Categories Cerpen

Tangis untuk Don

DON sudah meninggal.

Ya. Berita tersebut benar. Dita, teman kuliah yang juga teman kontrakanku memberitahukannya lewat tadi pagi. Sungguh, aku tidak terlalu terkejut mendengar berita kepergian kekasihku itu selama-lamanya. Firasat burukku sudah ada sejak mendengar Don akan mendaki gunung di tengah cuaca buruk beberapa minggu terakhir. 

Dari informasi yang dimuat di surat kabar, cuaca buruk kerap memunculkan kabut dan longsor yang membahayakan keselamatan pendaki. Dan, kemarin malam, cuaca buruk yang lebih parah dari hari sebelumnya terjadi di sekitar gunung. Sejumlah pendaki disebut mengalami musibah longsor. 

Sebenarnya aku bukan tidak melarang Don pergi ke gunung. Saat dia izin ke kontrakanku dua hari lalu, aku mati-matian meyakinkannya kalau kondisi cuaca di sekitar gunung sangat tidak bersahabat. Tapi keinginannya untuk mendaki gunung di tengah libur semester mematahkankan semua laranganku. 

“Kamu janganlah pergi. Cuacanya sedang tak baik,” kataku.

“Nggak begitu buruk kok, cuacanya sudah mendingan sekarang,” katanya sambil merapikan isi ranselnya di teras kontrakanku. Sebelum berangkat mendaki, Don singgah ke kontrakanku, sekadar untuk permisi.

“Tapi Don, aku…” 

“Khawatir? Biasa itu. Namanya juga pacar. Pasti khawatirkan kalau pacarnya pergi,” katanya sambil tersenyum.

“Aku serius,” tekanan suaraku mulai meninggi.

“Sudahlah, Zia. Aku pergi dulu, ya. Jangan lupa aku pulang tiga hari lagi,” katanya sambil berlalu dari hadapanku. 

***

DON memang hobi mendaki gunung. Statusnya yang juga menjadi anggota sebuah kelompok pencinta alam di kampus membuatnya semakin bersemangat mewujudkan hobinya. Setiap libur semester atau ketika tak ada perkulihan, Don menyempatkan waktu mendaki gunung. Aku dan Dita juga pernah diajak. Puncaknya, ketika kami sedang mengikuti kegiatan kampus di Mataram tahun lalu, kami menyempatkan mendaki Gunung Rinjani.

Aku tak pernah mempermasalahkan hobinya itu. Aku hanya  memintanya jangan pergi, ketika cuaca sedang buruk. Tapi begitulah Don. Terkadang, semangatnya yang menggebu-gebu telah mengalahkan rasa khawatirku. 

Dan yang aku khawatirkan pun terjadi. Don sudah meninggal. Dan tiba-tiba, aku dialiri rasa benci yang maha hebat kepada Don karena sikap bebalnya itu. Akupun berjanji tak akan memaafkannya apalagi sampai menangis pada saat penguburannya. 

Siangnya, Dita mengajakku untuk melayat ke rumah Don. Dua jam lagi jenazah Don akan dikuburkan. Aku memakai pakaian serba hitam. Aku pandangi jenazah Don yang terbujur kaku di dalam peti peti mati berwarna putih, warna kesukaannya.

Aku ikut mengantarkan Don ke tempat peristirahatannya yang abadi. Aku ikut menggenggam segumpalan tanah merah dan membuangnya ke liang kubur, dan disusul dengan aneka kembang dengan wanginya yang amat khas. Selama proses penguburan tadi, tak sedikit pun aku menampakkan raut wajah sedih. Aku pun tak menangis seperti janjiku tadi pagi.

***

MALAMNYA, Don datang menjumpaiku saat aku sedang mengerjakan tugas kuliah. Dengan santainya dia duduk di tepi tempat tidurku. Meskipun tak melihatnya, tapi aku tahu kalau dia sedang memandangiku membaca buku. Aku tak kuat, kupandangi juga wajahnya dalam-dalam, Wajahnya masih saja seperti dulu. Rambutnya yang hitam dan mata beloknya yang teduh. Dia memandangiku dan tersenyum. Nampaklah barisan gigi putihnya yang rapi dan bersih.

“Ngapain kamu datang,” ucapku ketus

“Hanya ingin mengunjungimu, aku kangen,” 

Aku mencibir. “Kamu jahat dan tega sekali.”

Don hanya tertawa kecil.

“Andai saja kamu tidak pergi, andai saja kamu mendengar saranku, andai saja kamu tidak nekat.”

“Berhentilah mencari kesalahanku, Zia. Itu tidak baik.”

Aku mencibir sekali lagi. “Pergilah Don. Aku mau belajar. Besok aku ujian di kampus.”

Don pergi.

***

SUASANA Kantin Balsem tidak terlalu ramai siang ini. Hanya ada beberapa mahasiswa yang makan bakso di kantin ini. Kulihat ponselku, masih pukul satu siang. Ada waktu satu jam lagi sebelum mata kuliah Metode Penelitian dimulai. 

Bagiku dan Don, Kantin Balsem ini bukan sekadar tempat makan. Aku, Don, Dita dan teman-teman kuliah kerap menjadikan kantin ini sebagai tempat kumpul alternatif setelah kontrakanku. Sesekali kami makan bersama, mengerjakan tugas atau membuat janji bertemu di kantin ini. Aku dan Don juga resmi jadian di kantin ini. 

