan kiriku, Jantungku sungguh tidak karuan)
“Aku juga merasa nyaman bersamamu lia…”
Usai saat itu sampai kegiatan selesai aku selalu berda di sampingnya, malu dengan teman-teman yang lain, karena kenyataannya kami berdua mempunyai pasangan masing-masing, namun dengan membuang opini orang terhadap kami, kami berdua selalu bersama-sama kemanapun dan dimanapun.
Sepulang kegiatan tersebut, aku dan Satria sepakat untuk mengakhiri hungungan dengan pasangan kami masing-masing, setelah itu kami kembali bersama dan menjalani hubungan selayaknya pasangan yang kasmaran. Lega hati ini bercampur bahagia, karena perasaan yang aku pendam selama satu tahun ternyata tidak sia-sia, dia yang sangat kucintai juga mencintaiku.
Satria kini menjadi kekasihku, kemesraan kami tidak lupa kami umbar di media sosial, dengan tidak memerdulikan apa kata orang terhadap kami. Aku sangat bangga terhadap kekasihku karena dia sangat totalitas sekali mencintaiku. Aku tidak tahu bagaimana persaannya dengan mantan kekasihnya yang baru tiga hari lalu putus denganya dan langsung menjalin hubungan denganku, namun satu sisi lain aku sudah tidak peduli dengan itu karena aku juga sangat bahagia karena mememang aku sudah lama menyimpan perasaan padanya dan sudah lama ingin menjadi kekasihnya.
Siapapun yang menjadi maslalu kekasihku saat ini, terimaksih telah melepasnya. Aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu yang baru dan kami disini juga akan bahagia, aku tak tahu apakah masalalu pasanganku membenciku atau tidak, namun salahkah aku berbahagia dengan pilihan hati ku?.
(Sapna Nainggolan)