Semula, kami penasaran juga mengapa kantin yang berjarak sekitar 100 meter dari perpustakaan ini dinamakan Balsem. Penasaran kami akhirnya berakhir ketika si pengelola kantin menyebut bahwa Balsem itu adalah kependekan dari Balik Semak-semak. Memang lokasi Kantin Balsem ini cukup tersembunyi, banyak dikelilingi pohon-pohon pendek dan rumput ilalang. Kalau pemotong rumput telat memotong, maka ilalangnya semakin tinggi.

Bakso pesananku sudah datang. Kusantap perlahan demi perlahan. Tapi aku terkejut bukan main, ketika mengetahui Don sudah duduk di depanku. Aku berhenti makan.

“Maaf mengagetkanmu sayang,” katanya dan kemudian tersenyum. Kembali kulihat barisan gigi putihnya yang rapi dan bersih itu. 

“Buat apa lagi kamu datang,” kataku ketus.

“Aku ingin melihatmu menangis,” kata Dion.

“Pentingkah,” tanyaku.

“Iyalah, aku kan mantan kekasihmu. Kamu tidak sedih aku pergi untuk selama-lamanya,” tanyanya. 

“Untuk apa aku sedih, karena kamu sendiri yang membuat kamu pergi. Aku sudah melarangmu pergi, tetapi kenapa pergi juga?” tanyaku sewot.

“Zia, berhentilah mencari-cari kesalahanku. Akupun tak menginginkannya terjadi padaku,” katanya.

Don berusaha meraih tanganku. Tapi aku menepis tangannya. Tepisan itu membuat segelas teh tarik yang kupesan tumpah. Aku melotot ke arahnya. Secepatnya kutinggalkan Don dan menuju kelas.

***

MALAMNYA, Don datang lagi menjumpaiku. Tiba-tiba saja dia sudah duduk di ujung tempat tidurku. Aku yang sedang membaca novel sambil lesehan di tempat tidur langsung terbangun. Aku mendekat ke ujung tempat tidur. Ku dekatkan wajahku ke wajahnya. Mata kami pun saling bertatapan. “Untuk  apa kamu datang lagi. Mengganggu belajarku atau menumpahkan teh tarik ku lagi,” tanyaku.

“Aku akan terus datang jika kamu belum menerima dengan baik kepergianku.”

“Lalu?” tanyaku memburu. Aku menjauhkan wajahku dari wajahnya. 

“Aku ingin melihatmu menangis.”

Aku diam dan tak menanggapi permintaan Don. Namun, kulihat kejujuran yang tulus dari permintaannya itu. Tapi entah kenapa, tak sedikitpun aku memperlihatkan raut muka sedih, apalagi sampai menangis seperti yang dia minta. 

“Tri,” panggilnya dengan suara lirih. Panggilan lirih seperti ini sangat kukenal. Kalau kami sedang marahan atau berselisih paham, panggilan lirih ini dia ucapkan untuk membujukku. 

“Aku tahu kamu masih marah dengan kepergianku ini. Tapi siapa yang bisa menolak takdir. Aku tahu, kamu begini karena belum siap menerima kepergian kekasihmu yang tampan ini kan?” katanya dan kemudian tertawa.

“Hei, kamu tahu apa dengan perasaanku,” hardikku.

“Aku tahu itu, Zia. Aku memang tak bisa melihat kesedihan di wajahmu, tapi aku bisa merasakan kesedihan di hatimu. Kita kan sepasang kekasih. Aku bisa rasakan itu,” katanya dan kembali tertawa. Kali ini dengan tawa yang lebih keras.

Kali ini aku diam.

“Aku pergi karena memang sudah saatnya aku pergi. Aku menemuimu dua kali, tapi kamu malah mencari-cari kesalahanku. Jujur, aku pun tak menginginkan kejadian ini terjadi padaku dan aku tak bisa menolaknya, termasuk kamu. Tapi aku bisa memakluminya, Karena kamu teramat mencintaiku bukan?”

Aku masih diam. Kupandangi dia. Dia tersenyum dengan indahnya. Dia menggenggam tanganku. “Jangan menyalahkan aku dan terimalah kejadian ini. Aku ingin melihat kamu menangis. Jangan membohongi dirimu sendiri. Menangislah, aku ingin melihatmu menangis, sama seperti perempuan lain yang menangis saat ditinggalkan kekasihnya yang tampan.”

Don tersenyum semakin lebar dan nampaklah kembali barisan gigi putihnya yang rapi dan bersih. Don kemudian pergi. 

Aku kembali sendiri. Aku menoleh ke arah meja belajar. Kupandangi foto kami berdua saat mendaki di Gunung Rinjani tahun lalu. Kekasihku itu memang sudah pergi untuk selamanya. Tiba-tiba aku merasakan sedih yang teramat dalam. Kuambil foto itu, kupandangi beberapa saat. Aku pun menangis untuk pertama kalinya sejak kepergiannya satu bulan lalu. 

***

PAGINYA aku bangun dengan mata yang sembab. Sepertinya aku terlalu lama menangis semalam. Namun demikian, aku merasakan tubuhku begitu bersemangat. Aku kembali memandangi foto kami dan semakin sedih ketika menyadari Don telah pergi untuk selamanya. 

Aku memang sedih, tapi aku pun menyadari bahwa Don bukan untukku, juga bukan untuk siapa-siapa. Karena itu, kurelakan Don kembali ke tempat dari mana dia berasal. Aku tak akan menyalahkan Don lagi, karena aku pun tahu, Don tak menginginkan kepergian ini terjadi padanya.

Aku keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi. Kulihat Dita yang juga akan berangkat ke kampus. “Kamu rapi sekali, Zia. Mau kemana?” tanya Dita.

Aku tersenyum. “Aku mau ke makam Don.” (Truly Okto Purba)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *